Sunday, April 28, 2019

Makalah Seni Tari

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalh ini dengan baik. Dalam makalah ini saya ingin berbagi ilmu mengenai seni tari dapat meningkatkan keterampiln gerak pada Anak Usia Dini. Bentuk lain dari gerakan kreatif adalah menari. Menari , berarti anak telah terampil dalam bergerak dan melalui menari anak telah menemukan dan mengenali dirinya serta bermakna dalam kehidupan mereka. Dengan menari, banyak kemampuan yang dapat diperoleh anak, seperti : anak belajar cara baru untuk berpikir, misalnya ketika mereka menari, anak harus menghafal gerakan, harus menghafal desain lantai yang bervariasi dan harus mampu mendengar iringan music, serta menyesuaikan iringan dengan gerakannya. Dan memberikan kebiasaan berpikir melalui pemecahan masalah secara kreatif, anak berpikir level analisa, dan melatih anak mengintegrasikan belajar secara fisik dengan pemahaman. Kemampuan lain adalah ketika anak dihadapkan pada permasalahan gerak kreatif, dimana mereka dilibatkan secara aktif dalam memilih gerakan, maka secara langsung mereka belajar berpikir dalam realitas gerakan yang sebenarnya.
Mengajarkan tari bagi anak usia dini memerlukan perhatian guru, karena anak usia dini belum memiliki  kemampuan mengonsepkan proses menari yang bersifat abstrak. Mereka pada umumnya belajar menari menggunakan fisik, pengalama kesadaran sensori kognitif, kesadaran motorik serta untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan pemahamannya tentang dunia. Mengajarkan tari bagi anak usia dini berarti memberikan multi perspektif, memberikan pengalaman dasr kepada ank untuk mengembangkan keterampilanmenarinya dan sebagai cara bagi mereka untuk memahami kehidupan dan realitas. Melalui tarian, anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, mempersatukan dan mendemonstrasikan pengetahuan mereka dengan cara koreografi. Untuk menggabungkan keterampilan tersebut, dapat kita ajarkan melalui gerakan kretif, yaitu dengan latihan peregangan otot-otot terlebih dahulu sebelum mereka menjelajahi dunia tarian.Latihan tersebut bukan saja untuk aktivitas gerak, tetapi juga mengenalkan unsur-unsur tari.Unsur tersebut seperti waktu, ruang, bentuk dan tenaga.
Perkembangan motoric dan keterampilan gerak anak usia dini mengalami masa-masa perkembangan yang berbeda-beda. Pada usia 3-4 tahun, anak mulai memiliki kemampuan penelolaan tubuhna dan keterampilan dasar seperti keterampilan berpindah tempat (lokomotor), gerak statis di tempat (non-lokomotor) dan gerak memakai anggota badan  (manipulatif). Karakteristik anak usia dini selalu ingin bergerak, tampil dan aktif. Mereka berlari semata-mata karena menyukai dan menikmati lari itu.Keaktifan merupakan bagian dari hidup anak-anak.Oleh karenanya sebagai guru, kita harus memfasilitasi keinginan anak untuk menggerakan tubuh mereka yang lincah dan menarik.Melalui kegiatan menari disekolah, diharapkan dapat memuaskan keinginan mereka untuk bergerak secara kreatif dan menyenangkan.
Struktur tari anak usia dini meliputi aspek : struktur gerak, struktur irama, dan struktur ekspresi.
B.      Tujuan permasalahan
Adapun tujuan permasalahan karya tulis ini yaitu memenuhi tugas dari dosen seni tari. Manfaat yang dapat diperoleh oleh penyusun melalui makalah ini dapat dimanfaatkan sebagi salh satu acuan dalam membuat makalh berikutnya, sehingga dalam penyusunan karya tulis yang akan datang hal-hal yag sudah baik ditingkatkan dan  yang salah diperbaiki serta menambah wawasan kami mengenai seni tari.





BAB II
PEMBAHASAN
A.     Keterampilan Gerak Anak Usia Dini
Keterampilan gerak sebagai keterampilan dasr adalh bentuk keterampilan yang bermanfaat dan dibutuhkan anak dalam kehidupannya sehari-hari.Keterampilan ini penting untuk anak-anak dan berfungsi dalam lingkungannya. Keterampilan bersifat teknis dapat dilakukan sebagai gerakan kreatif dengan memadukan keterampilan berikut :
1.      Keterampilan lokomotor, yaitu keterampilan yang digunakan untuk menggerakan atau memindahkan posisi tubuh dari satu tempat ketempat yang lainnya. Termasuk kedalam keterampilan ini adalah berjalan, berlari, melompat, hop (jingkat), berderap, mendorong dan lain-lain. Keterampilan ini sangat mudah dilaukan anak karena mereka senang bergerak dan berjalan atau berlari. Guru dapat memodifikasi gerak-gerak lokomotor ini secara kreatif menggunakan tema.
2.      Keterampilan non-lokomotor, yaitu keterampilan di tempat yang dilakukan tanpa memindahkan tubuh dari satu tempat ketempat yang lain. Melakukan gerak membungkuk tanpa memindahkan tubuhnya dari tempat anak berdiri. Keterampilan non-lokomotor ini melalui kegiatan : membengkokan tubuh, metentangkan tangan, memilin, memutar, mengayun, menggoyang, mengangkat, mendorong, menarik, memantulkan, merendahkan tubuh dan lain-lain. Contohnya anak secara berpasangan melakukan gerak membungkuk tanpa berpindah tempat, kemudian mereka dilanjutkan dengan gerak merentangan tangan, bias divariasi sambil di ayun-ayun kekanan kekiri. Latihan ini diulanh-ulang denan iringan musik.
3.      Keterampilan Manipulatif, yaitu keterampilan yang melibatkan kemampuan anak untuk menggunakan bagian-bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki untuk memanipulasi benda diluar dirinya. Di dalam tarian, keterampilan ini melibatkan koordinasi mata-tangan serta mata-kaki seperti gerak tepuk tangan, melambaikan benda (bendera atau selendang) serta melempar benda keatas lalu ditangkapnya dan sebagainya.
Melalui keterampilan gerak lokomotor, gerak non-lokomotor maupun gerak manipulative anak mendapat kesempatan untuk belajar menggabungkan dan mendemonstrasikannya dengan cara koreografi. Mintalah anak menari dalam tempo atau kecepatan berbeda-beda, misalnya : menggunakan gerakan lokomotif seperti : gerak menyorong pelan sambil melangkah santai, gerak melompat cepat atau melopat pelan. Pilihan music untuk mengiringi gerakan-gerkan tersebut disesuaikan dengan kecepatan gerak yang berbeda, atau mainkan alat music pukul pada kecepatan yang berbeda pula.
Dari keterampilan ini mintalah anak untuk menggunakan gerak tubuhnya menciptakan dan menjelajahi tempat yang kecil, besar, tinggi, bahkan rendah.Kita dapat mengajak anak untuk membayangkan ketika mereka menjelajahi gua denagn jalan yang sempit sekali, gua besar atap-atap tinggi dan terusan rendah.Pilihlah instrument music atau suara-suara yang dapat digunakan sebagai efek suara untuk merangsang inspirasi mereka ketika bergerak menempati ruang atau sekedar menggerakan tubuhnya.
Saat musik atau alat musik pukul dibunyikan, mintalah anak mengawali gerakannya dengan mengikuti arus musik, lalu dengan bergoncang dan akhirnya dengan gerakan yang lembut. Atau dalam sebuah lingkaran misalnya, dimana setiap anak dapat saling melihat satu  sama lain, masing-masing anak secara bergantian sebagai pemimpin tarian. Siapa yang menjadi pemimpin tarian memilih sebuah gerakan tari yang sederhana yang mereka sukai dan mendemonstrasikannya.Kemudian anak-anak lainnya menirukan gerakan spontan koreografernya.
Contoh lain, pilihlah aksi-aksi yang berhubungan dengan bidang pengembangan yang diajarkan, seperti : peminjaman, penjelajahan, atau pencarian. Gunakan sebagian atau seluruh gerakan untuk mengubah aksi menjadi gerak tari kreatif yang memiliki tenaga, ruang dan waktu.Atau keterampilan gerak kreaktif dapat dirangkai dengan bidang pengembangan bahasa misalnya, kita dapat memilih cerita-cerita untuk diubah kedalam tari.Musiknya dipilih atau gunakan ketukan alat musik pukul untuk digunakan oleh anak.Atau minta anak merangkai ejaan dari kata-kata mereka selama satu minggi kedalam koreografi.
Mintalah anak menari dalam tempo atau kecepatan berbeda-beda, misalnya : menggunakan lokomotif gerakan-gerakan seperti menyorong pelan dan langkah santai, melompat cepat atau melompat pelan. Pilihlah music untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut yang kecepatannya berbeda, atau mainkan alat musik pukul pada kecepatan yang berbeda pula.Dari keterampilan ini mintalah anak menggunakan gerak tubuhnya menciptakan dan menjelajahi tempat yang kecil, besar, tinggi, bahkan rendah.Kita dapat mengajak anak untuk membayangkan ketika mereka menjelajahi gua dengan jalan yang sempit sekali, gua besar, atap-atap tinggi dan etrsusun rendah.Pilihlah instrument musik atau suara-suara yang dapat di gunakan sebagai efek suara untuk merangsang inspirasi mereka ketikan bergerak menempati ruang atau sekedar menggerakan tubuhnya.
Sacara teknis banyak gerakan tariyang tampak parallel (berjalan sejajar) dengan irama musiknya, misalnya ketukannya dan cepat-lambat atau temponya. Jika irama dan tempo musiknya cocok, anak akan menari bukan saja merasa sesuai, bahkan akan merasa terbantu atau terdorong dalam menarikannya. Irama musik dalam hal ini mempermudah atau memperlanar aliran gerak, dan membangkitkan semangat menarikan tarinya. Sebaliknya, music yang tidak cocok, umpamanya tempo yang terlalu lambat ataupun terlalu sepat, dan gairah yang lemah, akan menyulitkan anak dalam bergerak. Irama music yang cocok, juga akan mendukung atau mempertegas gerakannya, sehingga gerak-gerak itu Nampak lebih hidup dan ekspretif. Dengan kata lain, irama music mendukung anak menari menempati ruang, waktu dan tenaga.
B.      Struktur Gerak
Yulianti Parani setidaknya membagi gerak menjadi 10 (sepuluh) pola pengembangan. Kesepuluh pola pengembangan gerak itu adalah :
1.      Gerak sebagai akibat kesadaran dari tubuh atau anggota tubuh.
Artinya, gerak yang dilakukan secara sadar karena akan membutuhkan untuk melakukan gerak itu sendiri dengan harapan meningkatkan keluwesan penggunaannya.
Contoh : berjalan, melompat, berlari berjingkat.
2.      Gerak sebagai akibat kesadaran waktu dan kekuatan atau daya.
Gerak-gerak yang dilakukan akan mempunyai perbedaan antara satu gerak dengan gerak lainnya. Ini disebabkan setiap gerak yang dilakukan akan berkaitan erat dengan waktu dan kekuatan.
Contoh : gerak bergantian (canon).
3.      Gerak sebagai akibat kesadaran ruang.
Ini berarti gerak yang dilakukan membentuk dan sekaligus mengisi ruang yang tersedia.
Contoh : kedua tangan di rentang kemudian berjalan atau berlari seperti menirukan pesawat terbang.
4.      Gerak sebagai akibat kesadaran pengaliran berat badan dalam ruang dan waktu.
Artinya, gerak yang dilakukan akan berkaitan erat dengan keseimbangan berat badan yang diinginkan, apakah gerak itu mengalir, berkesinambungan dalam bingkai ruang dan waktu.
Contoh :lompat katak, berjingkat.
5.      Gerak sebagai akibat kesadaran kelompok dan formasi berkelompok berdua, bertiga dan seterusnya.
Ini berarti gerak yang dilakukan secara berkelompok memerlukan kesadaran dari setiap individu untuk mampu bekerja sama dengan baik dan benar.
Contoh : gerak bercermin, dan orang saling berhadapan dan menirukan gerakan yang dilakukan oleh orang didepannya.
6.      Gerak sebagai akibat penggunaan daya kekuatan yang ebrsumber pada lengan dan tangan.
Artinya, lengan dan tangan merupakan titik pusat untuk melakukan gerak.
Contoh : mengembangkan tangan seperti gerakan terbang tetapi diam ditempat.
7.      Gerak sebagai akibat irama (ritme) yang bersifat fungsional.
Artinya, gerak-gerak yang dilakukan keseharian diberi irama atau ritme sehingga gerak tersebut tidak lagi merupakan gerak fungsional semata.
Contoh : jalan atau langkah ganda (jalan atau step)
8.      Gerak sebagai akibat bentuk-bentuk tertentu didalam tubuh.
Contoh : membentuk lingkaran denagn bergandengan tangan, membentuk garis lurus dengan duduk berjajar.
9.      Gerak sebagai akibat rasa ringan, sehingga ingin lepas dari lantai.
Contoh : melompat, meloncat, berlari kemudian melompat.
10.  Gerak yang dituntut oleh kualitas ekspresif.
Ini berarti gerak yang dilakukan tidak hanya menunjuk pada gerak fungsional semata dalam bingkai ruang, waktu dan tenaga, tetapi juga gerak tersebut menunjukan pada ekspresi yang hendak disampaikan kepada orang lain.
Contoh : mimic sedih dengan  kedua tangan bersedekap, mimik riang dengan kedua tangan direntangkan sambil berlari-lari kecil.
Gerak didalam tari hasil dari pengembangan ragam geraktersebut.Pengembangan disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan dalam penyusunan sebuah karya tari. Dengan demikian pada hakekatnya semua orang mampu mengembangkan pola gerak sesuai dengan tingkat usia. Semakin dewasa seseorang, maka akan semakin kompleks tingkat pengembangan pola geraknya. Sebaliknya, untuk usia anak-anak terlebih anak usia dini, maka gerak yang dikembangkan tentunya sesuai dengan kemampuannya, atau lebih muda dan tidak rumit, dan pola pengembangan geraknya pun dilakukan dengan materi dasar gerak keseharian, seperti melompat, berlari atau berjalan.
Gendhon Humardani menyatakan bahwa menurut sifatnya, gerak tubuh manusia dapat digolongkan kedalam berbagai bentuk gerak, antara lain :
1.      Gerak aktif, adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu, yang dilakuakan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Apabila tidak untuk kebutuhan praktis maka gerak-gerak aktif ini pada hakikatnya adalah alat ekspresi, yaitu alat untuk mengungkapkan rasa dan maksud. Gerak yang termasuk dalam gerak aktif adalah gerak-gerak yang sering dilakukan dalam keseharian.
2.      Gerak kata, adalah gerak-gerak aktif yang ditujukan untuk menceritakan sesuatu maksud. Dalam gerak kata ini selain menyajikan bentuk tertentu, juga berlangsung dalam waktu tertentu, dilakukan dengan kadar keluasan (volume) dan kekerasan (penekanan) tertentu pula. Selain dengan gerak, pengungkapannya juga dengan kata-kata untuk memperjelas maksud yang ingin dicapai.
3.      Gerak bagian, adalah bagian dari “gerak kata” Apabila gerak kata itu diandaikan sebagai suatu kalimat, maka gerak bagian merupakan suku-suku katanya. Pengertian gerak bagian tersebut bukanlah gerak dalam arti sesungguhnya, melainkan merupakan sikap tubuh yang tidak bergerak sebagai bagian dari kesatuan gerak kata seluruhnya.
4.      Gerak kata baru, adalah merupakan pengolahan dan penyempurnaan dari gerak bagian. Letak perbedaannya adalah gerak ini telah melalui proses pentempurnaan bentuk yang diselaraskan dengan tempo, volume, tekanan, irama,serta ritme tertentu.
5.      Gerak indah, adalah merupakan penyempurnaan dari gerak kata baru yang tidak mempunyai arti apa-apa, hanya rasa keindahan belaka yang dimunculkan. Gerak tari merupakan pengembangan dari gerak bagian, gerak kata yang sudah disempurnakan menjadi bentuk gerak yang ditarikan. Gerak ini disajikan dalam bentuk tempo, volume, tekanan,irama, dan ritme tertentu sehingga susunan gerak semacam ini disebut dengan tari.
6.      Gerak praktis, adalah suatu gerak yang mengandung kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pada gerak paktis ini dapat menjadi gerk tari jika telah disempurnakan dengan pemberian ritme, penekanan, volume, tempo serta irama.
Selanjutnya Gendhon mengatakan bahwa gerak sebagai ungkapan bahasa komunikasi tidak akan mempunyai makna jika tidak ada tempo, volume, ritme serta irama. Ini mempunyai arti, seseorang yang melakukan gerak tari seharusnya mempunyai kecerdasan linguistic memadai.Dengan demikian bahasa gerak yang ingin disampaikan kepada orang laindapat dimengerti dengan baik.Setidaknya seseorang tersebut mampu memahami bahasa gerak yang terkandung didalam tari.
Untuk dapat mencapai komunikasi bahasa gerak denagn baik, gerak memerlukan beberapa factor dalam gerak. Sal Murgiyanto menyatakan bahwa setidaknya erdapat tiga factor dalam melakukan gerak,yaitu tenaga, ruang dan waktu. Ketiga unsur ini merupakan satu kekuatan yang tidak dapat dipisahkan dalam gerak tari.Ketiganya saling menjasi sebab akibat dalam komposisi tari serta merupakan kekuatan untuk mencapai dinamika.
C.      Struktur Musik/Iringan.
Didalam tari selain gerak juga terdapat irama atau ritme.Irama atau ritme ini dalam tari dikenal dalam iringan.Iringan tari setidaknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu iringan internal dan iringan eksternal.Iringan internal merupakan iringan tari yang berasal dari dalam diri penari itu sendiri.Jenis iringan ini dapat berupakan ketukan/hitungan tepukan, teriakan atau permainan alat music yang dibawa oleh penari.Sedangkan iringan eksternal merupakan iringan tari yang ebrasal dari luar diri penari. Jenis iringan ini dapat berupa kaset, atau seperangkat alat music yang dimainkan oleh orang lain ( bukan penari ).
Musik dan gerak tari merupakan sesuatu inheren dan kohesitasnya tinggi.Setiap gerak yang dilakuakan pastilah mempunyai ritme dan irama yang merupakan unsur dasar dari music.Ritme dalam iringan tari untuk menunjukan panjang pendek ketukan yang digunakan.Sedangkan irama menunjukan keajegan ketukan.Doris Humprey menyatakan bahwa tari bukanlah seni yang berdiri sendiri.Ia bagaikan seorang putri selalu membutuhkan pasangan simpatik, bukan “yang dipertuan” yakni music. Ini artinya antara tari dengan music mempunyai kedudukan yang sejajar.Keduanya saling mengisi dan memberi makna.Keduanya tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah.
Antara tari dengan music keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipishkan. Doubler menyatakan bahwa musik telah menjadi  tergabung dengan gerak. Dan adanya dorongan dinamik susunan ritmisnya, disamping kualitas-kualitas melodi dan harmoninya, maka musik adalah satu yang terpenting dari semua fatner tari.Musik didalam tari merupakan sesuatu yang melekat dan mempunyai peran penting.Didalam tari pasti terdapat musik, walaupun didalam musik belum tentu ada tari.Kompleksitas inilah yang kemudian tari berhubungan dengan berbagai disiplin ilmu dalam praktiknya.
Kohesitas ini menjadikan music dan tari saling mempengaruhi. Smith menyatakan bahwa musik tidak saja mendikte macam tari, tetapi juga suasana, gaya, panjang/lamanya pembabakan, intensitas dan bentuk keseluruhan oleh karena itu musik memiliki struktur kerangka kerja untuk tari. Struktur kerja music untuk tari meliputi aspek : ritme, irama, dan ekspresi. Bila music dipakai sebagai pengiring maka tari tidak dapat tercipta tanpa music. Dengan demikian kemampuan atau musikalitas seseorang juga akan menentukan kualitas gerak tari yang dilakukan.
Untuk dapat memahami dan melakukan gerak tari, selain dibutuhkan kemampuan kinestetik juga kemampuan musical.Kedua kemampuan ini saling berkait dan berhubungan dengan penampilan tari. Dengan kata lain, didalam tari selain dibutuhkan kecerdasan kinestetik, juga dibutuhkan kecerdasan music. Sebab kedua kecerdasan ini melekat satu sama lain. Keduanya mempunyai kedudukan sama penting dan sejajar, tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada yang lebih tinggi.
D.     Struktur Ekspresi.
Tari merupakan bahas gerak yang ingin dikomunikasikan kepada setiap orang. Sebagai salah satu bentuk bahasa, maka ekspresi penyampai menjadi kunci keberhasilan pesan tersebut dimegerti oleh orang lain. Pelaku tari dalam menyampaikan pesan tidak hanya melalui ekspresi bahasa gerak, tetapi juga perubahan roman muka.Dengan demikian antara ekspresi gerak, music, keindahan, dan ekspresi wajah merupakan satu kesatuan totalitas yang harus dimiliki oleh seorang pelaku tari. Suryobrongto menyatakan bahea :Ekspresi muka harus seimbang dengan ekspresi gerakannya. Keduanya harus diatur oleh jiwa. Jiwalah yang akan menentukan “intensiteit “ dari ekspresi itu. Tanpa pengisian jiwa, tari akan kurang hidup, koson, tanpa “diepte”, dangkal, tidak bergaya (stijloos) dan tanpa karakter (karakterloos).
Jadi seorang pelaku tari tidak hanya mampu melakuakn gerak semata, tetapi juga dibutuhkan olah keterampilan menjiwai gerak tersebut.Penjiwaan pun harus datang dari dalam dirinya sendiri, buakan karena paksaan. Dengan demikian tari akan tampak hidup dan menyatu dengan pelakunya. Untuk mencapai tingkatan penjiwaan yang dalam, tentu membutuhkan keterampilan interpersonal memadai.
Seseorang yang mempunyai kemampuan interpersonal yang memadai akan menjadi pelaku tari yang baik. Edi Sedyawati katakana bahwa rasa indah yang dihayati kemudian tidak semata-mata tumbuh dari hubungan kepatutan antara bentuk dan perwatakan tetapi juga dari kekuatan-kekuatan ragam-ragam gerak sebagai perwujudan citra-citr abstrak.
Seorang pelaku tari perlu melakukan latihan-latihan penghayatan sehingga mampu menampilkan perwatakan tari dengan baik. Tari tidak hanya hadir dalam bentuk citra abstrak semata, tetapi mempunyai daya hidup dan makna yang disampaikan dapat dietrima oleh orang lain dengan baik.
Dari penjelasan ini kekuatan ekspresi seseorang mempunyi peran penting dalam tari.Pelaku tari harus memiliki kemampuan mengolah jiwa untuk kemudian dileburkan dalam tari, untuk kemudian diekpresikan melalui bahasa gerak dan perubahan roman muka.Untuk memiliki itu semua dibutuhkan kecerdasan interpersonal yang memadai. Hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan interpersonal baik, maka akan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain, menunjukan sikap ekspresif dengan sekelilingnya.










BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.      KESIMPULAN.
Dengan menari, anak akan memiliki multi kemampuan yaitu : belajar cara berpikir melalui pemecahan masalah secara kreatif, anak berpikir level analisa, melati mengintegrasikan fisik dengan pemahaman, serta memiliki keterampilan memilih gerakan dan belajar berpikir dalam realitas gerak yang sebenarnya.
Anak usia dini belum memiliki kemampuan mengonsepkan proses menari yang bersifat abstrak. Mereka belajar menari semata menggunakan fisik dan pengalaman kesadaran sensori kognitif dan kesadaran motoric untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan pemahamannya tentang dunia. Mengajarkan tari bagi anak usia dini berarti memberikan kemampuan multi perspektif, memberikan paengalaman dasar. Melalui tarian, anak memiliki kesempatan untuk belajar mempersatukan dan mendemonstrasikan pengetahuan mereka dengan cara koreografi.
Perkembangan motorik dan keterampilan gerak pada anak usia 3-4 tahun, memiliki kemampuan pengelolaan tubuhnya dan keterampilan dasar seperti keterampilan berpindah tempat (lokomotor), gerak statis di tempat (non-lokomotor) dan gerk memakai anggota badan (manipulatif). Karakteristik anak usia dini selalu ingin bergerak, tampil dan aktif.
Gendhon Humardani menyatakan bahwa bentuk lahir “tari” adalah gerak tubuh manusia. Menurut sifatnya, gerak tubuh manusia dapat digolongkan kedalam berbagai bentuk gerak, antara lain : gerak aktif, gerak kata, gerak bagian, gerak kata baru, gerak indah, gerak tari dan gerak praktis.
Ada dua jenis stimulan dalam menciptakan gerak tari, yaitu stimulan audio dan visual.Ada empat tahapan dalam penciptaan tari, yaitu eksplorasi, improvisasi, inkubasi/evaluasi, dan hasil/komposisi tari.
B.      SARAN.
Berdasarkan kesimpulan dan uraian makalah maka diberikan saran sebagai berikut :
1.      Guru di taman kanak-kanak diharapkan dapat menambah wawasan tentang keterampilan gerak tari khususnya pada anak usia dini.
Guru di taman kanak-kanak diharapkan dapat mempraktekan suatu tari dengan berbagai gerak didalam kegiatan pembelajaran dengan berbagai metode yang sesuai dengan anak usia dini, seperti bermain karena bermain merupakan salah satu cara belajar yang tepat bagi ank usia dini dan sesuai dengan konsep pembelajaran pada pendidikan anak usia dini.

Makalah Seni Tari Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dunia pendidikan saat ini begitu mudah terpengaruh, oleh monolitisme/rasio modern–kapitalistik, yang menempatkan materi sebagai justifikasi dan kaukus orientasinya, sehingga wajah dunia pendidikan telah sedemikian jauh tereduksi maknanya dari konsep pendidikan sebagai proses humanisasi (Freire 1973) menjadi semata-mata persoalan teknis dan administratif yang tersubordinasikan ke dalam mainstream kapitalisme maupun jargon developmentalism. Ekspansi kapital dan industri telah memaksa institusi pendidikan menyesuaikan diri dengan “kebutuhan pasar” yang akibatnya adalah proses pendidikan tidak lagi diselenggarakan dalam nuansa intens yang penuh kedalaman makna (in depth quality), melainkan cenderung parsial dan dangkal, semata-mata agar match dengan kebutuhan dan instrumen pasar.
Bidang kajian yang menjanjikan muatan makna yang mendekatkan pada segmentasi pasar, kemudian menjadi primadona dan seolah-olah segala-galanya, dan sebaliknya pendidikan yang berdimensikan kekentalan pada nuansa nilai-nilai menjadi marjinal–negasi. Dari sinilah hulu perihal konsep penomorsatuan IQ (Intelectual Quotions) yang kemudian menjadi jargon segala-galanya dalam ekspansi sistem dan kinerja pendidikan menjadi “kegilaan” pada decission maker dan pendidik. Sedangkan pada sisi lain, konsep pendidikan pada dimensi EQ (Emotional Quotions) “diketepikan” dan bahkan nyaris dipersepsi tanpa adanya ikon, kebermaknaan.
Pendidikan dengan dimensi EQ (Emotional Quotions) dapat ditemukan dalam konsep pendidikan seni, termasuk didalamnya seni tari. Pendidikan seni dapat mengolah kecerdasan emosi seorang anak, karena di dalam pendidikan seni mengolah semua bentuk kegiatan tentang aktivitas fisik dan cita rasa keindahan, yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan dasar manusia seperti fisik, perseptual, intelektual, emosional, sosial, kreativitas dan estetik (V. Lownfeld dalam Kamaril 2001: 2-3). Pendidikan seni lebih efektif apabila diberikan sejak anak usia dini, sejalan dengan proses perkembangan intelektual dan emosional anak.
Fenomena tersebut di atas, menarik bagi peneliti untuk melakukan pengkajian lebih mendalam lagi dan menemukan jawaban bagaimana proses peningkatan kecerdasan emosional anak usia dini melalui pendidikan seni tari.

B. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana konsep pendidikan seni tari ?
2.      Bagaimana pengaruh pendidikan seni tari dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak usia dini ?

C. Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui konsep pendidikan seni tari.
2.      Untuk mengetahui pengaruh pendidikan seni tari dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak usia dini.












BAB II
PEMBAHASAN


A. Konsep Pendidikan Seni Tari
Studi terhadap dunia anak yang secara gencar dilakukan pada penghujung abad ke 19 (Mac Donald 1970: 38) menyadarkan orang bahwa anak merupakan pribadi yang unik yang memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda dengan orang dewasa. Salah satu bentuk dan kemampuan anak yang khas tersebut adalah dalam hal mengekspresikan diri.
Disadarinya kebutuhan anak untuk mengekspresikan rasa keindahan, mendorong pendidik untuk menyediakan fasilitas berupa kegiatan yang memungkinkan anak untuk secara lancar dapat mengungkapkan rasa keindahan serta juga dapat mengapresiasikan gejala keindahan yang ada disekelilingnya. Kegiatan untuk memfasilitasi anak dalam diri inilah yang ditawarkan oleh pendidikan seni, khususnya di sekolah. Jelaslah, pendidikan seni dalam konteks ini, hadir untuk memenuhi kebutuhan anak yang azasi yang tidak mampu diemban oleh kegiatan lain.
Pendidikan seni yang diajarkan di sekolah saling berkaitan antara seni suara, gerak, rupa dan drama, karena seni memiliki sifat multilingual, multidimensional dan multikultural. Pendidikan seni dapat mengembangkan kemampuan manusia dalam berkomunikasi secara visual atau rupa, bunyi, gerak dan keterpaduannya (Goldberg 1997: 8). Selain itu, pendidikan seni juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya majemuk (Kamaril 2001: 4).
Pendidikan seni sangat penting diberikan sejak anak usia dini. Perkembangan anak usia dini dapat dibagi menjadi lima fase, yaitu fase orok, fase bayi, fase prasekolah (usia Taman Kanak-Kanak), fase anak sekolah (usia anak Sekolah Dasar) dan fase remaja (Yusuf 2001: 149). Salah satu fase perkembangan yang berlangsung dalam kehidupan anak adalah tahap prasekolah yang berlangsung sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya) (Yusuf 2001: 162-163). Pada masa usia prasekolah ini, berbagai aspek perkembangan anak sedang berada pada keadaan perubahan yang sangat cepat, baik dalam kemampuan fisik, bahasa, kecerdasan, emosi, sosial dan kepribadian.
Perkembangan motorik anak pada usia ini, ditandai dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf otot (neoromuskuler), sehingga memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Dalam masa ini tampak adanya perubahan dalam gerakan yang semula kasar menjadi lebih halus yang memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot yang lebih halus serta terkoordinir. Untuk melatih ketrampilan dan koordinasi gerakan, dapat dilakukan dengan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, kubus-kubus, bola, balok titian, dan tongkat.
Menurut Yusuf (2001: 164), kemampuan motorik anak dapat dideskripsikan sebagai berikut.Kemampuan motorik kasar usia 3-4 tahun adalah naik turun tangga, meloncat dengan dua kaki, melempar bola, meloncat,sedangkan kemampuan motorik halus anak adalah menggunakan krayon, menggunakan benda/alat, menirukan bentuk (gerakan orang lain). Kemampuan motorik kasar anak usia 4-6 tahun adalah mengendarai sepeda anak, menangkap bola, bermain olah raga. Kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun adalah menggunakan pensil, menggambar, memotong dengan gunting, menulis huruf cetak.
Sementara itu, gerakan yang sering dilakukan anak-anak dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu (1) motorik statis, yaitu gerakan tubuh sebagai upaya memperoleh keseimbangan gerak pada saat berjalan, (2) motorik ketangkasan, yaitu gerakan untuk melakukan tindakan yang berwujud ketangkasan dan ketrampilan, (3) motorik penguasaan, yaitu gerak yang dilakukan untuk mengendalikan otot-otot tubuh sehingga ekspresi muka terlihat jelas (Zulkipli 1992 : 32).
James Mark Baldwin (dalam Suryabrata 1993: 182-183) menerangkan, perkembangan sebagai proses sosialisasi dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi. Adaptasi dan seleksi ini berlangsung atas dasar hukum efek (law of effect). Juga tingkah laku pribadi diterangkan sebagai imitasi. Kebiasaan adalah imitasi terhadap diri sendiri, sedangkan adaptasi adalah peniruan terhadap orang lain.
Mengacu pada pendapat tersebut, Baldwin (dalam Suryabrata 1993: 183-184) membagi proses peniruan menjadi tiga tahap, yaitu: (1) tahap proyektif (projective stage) adalah tahap dimana anak mendapatkan kesan mengenai model (obyek) yang ditiru, (2) tahap subyektif (subjective stage) adalah tahap dimana anak cenderung untuk meniru gerakan-gerakan, atau sikap model atau obyeknya, (3) tahap efektif (efective stage) adalah tahap dimana anak telah menguasai hal yang ditirunya, dia dapat mengerti bagaimana orang merasa, berangan-angan, dan berfikir.
John Martin dalam Soedarsono (1978: 1) menyatakan bahwa substansi baku tari adalah gerak dan ritme. Gerak tidak hanya terdapat di dalam denyutan-denyutan seluruh tubuh manusia untuk tetap dapat memungkinkan manusia hidup, tetapi gerak juga terdapat pada ekspresi dari segala pengalaman emosional. Sach dalam Soedarsono (1978: 1) menyatakan bahwa substansi dasar tari adalah gerak, tetapi gerak-gerak yang ada di dalam tari itu bukanlah gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif. Langer (1988: 14) menekankan bentuk ekspresif itu adalah sebuah bentuk yang diciptakan manusia untuk bisa dirasakan (dinikmati dengan rasa).
Pada dasarnya gerak terungkap atau terwujud dengan adanya elemen-elemen dasar dari gerak yang membuat tari dapat menjadi ekspresi seni. Doris Humprey (1983: 23) mengatakan bahwa ruang, waktu dan tenaga adalah elemen-elemen dasar dari gerak. Disamping elemen-elemen dasar gerak, tari juga mengandung nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai keindahan ini terletak pada wiraga, wirama dan wirasa (Rusliana 1984: 14-15).

B. Pendidikan Seni Tari Sebagai Proses Peningkatan Kecerdasan Emosional Anak
Dari sejak awal perihal kehadiran dan keberadaan pendidikan seni (tari) dalam konteks sekolah umum di Indonesia, yang dalam sepanjang sejarahnya sering mengalami perubahan (baca: pembaharuan) nama, paradigmanya lebih diorientasikan dalam perspektif pemaknaan seni sebagai media atau alat pendidikan. Dalam artian, lewat atau melalui kegiatan atau aktivitas berkesenian, diyakini dapat difungsikan sebagai media yang cukup efektif untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan segenap potensi individu secara optimal dalam format kesetimbangan (equilibrium) yang penuh. Disini, yang menjadi orientasi dan stretching point-nya dari pemaknaan aktivitas berkesenian bukan berada pada persoalan produk karya atau hasil, melainkan lebih pada dimensi proses (Goeldberg 1997: 17-20). Proses yang terbingkai dalam makna pendidikan seni, yang lebih dikenal dengan sebutan “pengalaman estetik” (aesthetic experience) menurut pendapat dan hasil penelitian para pakar pendidikan (Plato, Herbert Read, Victor Lowenfeld, Malcom Ross, Elizabeth Hurlock, Ki Hadjar Dewantara), ternyata mempunyai korelasi positif terhadap perkembangan berbagai potensi diri individu, misalnya: imajinasi, intuisi, berpikir, kreativitas, dan juga rasa sensitivitas.
Dalam pandangan psikologi kontemporer tentang belajar (“konstruktivisme”), diisyaratkan bahwa belajar adalah mengkonstruksikan pengetahuan yang terjadi from within. Jadi tidak dengan memompakan pengetahuan itu ke dalam kepala pembelajar, melainkan melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi (two sided experience), untuk memberikan pemahaman dan menyulut minat dalam mengadakan eksplorasi lebih lanjut tentang apa yang ingin dijadikan perolehannya (Buber 1970 dalam Sindhunata 2001). Ini berarti bahwa, penekanan belajar tidak lagi seharusnya pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa menggunakan peralatan mentalnya (otaknya) secara efektif dan efisien, sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan terutama juga oleh keterlibatan emosional dan kreatif.
Daniel Goleman, Ph.D dari Harvard University, melalui hasil action research di dalam bukunya Emotional Intelligence (1995) dan Working with Emotional Intelligence (1999), mengisyaratkan bahwa manusia memiliki dua segi mental, yaitu berasal dari kepala (head) yang cirinya kognitif, dan berasal dari hati sanubarinya (heart), yaitu segi afektifnya. Kehidupan afektif ini sangat mempengaruhi kehidupan kognitif yang dikelola oleh otak, yang memiliki dua belahan (kiri dan kanan) dan disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Berpikir holistik, kreatif, intuitif, imajinatif, dan humanistik merupakan tugas serta ciri dan fungsi belahan otak kanan (right hemisphere), dan berpikir kritis, logis, linier, serta mememorisasi terutama terkait dengan respon, ciri, dan fungsi belahan otak kiri (left hemisphere) (Semiawan 1999).
Pengalaman belajar yang menjanjikan adanya kualitas equilibrium pada pengembangan otak secara optimum, baik pada belahan kiri dan kanan akan memberikan kebebasan aktivitas mental (free mental work) pebelajarnya, dan hal ini kiranya merupakan quality assurancy yang perspektifnya sangat strategis bagi keberadaan individu secara holistik dalam kehidupan dan masyarakatnya. Sebaliknya pembelajaran yang hanya dan terutama membebankan berfungsinya belahan otak kiri, terutama dengan mememorisasi fakta atau rumus tertentu, yang menurut hasil penelitian, diantaranya akan mensupress dirinya–sangat mendorong adanya hostile attitude (sikap permusuhan) (Semiawan 1999). Tindak agresivitas massa dan konflik multidimensional yang menjadi salah satu beban terberat bangsa akhir-akhir ini, adalah salah satu kemungkinan akibat dari kehidupan yang tidak sehat dan terkait erat dengan cara pembelajaran yang salah, sebagaimana diisyaratkan oleh penelitian tersebut.
Namun, jauh sebelum Goleman melakukan penelitiannya itu, Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara bahkan sudah sejak lama menjadikan unsur rasa sebagai poros trilogi pendidikan dalam bentangan pikir (cipta)–rasa– karsa. Ki Hadjar Dewantara secara intens menekankan pentingnya olah rasa disamping olah pikir dan olah raga. Melalui olah rasa inilah akan memekarkan sensitivitas hingga terbentuk manusia-manusia yang berwatak mulia, seperti: terintegrasinya antara pikir, kata, dan laku, sikap jujur, rendah hati, disiplin, setia, menahan diri, bertenggang rasa, penuh perhatian, belas kasih, berani, adil, terbuka, dan sebagainya. Oleh karenanya proses internalisasi atau pengakaran, pengasahan dan pemekaran rasa seyogyanya menjadi concern sejak pendidikan di tingkat dini.
Ketika pendidikan moral dan nilai-nilai yang tersaji dalam format pendidikan agama baik formal maupun informal, ternyata dalam ekspresinya berkecenderungan lebih mengedepankan pengasahan aspek kognitif dan bukannya penajaman dan penghayatan pada dimensi religiousitas, maka sesungguhnya nilai-nilai yang termuat dalam pendidikan yang berbasiskan seni dan sastra merupakan salah satu alternatif oasis. Sayangnya selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian yang besar dalam sistem pendidikan formal, karena para decission maker pendidikan, sampai saat ini begitu gandrung dengan ranah pendidikan yang berbasiskan kemampuan intelektual semata sebagaimana dimaksud diatas.
Pendidikan seni yang pada hakekatnya merupakan pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman apresiasi estetik, disamping mampu memberikan dorongan ber-“ekstasi” lewat seni, juga memberi alternatif pengembangan potensi psikis diri serta dapat berperan sebagai katarsis jiwa yang membebaskan. Ross mengungkapkan bahwa kurikulum pendidikan seni termasuk kurikulum humanistic yang mengutamakan pembinaan kemanusiaan, bukan kurikulum sosial yang mengutamakan hasil praktis (Ross 1983). Sedangkan menurut Read (1970) pendidikan seni lebih berdimensikan sebagai “media pendidikan” yang memberikan serangkaian pengalaman estetik yang sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa individu. Sebab melalui pendidikan ini akan diperoleh internalisasi pengalaman estetik yang berfungsi melatih kepekaan rasa yang tinggi. Dengan kepekaan rasa yang tinggi inilah, nantinya mental anak mudah untuk diisi dengan nilai-nilai religiousitas, budi pekerti atau jenis yang lain. Definisi dan pemaknaan “kearifan” diperlukan syarat-syarat: pengetahuan yang luas (to be learned), kecerdikan (smartness), akal sehat (common sense), tilikan (insight), yaitu mengenali inti dari hal-hal yang diketahui, sikap hati-hati (prodence, discrete), pemahaman terhadap norma-norma dan kebenaran, dan kemampuan mencernakan (to digest) pengalaman hidup (Buchori 2000 dalam Sindhunata 2001: 25). Semua nilai-nilai itu terkandung dengan sarat dalam dimensi pendidikan seni, karena berorientasi pada penekanan proses pengalaman olah rasa dan estetis.
Proses Perubahan Perilaku Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini melalui Pembelajaran Seni Tari
Peningkatan kecerdasan emosional anak usia dini melalui pembelajaran seni tari dapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaan bangga, (2) memiliki sifat pemberani, (3) mampu mengendalikan emosi, (4) mampu mengasah kehalusan budi, (5) mampu menumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu menumbuhkan rasa mandiri, (7) mudah berinteraksi dengan orang lain, (8) memiliki prestasi yang baik, (9) mampu mengembangkan imajinasi, dan (10) menjadi anak yang kreatif.
1. Timbulnya Perasaan Bangga
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat pada saat anak tampil menari dengan ekspresi tersenyum, tenang, dan gembira. Seorang anak membutuhkan kesepakatan pujian dari orang yang dikagumi, dicintai dan dihormatinya. Mendapat pujian dari orang yang dicintai, dikagumi, akan dapat membuat anak menjadi merasa lebih berarti dan berguna. Pujian tersebut bisa berupa kalimat verbal maupun non verbal sebagai pernyataan kekaguman atas diri anak. Pujian yang disampaikan kepada anak akan menimbulkan sugesti positif bagi anak, sehingga anak terpengaruh untuk menjadi lebih tenang, gembira, aman, optimis dan sebagainya.
Perasaan bangga pada anak dapat dilihat melalui penampilan anak dalam melakukan gerakan tari yang selalu disertai dengan senyuman, kelincahan dan kegembiraan. Kemampuan menari dan peningkatan gerak motorik anak dapat menimbulkan perasaan bangga pada anak, yang menunjukkan anak memiliki kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosional anak terbentuk pada saat anak memulai belajar menari dari gerakan awal yang tidak begitu dikuasai, sampai akhirnya menguasai gerakan tari secara keseluruhan.


2) Memiliki Sifat Pemberani
Proses pembelajaran seni tari mengajarkan anak berani bergerak dengan bebas, berani bertanya, berani melakukan perintah gurunya, berani menunjukkan kemampuannya, dan berani untuk tampil di hadapan orang lain. Sikap berani anak ditunjukkan melalui cara anak menari dengan bebas tanpa tekanan, selalu tersenyum, tatapan mata yang penuh percaya diri. Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari sikap pemberani anak dalam menari tersebut tercermin dari sikap anak yang berani untuk bertemu dengan orang lain, berani menjawab pertanyaan orang lain, berani bertanya, berani bermain dengan teman sebayanya, berani berada di lingkungan yang baru dan berani mengikuti perintah guru.
3) Mampu Mengendalikan Emosi
Perilaku anak, baik itu meliputi perilaku yang baik ataupun buruk merupakan bagian dari pengembangan kecerdasan emosional anak. Sesungguhnya anak cenderung memiliki emosi yang lebih kuat daripada orang dewasa, karena anak belum mampu mengembangkan kemampuan menalar sampai dengan usia 9 tahun. Anak yang memiliki kecerdasan emosional kuat akan mampu menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Kecerdasan emosional anak terlihat pada anak yang benar-benar dididik dan diarahkan untuk menjiwai dan menghargai terhadap kemampuan dalam melakukan suatu tarian. Anak yang secara rutin belajar tari, secara tidak langsung telah belajar berbuat, merasa, dan menghargai orang lain. Kemampuan anak tersebut sangat berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sementara itu, perlu diperhatikan pula, bahwa faktor dukungan dari sekolah, orang tua dan masyarakat juga mempengaruhi pengendalian emosi anak yang sudah terarah dan terbentuk dengan baik, senantiasa akan berubah dan luntur oleh lingkungan dimana anak berada.
4) Mampu Mengasah Kehalusan Budi
Pelaksanaan pembelajaran seni tari tidak hanya mengajarkan, melatih dan membimbing anak untuk bergerak mengikuti alunan musik, melainkan dapat juga membimbing dan mengarahkan perilaku anak dengan etika yang baik. Seni tari mengajarkan anak untuk dapat menyesuaikan gerakan dengan musik sehingga anak secara tidak langsung berlatih untuk menggunakan kepekaan dan kehalusan budi/perasaannya agar dapat bergerak sesuai dengan musik. Anak belajar untuk mentaati dan melaksanakan perintah guru dalam pembelajaran seni tari, yang tercermin pada saat guru memberikan contoh gerak dan menyuruh anak untuk memperhatikan, menirukan dan mempraktekkan. Anak belajar untuk mengingat gerakan yang diberikan guru, sehingga anak juga belajar mengasah kognitifnya. Selain kognitifnya terasah, anak juga belajar menanamkan nilai-nilai etika yang mengasah kehalusan budinya melalui kegiatan menari dengan cara belajar menghargai teman, bekerjasama dengan teman, menolong sesama teman, mengikuti perintah guru, menghormati guru, dan memiliki sopan santun.
5) Mampu Menumbuhkan Rasa Bertanggung jawab
Anak yang bertanggungjawab adalah anak yang mampu melakukan apa yang diinginkannya sekaligus juga mampu melakukan apa yang diinginkan orang lain, mampu memilih mana yang baik dan buruk serta berani menanggung resiko. Untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak harus dilakukan dengan lemah lembut, halus, tegas tetapi penuh pengharapan. Bentuk tanggung jawab yang diajarkan guru kepada anak melalui pembelajaran seni tari adalah: (1) belajar mentaati waktu, apabila waktunya belajar tari sudah tiba maka anak-anak diminta segera untuk menuju ruang berlatih, (2) belajar mengatur dirinya sendiri melalui berbaris rapi, berjajar dengan teman-temannya pada saat mengikuti pelajaran tari, (3) belajar memperhatikan guru pada saat guru menerangkan dan mengikuti semua perintah guru, dan (4) belajar menghafalkan gerakan yang diberikan guru.
6) Mampu Menumbuhkan Rasa Mandiri
Salah satu ciri anak yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi adalah mempunyai sifat mandiri. Sifat mandiri pada anak dapat ditanamkan melalui pembelajaran tari, caranya dengan mengajarkan anak untuk melakukan tugas-tugasnya secara mandiri. Tugas-tugas anak tersebut antara lain yaitu: mencari tempat di dalam barisan pada saat belajar menari, berjalan tertib menuju ruang latihan menari, menirukan gerak yang diberikan oleh gurunya tanpa disuruh, berani menari sendiri tanpa diberi contoh, berani mengambil tempat minum sendiri, berani menari didepan banyak orang tanpa didampingi gurunya.
7) Mudah Berinteraksi dengan orang lain
Dalam pembelajaran seni tari, anak diajarkan untuk berinteraksi dengan orang lain, misalnya menjawab pertanyaan guru, memperhatikan guru dalam menjelaskan materi, menirukan gerak yang diberikan oleh guru, mempraktekkan gerak yang diajarkan guru, bertanya pada guru apabila mempunyai kesulitan, menyapa teman, berbaris rapi bersama teman, menari bersama teman, mau berbagi dengan teman. Kebiasaan yang diajarkan guru dalam proses belajar menari tersebut dapat diterapkan di dalam perilaku sehari-hari, misalnya mau menjawab pertanyaan orang lain, memperhatikan orang lain yang berbicara dengannya, bertanya atau menyapa pada orang lain, mau bermain dengan teman, berbagi dengan teman, membantu teman yang dalam kesulitan.
8) Memiliki Prestasi Yang Baik
Belajar menari tidak hanya membuat anak mempunyai tubuh yang lentur dan bugar, akan tetapi lebih jauh lagi, menari mampu membentuk kecerdasan emosional dan logika anak yang dibuktikan dengan prestasi yang baik di dalam pelajaran lainnya. Berdasarkan wawancara dengan Heny guru kelas A2, bahwa anak-anak yang suka menari dan sering mengikuti pentas menari cenderung memiliki prestasi yang tinggi jika dibandingkan dengan anak yang tidak suka kegiatan menari. Anak yang suka menari mempunyai sifat mudah diajak berkomunikasi, mudah tanggap terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru dan cepat selesai mengerjakannya. Anak juga mempunyai konsentrasi yang baik dalam mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan karena di dalam proses belajar menari, anak tidak hanya dituntut untuk bisa menghafalkan gerak, tetapi juga dituntut untuk mampu mempraktekkannya sesuai dengan iringan dan mampu mengeskpresikan gerak tersebut dengan baik. Artinya di dalam proses belajar menari, anak belajar 3 hal sekaligus yang tidak didapatkan dalam mata pelajaran lain, yaitu menghafalkan, menyesuaikan gerak dengan musik, dan menjiwai gerakan tersebut.
9) Mampu Mengembangkan Imajinasi
Dalam pembelajaran tari, pengembangan imajinasi anak dilakukan melalui cerita yang disampaikan oleh guru sebelum memberikan contoh gerak. Selain cerita, foto, gambar, film, keadaan disekeliling anak juga dapat menjadi media pengembangan imajinasi anak. Misalnya, guru akan mengajarkan tari burung, terlebih dahulu anak diberikan cerita mengenai burung, bagaimana burung itu mencari makan, minum, terbang, bertengger, berjalan dan tidur. Kemudian anak diajarkan menirukan perilaku burung tersebut sesuai dengan imajinasi anak sendiri. Guru hanya mengarahkan gerakan yang dibuat anak berdasarkan imajinasinya tersebut supaya menghasilkan gerak yang baik. Guru harus menghargai karya anak tersebut, tidak boleh mencela atau mengatakan buruk, karena hanya akan mematahkan daya imajinasi anak.
10) Menjadi Anak Yang Kreatif
Proses pengembangan daya imajinasi anak, akan mengarah atau membentuk perilaku kreatif anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil karya anak. Dalam proses belajar tari, anak cenderung menjadi lebih kreatif, karena anak diberi kebebasan untuk bergerak, menirukan gerak, menafsirkan gerak sesuai dengan kemampuannya. Artinya dalam proses belajar tari, tidak ada istilah benar dan salah, sehingga anak bebas menirukan gerak yang diberikan gurunya. Bebas artinya gerakan yang dilakukan anak tidak harus sama persis yang dilakukan gurunya, misalnya gerak tangan ke atas, seharusnya gerak tangan tersebut dilakukan dengan lurus ke atas, tetapi anak bisa melakukannya tidak lurus mungkin agak serong. Selain itu, anak juga diberikan kebebasan untuk menafsirkan cerita yang diberikan guru untuk mengekspresikannya kedalam gerak sesuai dengan imajinasinya. Dengan membiarkan anak melakukan gerak tari sesuai dengan kemampuan dan imajinasinya, guru secara tidak langsung sudah mengajarkan anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Kreativitas gerak yang dimiliki anak, merupakan salah satu ciri kecerdasan emosional anak.






BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.    Simpulan
Proses pelaksanaan pendidikan seni tari pada anak usia dini tidak terlepas dari proses belajar mengajarnya, yang meliputi: tujuan, materi pembelajaran, metode kegiatan belajar mengajar, sarana dan prasarana, evaluasi, kondisi sosial dan budaya.
Peningkatan kecerdasan emosional anak usia dini melalui pembelajaran seni tari dapat dilihat melalui: (1) timbulnya perasaan bangga, (2) memiliki sifat pemberani, (3) mampu mengendalikan emosi, (4) mampu mengasah kehalusan budi, (5) mampu menumbuhkan rasa bertanggung jawab, (6) mampu menumbuhkan rasa mandiri, (7) mudah berinteraksi dengan orang lain, (8) memiliki prestasi yang baik, (9) mampu mengembangkan imajinasi, dan (10) menjadi anak yang kreatif.

B.     Saran
Berdasarkan simpulan hasil penelitian di atas, saran yang disampaikan sebagai berikut.
1. Bagi Sekolah, hendaknya lebih memperhatikan dan mendukung proses pembelajaran seni tari pada anak usia dini dengan cara menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan, memberikan kesempatan bagi anak untuk menampilkan hasil dari pembelajaran seni tari baik dalam lomba-lomba tari ataupun dalam kegiatan pementasan sekolah, memberikan kesempatan bagi guru untuk meningkatkan kemampuannya di bidang seni tari.
2. Bagi Anak, hendaknya lebih rajin mengikuti pembelajaran seni tari sehingga kecerdasan emosionalnya semakin meningkat.
3. Bagi Orang tua anak, hendaknya lebih mendukung proses pembelajaran seni tari dengan cara mengikut sertakan anak dalam kegiatan menari, lomba-lomba tari maupun pementasan tari baik yang diadakan pihak sekolah maupun luar sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, H.A. 1992. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.

Freire, Paulo. 1973. Pedagogy of The Oppressed. London: Penguin Books (Ir. Myra Bergman Ramos).

Goldberg, Merryl. 1997. Arts and Learning. An Integrated Approach to Teaching and Learning in Multicultural and Multilingual Setting. New York: Longman.

Humprey, Doris. 1983. Seni Menata Tari. Terjemahan. Sal Murgianto. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Jazuli M. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Kamaril, Cut. 2001. Konsep Pendidikan Seni Tingkat SD-SLTP-SMU. Makalah. Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Seni. 18-20 April 2001. Jakarta: Hotel Indonesia.

Langer, Susane K. 1988. Problematika Seni. Terjemahan. FX. Widaryanto. Bandung: ASTI Bandung.

Mac Donald, Smart. 1970. History and Philosophy of Art Education. New York: American Elsevier.

Miles, Mattew B dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. Terjemahan. Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI.

Read, Herbert. 1970. Education Through Art. New York: Faber and Faber Culure Macmillan.

Rohendi, Tjetjep Rohidi. 2001. Ekspresi Seni Orang Miskin, Adaptasi Simbolik terhadap Kemiskinan. Bandung: Penerbit Nuansa.

Ross, Malcolm. 1983. The Aesthetic Impuls. Oxford: Pergamon Press.

Rusliana, Iyus. 1984. Seni Tari untuk KPG. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Semiawan, Cony. 1999. Pendidikan Tinggi: Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayat Seoptimal Mungkin. Jakarta: Grasindo.

Sindhunata. 2000. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan : Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, dan Globalisasi. Yogyakarta: Kanisius.

--------------------. 2001. Membuka Masa Depan Anak-anak Kita : Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI. Yogyakarta: Kanisius.

Soedarsono. 1978. Pengantar Pengetahuan Tari. Yogyakarta: ASTI.

Suryabrata, Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.

Yusuf LN, Syamsu. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.


Zulkipli. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Macam-macam Bencana Alam

Letusan Gunung Api
Letusan gunung berapi merupakan salah satu aktivitas vulkanisme. Letusan gunung berapi merupakan gejala alam. Manusia tidak mampu membendung atau mencegahnya. Akibat dari letusan gunung berapi dapat merusak lingkungan hidup. Kerusakan itu antara lain :
1. Kerusakan gunung berapi melemparkan berbagai material padat yang dapat menimpa perumahan, daerah pertanian, hutan, dan sebagainya.
2. Hujan abu vulkanik yang menyertai letusan dapat menyebabkan terganggunya pernapasan juga pemandangan yang gelap, dan dapat menutupi areal pertanian
dan perkebunan yang bisa mengurangi produksi.
3. Aliran lahar dapat menyebabkan pendangkalan sungai, sehingga ketika hujan turun menimbulkan banjir.
4. Gas yang mengandung racun dapat mengancam keselamatan makhluk disekitar gunung api.
5. Lava panas yang meleleh akan merusak dan mematikan apa saja yang dilaluinya. Setelah dingin, akan membeku menjadi batuan yang keras yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
6. Awan panas yang berhembus dengan kecepatan tinggi dan tidak terlihat mata
dapat menewaskan makhluk hidup yang dilaluinnya.
7. Lahar dingin, dapat merusak areal pertanian, dan daerah permukiman penduduk serta bangunan lain.
8. Debu-debu gunung api yang bertebaran di udara, dapat menghalangi radiasi matahari, dan membahayakan penerbangan udara..
Description: gnung meletus.jpgDescription: gnung mtus.jpg.












Banjir
Banjir merupakan salah satu bentuk fenomena alam yang unik. Dikatakan unik karena banjir dapat terjadi karena murni gejala alam dan dapat juga karena dampak dari ulah manusia sendiri. Banjir dikatakan sebagai gejala alam murni jika kondisi alam memang memengaruhi terjadinya banjir, misalnya hujan yang turun terus menerus, terjadi di daerah basin, dataran rendah, atau di lembah-lembah sungai. Selain itu, banjir dapat juga disebabkan karena ulah manusia, misalnya karena penggundulan hutan di kawasan resapan, timbunan sampah yang menyumbat aliran air, ataupun karena rusaknya dam atau pintu pengendali aliran air. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir, antara lain, hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur karena tererosi aliran air, rusaknya tanaman, dan rusaknya berbagai bangunan hasil budidaya manusia. Bencana banjir merupakan salah satu bencana alam yang hampir setiap musim penghujan melanda di beberapa wilayah di Indonesia. Contoh daerah di Indonesia yang sering dilanda banjir adalah Jakarta. Selain itu beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada awal tahun 2008 juga dilanda banjir akibat meluapnya DAS Bengawan Solo.
Banjir dapat juga berasal dari gelombang tsunami yang masuk ke daratan. Air laut melanda wilayah daratan di sekitarnya. Seperti terjadi pada wilayah Aceh pada tahun 2004. Dimana wilayah daratan Aceh mengalami banjir besar akibat adanya air laut yang naik dan memasuki wilayah daratan Aceh dan sekitarnya.
Description: bnjrrr.jpg
 
















GEMPA BUMI
Gempa bumi adalah getaran yang ditimbulkan karena adanya gerakan endogen. Semakin besar kekuatan gempa, maka akan  menimbulkan kerusakan yang semakin parah di muka bumi. Gempa bumi menyebabkan bangunan-bangunan retak atau hancur, struktur batuan rusak, aliran-aliran sungai bawah tanah terputus, jaringan pipa dan saluran bawah tanah rusak, dan sebagainya. Jika kekuatan gempa bumi melanda lautan, maka akan menimbulkan tsunami, yaitu arus gelombang pasang air laut yang menghempas daratan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Masih ingatkah kalian dengan peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam di penghujung tahun 2004 yang lalu? Contoh peristiwa gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam dengan kekuatan 9,0 skala richter. Peristiwa tersebut merupakan gempa paling dasyat yang menelan korban diperkirakan lebih dari 100.000 jiwa. Gempa bumi juga pernah melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada bulan Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 skala richter.

Description: gpa.jpg
 




















Tanah Longsor
Karakteristik tanah longsor hampir sama dengan karakteristik banjir. Bencana alam ini dapat terjadi karena proses alam ataupun karena dampak kecerobohan manusia. Bencana alam ini dapat merusak struktur tanah, merusak lahan pertanian, pemukiman, sarana dan prasarana penduduk serta berbagai bangunan lainnya. Peristiwa tanah longsor pada umumnya melanda beberapa wilayah Indonesia yang memiliki topografi agak miring atau berlereng curam. Sebagai contoh, peristiwa tanah longsor pernah melanda daerah Karanganyar (Jawa Tengah) pada bulan Desember 2007
 
Description: htn gundul.jpg


























EBAKARAN HUTAN
 















Kebakaran hutan terjadi bisa dikaitkan oleh alam itu sendiri, bisa juga dikaitkan oleh ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Jika kebakaran hutan sampai terjadi maka cukup sulit untuk memadamkannya, karena luasnya daerah yang terbakar dan lokasinya yang jauh dari tempat penanggulangan bencana.
Bahaya yang timbul karena kebakaran hutan adalah asap yang dihasilkan dapat merusak pernapasan.
Kebakaran hutan secara liar adalah kebakaran yang terjadi di alam liar. Jika bencana tersebut disebabkan oleh alam itu sendiri, kemungkinan karena petir yang menyambar.
Jika ulah manusia, maka bisa dipastikan karena keserakahan manusia dalam membuka lahan tanpa melihat akibat yang ditimbulkan.





TSUNAMI
 















Tsunami secara harfiah berarti “ombak besar di pelabuhan” adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan mendadak/tiba-tiba.

Perubahan permukaan laut terjadi karena disebabkan oleh gempa bumi yang berada di bawah laut, letusan gunung berapi di bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut.

Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan, dan nami berarti gelombang. Bencana ini termasuk yang paling berbahaya karena tidak dapat diprediksi kapan terjadinya dan sulit untuk mencegah datangnya tsunami dengan kecepatan tinggi.









KEKERINGAN

 
















Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang amat berkepanjangan (berbulan-bulan hingga bertahun-tahun).

Biasanya bencana ini terjadi bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi), transpirasi, ataupun penggunaan manusia yang lainnya.

Bencana ini hampir tiap tahun terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, bencana ini sudah umum terjadi pada negara yang lain di dunia.







ANGIN PUTTING BELIUNG
 


















Angin puting beliung merupakan angin yang berputar dengan kecepatan yang amat tinggi dan bergerak secara garis lurus dengan durasi maksimal 5 menit.
Di Indonesia bencana ini biasa disebut dengan puting beliung atau angin lesus, tetapi jika di Amerika disebut Tornado.
Bencana angin puting beliung belum dapat diprediksi karena teknologi yang kurang memadai. Tetapi jika di Amerika bencana topan sudah dapat diprediksi kapan terjadinya dan dimana tempatnya sehingga dapat menghimbau warga agar segera untuk mengungsi.






BADAI TROPIS

 



















Badai tropis atau siklon tropis adalah badai sirkuler yang menimbulkan angin kencang yang mampu merusak daerah sekitar 250 mil dari pusatnya.

Siklon tropis menyebabkan kerusakan oleh angin kencang, gelombang badai dan hujan lebat. Gelombang badai adalah naiknya permukaan laut sepanjang pantai secara cepat karena angin menggerakkanya ke pantai.






Bencana Alam Pemanasan Global (Global Warming)
 
















Global warming atau pemanasan global adalah peristiwa meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi, laut dan daratan bumi. Pemanasan global terjadi karena disebabkan oleh efek rumah kaca, efek timbal balik, variasi matahari.











Carita Sangkuriang

SANGKURIANG

Kacaritakeun zaman baheula, di hiji karajaan di Jawa Barat aya putri anu geulis kawanti-wanti, endah kabina-bina. Eta putri teh namina Dayang Sumbi. Anjeuna gaduh karesep ninun lawon tradisional. Sore eta teh Dayang Sumbi keur anteng ninun lawon, salah sahiji gulungan benangna murag ngagorolong kaluar.
Ngan hanjakal waktos eta teh Dayang Sumbi nuju hoream bade nyandak gulungan benang teh. Ngan nyarios weh ngagerendeng: saha wae anu kersa pangnyandakkeun eta gulungan benang, lamun istri bade dijadikeun dulur, lamun pameget bade dijadikeun caroge.
Tapi kacida reuwasna Dayang Sumbi teh, sing horeng anu datang teh sakadang Anjing. Dayang Sumbi teh emut kana cariosanna, nu akhirna Dayang Sumbi oge ngalaksanakeun janjina nikah jeung sakadang anjing tea nu ngaranna Si Tumang.
Ari si Tumang eta teh jelmaan ti saurang lalaki anu dikutuk. Akhirna Dayang Sumbi jeung si Tumang hirup dileuweung da diusir ti karajaan. Terus gaduh putra namina Sangkuriang. Eta budak jadi budak anu pinter jeung kasep. Karesepna moro ka leuweung dibaturan ku si Tumang tea alias bapana.
Dina hiji poe, sangkuriang dipenta ibuna kangge milari hate uncal/mencek. Akhirna Sangkuriang angkat ka leuweung di baturan ku si Tumang kalayan hate Sangkuriang ngarasa gumbira.
Tos dugi ka leuweung Sangkuriang ningali aya uncal eukeur ngadaharan jukut. Tuluy weh  nitah si Tumang pikeun ngudag eta uncal, ngan hanjakalna si Tumang teh embung dititah ngudag, kalah cicing ngajengjen.
Ari Sangkuriang kalah ambek ningali si Tumang cicing wae teh. Akhirna si Tumang dipanah tepi ka paehna, tuluy we …hatena si Tumang dibawa balik dibikeun ka ibuna nyaeta Dayang Sumbi tea.
Tepi ka imah, Sangkuriang mikeun eta hate tadi, bari jeung ngabohong yen eta teh hate uncal.
Tapi Dayang Sumbi teh curigaeun da si Tumang teu ngilu balik jeung Sangkuriang. Sangkuriang didesak ku ibuna ngarah jujur, yen ari si Tumang kamana.
Akhirna Sangkuriang balaka/terus terang, yen enya eta teh hate si Tumang alias bapana tea.
Dayang Sumbi kacida reuwasna nguping pangakuan putrana teh, jeung teu bisa nahan amarahna. Dayang Sumbi nakol mastaka Sangkuriang ku cukil kai dugi ka aya tapakan, jeung diusir ninggalkeun imahna.
Saatosna diusir Sangkuriang teh pendak sareung aki-aki anu kacida luar biasa hebat elmuna. Teras wae Sangkuriang guguru ka aki-aki eta teh dugi ka Sangkuriang jadi pamuda anu seueur elmu beladirina/pinter. Dugi ka Sangkuriang teh tiasa ngelehkeun sasatoan anu galak jeung rupa-rupa jin. Nepi ka jadi anak buah Sangkuriang.
Dini hiji mangsa Sangkuriang teh pendak sareung istri anu geulis pisan. Istri eta teh reuseupeun ka Sangkuriang anu gagah tur kasep deui. Sabalikna Sangkuriang ge reuseupeun ka istri eta teh. Malih mah ku Sangkuriang langsung bade dijantenkeun piistrieun.
Tapi istri eta teh reuwaseun barang ningali aya tapak bared dina mastaka Sangkuriang. Istri eta teh gaduh pirasat yen Sangkuriang teh putrana. Memang leureus istri eta teh sing horeng Dayang Sumbi alias ibuna.
Ti dinya Dayang Sumbi teh nyarita ka Sangkuriang, yen anjeun teh putra ibu. Tapi Sangkuriang teu percayaeun kana naon atu tos dicarioskeun ku Dayang Sumbi teh. Sangkuriang kekeuh hoyong miistri wae ka Dayang Sumbi. Akhirna Dayang Sumbi teh ngajukeun dua syarat anu kedah dicumponan ku Sangkuriang kedah beres dina waktos sapoe sapeuting.
Sarat kahiji, Sangkuriang kedah ngadamel situ jeung parahu anu ageung. Pada akhirna Sangkuriang nyanggupan sarat nu dipenta ku Dayang Sumbi. Tidinya Sangkuriang menta bantuan ka para jin sangkan saratna buru-buru anggeus.
Ningali padamelan Sangkuriang tereh atos teh, Dayang Sumbi milari akal pikeun ngagagalkeun padamelan Sangkuriang. Nya akhirna Dayang Sumbi ngadoa kalayan khusu nu akhirna doa Dayang Sumbi dikabulkeun.
Ngadadak langit siga aya tanda-tanda panon poe arek bijil. Warna koneng semu beureum jeung kakuping sora hayam kongkorongok. Ningali langit jeung nguping sora hayam kongkorongok teh para jin oge lumpat kalabur ninggalkeun Sangkuriang.
Akhirna, tidinya Sangkuriang kacida ambekna, gagal nyumponan kahayang Dayang Sumbi tea jeung Sangkuriang oge teu cios mika istri ka Dayang Sumbi. Teu antaparah deui Sangkuriang ngabobol bendungan nepi ngabanjiran sakabeh desa jeung najong parahu anu sakitu gedena nepi ka jauh pisan jeung ti balik. Parahu anu tibalik eta lami-lami janten gunung, nu ayeuna disebut “Tangkuban parahu”.    


About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate