Monday, November 11, 2019

Makalah Penulisan Huruf, kata dan Tanda Baca Dalam Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Dalam menulis memerlukan kemampuan dalam menggunakan berbagai kata yang akhirnya akan terbentuk menjadi sebuah kalimat. Dalam bahasa Indonesia penulisan kata yang kemudian menjadi kalimat serta selanjutnya menjadi sebuah paragraf dan wacana harus memperhatikan beberapa kaidah yang mesti dipatuhi.
Kaidah-kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia yaitu diantaranya pemakaian tanda baca, penulisan huruf, penulisan kata dan penulisan unsur dalam suatu kalimat atau beberapa kalimat. Kaidah-kaidah tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan dalam berbahasa Indonesia khususnya dalam kegiatan menulis.
Pemakaian tanda baca dalam suatu kalimat merupakan salah bagian yang penting dalam berbahasa Indonesia khususnya bahasa tertulis. Hal ini akan menunjukkan bagaimana kalimat tersebut dibaca dan maksud dari kalimat tersebut. Penulisan huruf dalam suatu kalimat merupakan salah satu unsur yang mengikuti kaidah yang telah ditentukan. Penulisan huruf terdiri dari dua macam yaitu huruf kapital atau huruf besar dan huruf kecil.
Selain itu penulisan kata yang dilakukan dalam suatu kalimat memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Ada berbagai macam kata yang digunakan dalam bahasa Indonesia seperti kata benda, kata kerja, kata sifat dan lain-lain. Penulisan kata yang berdasarkan jenisnya tersebut berbeda antar satu dengan kata yang lainnya.
Penulisan unsur dalam suatu kalimat atau paragraf memiliki kaidah atau aturan yang telah ditentukan. Unsur-unsur dalam suatu kalimat atau paragraf akan menunjukkan tujuan dari kalimat atau paragraf yang ditulis tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis bermaksud membahas suatu makalah dengan tema “Pemakaian tanda baca, penulisan huruf, penulisan kata dan penulisan unsur”. 

B.  Topik Pembahasan
Adapun topik pembahasan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Pemakaian tanda baca
2.      Penulisan huruf
3.      Penulisan kata
4.      Penulisan unsur

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui mengenai pemakaian tanda baca pada suatu kalimat atau wacana.
2.      Untuk mengetahui penulisan huruf dalam suatu kalimat atau wacana.
3.      Untuk mengetahui penulisan kata dalam suatu kalimat atau wacana.
4.      Untuk mengetahui penulisan unsur dalam suatu kalimat atau wacana.







BAB II
PEMBAHASAN



A.      Pemakaian Tanda Baca
Ejaan suatu bahasa tidak saja berkisar pada persoalan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran, bagaimana memotong-motong suatu kata, bagaimana menggabungkan kata-kata baik dengan imbuhan maupun antara kata dengan kata, dan sebagainya tetapi perlu pula diperhatikan bagaimana penggunaan tanda-tanda baca dalam kalimat.
Segala macam tanda untuk menggambarkan perhentian antara, perhentian akhir, tekanan, tanda Tanya, dan lain-lain disebut tanda baca atau pungtuasi (Adriansyah, 2011:23). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995:1002), mendefinisikan bahwa tanda baca ialah tanda-tanda yang dipakai dalam sistem ejaan seperti: titik, koma, titik dua.
Tanda baca adalah salah satu bagian dari jenis ortografi. Penggunaan tanda baca sangat penting karena penggunaan yang tidak sesuai akan mengubah makna bahasa yang akan diungkapkan. Secara teknis tanda baca dipakai di dalam sistem sintaksis. Tanda baca banyak sekali jenisnya dan masing-masing jenis memiliki fungsi yang berbeda. Secara umum, fungsi tanda baca yaitu untuk menjaga keefektifan komunikasi (Soedjadi, 2000:14).
Suparno, dkk (2009:3.39), mengemukakan bahwa tanda baca adalah tanda-tanda yang digunakan di dalam bahasa tulis agar kalimat yang kita tulis dapat dipahami orang persis seperti kita maksudkan.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, tanda baca ialah tanda-tanda yang dipakai dalam sistem ejaan bahasa tulis yang berfungsi untuk memudahkan pemahaman orang terhadap apa yang kita maksudkan.
1. Tanda Titik (.)
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Contoh : Ayahku tinggal di Solo.

2. Tanda Koma (,)
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilang. Contoh : Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
3. Tanda Titik Koma (;)
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Contoh : Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
4. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pertanyaan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Contoh : Kita sekarang memrlukan perabot rumah tangga: kursi,meja,dan lemari.
5. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Contoh: Di samping cara-cara lama itu ada juga yang baru.
6. Tanda Pisah ()
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Contoh: Kemerdekaan bangsa ituyakin akan tercapaidiperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
7. Tanda Elipsis (...)
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putu. Contoh: Kalau begitu ... ya, marilah kita bergearak.
8. Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Contoh: Kapan kita berangkat?
9. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau peryataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan ,ketidakpercayaan,ataupaun rasa emosi yang kuat. Contoh: Alangkah seramnya peristiwa itu!
10. Tanda Kurung ((...))
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Contoh: Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK(Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
11. Tanda Kurung Siku ([ ])
Tanda kurung siku mengapit huruf,kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam nasakah asli. Contoh :Sang Sapurba men[ d ] engar bunyi gerimis.
12. Tanda Petik (“...”)
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Contoh: “Saya belum siap ,” kata Mira,”tunggu sebntar!” Pasal 36 UUD 1945 berbunyi ,”Bahasa negara ialah bahsa Indonesia.”
13. Tanda Petik Tunggal („...)
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Contoh: Tanya Basri ,”Kau dengar bunyi „kring-kring tadi?
14. Tanda Garis Miring(/)
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Contoh: No. 7/PK/1973 Jalan Kramat III/10 Tahun anggaran 1985/1986
15. Tanda Penyingkat atau apostrof( „)
Tanda penyingkat menunjukan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Contoh: Ali „kan kusurati.(„kan = akan ) 1 Januari 88 ( 88 = 1988) (Kurniaman, dkk,2014)

B.       Penulisan Huruf
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf berikut. Nama tiap huruf disertakan disebelahnya.
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Huruf
Nama
A a
/a/
J j
/jé/
S s
/ès/
B b
/bé/
K k
/ka/
T t
/té/
C c
/cé/
L l
/èl/
U u
/u/
D d
/dé/
M m
/èm/
V v
/vé/
E e
/é/
N n
/én/
W w
Wé/
F f
/èf/
O o
/o/
X x
/èks/
G g
/gé/
P p
/pé/
Y y
/yé/
H h
/ha/
Q q
/ki/
Z z
/zèt/
I i
/i/
R r
/èr/

Pemakaian huruf dalam penulisan ejaan yang disempurnakan meliputi huruf vokal (a, e, i, o, dan u), huruf konsonan (b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z), huruf diftong (ai, au, dan oi) dan gabungan huruf konsonan (kh, ng, ny, dan sy).
Penulisan huruf kapital telah diatur dalam buku Pedoman Penulisan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Namun, pada bagian ini penulis merangkumkan kembali peraturan penulisan huruf kapital berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Depdikbud, 2005:13) sebagai acuan atau landasan teori yang digunakan dalam makalah ini.
Adapun rangkuman tersebut adalah sebagai berikut.
1) Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
a. Apa yang sedang dikerjakannya?
b. Tolong Ambilkan buku itu.
c. Untuk mencapai cita-cita, manusia harus bekerja keras.
2) Huruf kapital dipakai sebagai uruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
a. Adik bertanya ”Kapan kita pulang?”
b. Ayah menasehati ”Hati-hati, nak!”
c. ”Kemarin Fitria terlambat,” kata Adi
3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah, Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Al-Quran, Weda.
Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan. Ke jalan yang Engkau beri rahmat.
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Muhammad Yamin, Sultan Iskandar Muda, Haji Badawi Usman, Imam Syarif, Nabi Ibrahim.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
a. Dia baru diangkat menjadi sultan.
b. Tahun ini ayahnya pergi naik haji.
5) Huruf kapital sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau dipakai sebagai penganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Perdana Menteri Nehru, Wakil Presiden Hamzah Haz, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, Seketaris Jendral Departemen Perhubungan, Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
a. Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
b. Ia di lantik menjadi mayor jendral.
6) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Amir Hamzah, Abdullah Ali Nasution, Dewi Sartika, Teuku Umar, Wage Rodolf Supratman.
7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bahasa Indonesia, suku Dayak, suku Aceh, bangsa Indonesia.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa yang tidak dipakai sebagai bentuk dalam kata turunan.
Misalnya:
mengindonesiakan kata asing, keingris-ingrisan
8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari raya, dan peristiwa-peristiwa bersejarah.
Misalnya:
tahun Hijriah, bulan Januari, bulan Maulid, hari Jumat, hari Lebaran, hari Natal, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
a. Soekarno dan Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
b. Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.
9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak memakai unsur nama diri.
Misalnya:
Asia Tenggara, Bukit Barisan, Danau Toba, Sungai Musi, Gunung Sibayak, Lembah Baliem, Teluk Benggala, Danau Toba
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama jika istilah geografi yang bukan nama.
Misalnya:
berlayar ke teluk, mandi di sungai, menyeberangi selat, melewati lembah.
Huruf kapital juga tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi sebagai jenis.
Misalnya:
garam inggris, gula jawa, jeruk bali, rambutan aceh, pisang ambon.
10) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, seperti nama dokumentasi resmi, kecuali kata depan dan kata hubung.
Misalnya:
Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama jika unsur nama negara, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, badan serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
sebuah republik, beberapa badan hukum, menurut undang-undang.

11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah, dan ketatanegaraan, serta dokumentasi resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu sosial, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian.
12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
a. Harian Serambi Indonesia terbit di Aceh.
b. Dia membaca majalah Bahasa dan Sastra.
c. Saya telah membaca buku Dari Eve Maria ke Jalan Lain ke Roma di perpustakaan.
13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.
Misalnya:
Dr. doktor
M.A. master of art
S.H. sarjana hukum
Prof. Professor
Tn. Tuan
Sdr. saudara
14) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
a. ”Kapan Bapak berangkat?”
b. Adik bertanya”Apa itu, Bu?”
c. Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.
d. Besok Paman akan datang.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan dan penyapaan.
Misalnya:
a. Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
b. Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
c. Anak itu tidak mau menghormati ayahnya.
15) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti anda.
Misalnya:
a. Sudahkan Anda sholat?
b. Surat Anda sudah kami terima sebulan yang lalu.
c. Kami berharap Anda mau membalas surat kami secepatnya. (Khadijah,2013)

C. Penulisan Kata
Penguasaan kosakata bukan hanya sekedar mengerti arti secara harfiah tetapi juga arti secara pragmatik, sesuai dengan konteks kalimatnya. Berbicara tentang makna kata, Keraf (1986: 25) menyatakan bahwa makna kata dapat diartikan sebagai hubungan antara bentuk dengan hal atau barang yang diwakilinya, sedangkan menurut Tarigan (1993: 60) membagi makna kata menjadi makna khusus dan makna umum. Makna kata dalam suatu kalimat akan mengalami perubahan. Menurut Ardiana dkk. (2002: 36) perubahan makna dapat terjadi karena: (1) faktor kebahasaan, yang berkaitan dengan proses morfologis dan sintaksia dan (2) faktor nonkebahasaan berkaitan dengan waktu, tempat, dan sosial.
Berkaitan dengan penguasaan kosakata seseorang, Tarigan (1986: 262-268) menjelaskan tahap-tahap perkembangan linguistik, adalah sebagai berikut: (1) tahap meraba, yaitu masa kanak-kanak mengalami omong kosong atau tahap kata tanpa makna; (2) tahap holofrastik, yaitu ucapan satu kata, pada masa ini kanak-kanak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu, misalnya: makan, tidur, pergi, main, mandi; (3) tahap dua holofrase, yaitu ucapan dua kata, tahap ini merupakan perkembangan dari tahap satu kata, misalnya kata: baju ibu, adik makan, adik tidur.Usia, lingkungan, dan semakin minatnya seseorang juga sangat menentukan penguasaan kosakata seseorang. Apabila anak hidup di lingkungan yang penuh dengan fasilitas buku serta lingkungan yang gemar membaca, maka akan mempunyai penguasaan kosakata yang memadai. Selain itu makin banyak buku/referensi yang dibaca akan semakin banyak kosakata yang dimiliki.

D. Penulisan Unsur
McCrimmon menyatakan bahwa paragraf dikatakan lengkap apabila paragraf itu berhasil menerangkan apa yang seharusnya diterangkan. Paragraf tersebut harus memiliki (1) ide pokok yang diungkapkan dalam kalimat topik dan (2) kalimat penunjang yang memadai yang berfungsi memberikan penjelasan ide pokok tersebut. Sesuai dengan pendapat itu, Wahab dan Lestari (1999:31) menjelaskan bahwa paragraf yang baik berisi unsur-unsur yang diperlukan untuk mengungkapkan satu pikiran yang lengkap. Unsur-unsur yang diperlukan dalam setiap paragraf ialah (1) kalimat topik, (2) kalimat-kalimat penunjang, dan (3) kalimat penyimpul. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelengkapan paragraf mengacu kepada adanya kalimat topik pada suatu paragraf dan adanya kalimat-kalimat penunjang secara memadai yang memberikan penjelasan pada ide pokok dalam paragraf tersebut.
Kesatuan paragraf disebut juga keutuhan. Suatu paragraf dikatakan utuh apabila dalam paragraf itu terdapat hanya satu ide pokok. Ide pokok (pikiran utama) tersebut dijelaskan dengan pikiran-pikiran bawahan. Kaitannya dengan hal tersebut, Gunawan (2011:17) menyatakan bahwa “pada hakikatnya menulis paragraf merupakan kegiatan menjelaskan pikiran utama (ide pokok)”. Semua kalimat yang membangun paragraf secara bersama-sama mendukung ide pokok yang sama. Apabila dalam paragraf tersebut terdapat satu saja gagasan atau penjelasan yang menyimpang dengan ide pokok, maka paragraf tersebut dikatakan tidak memiliki kesatuan atau keutuhan.
Ide pokok dalam suatu paragraf ada yang diungkapkan secara eksplisit ada pula secara implisit. Ide pokok paragraf yang dikemukakan secara eksplisit, ide pokoknya dinyatakan dalam sebuah kalimat, yaitu kalimat topik. Kalimat-kalimat lainnya berisi informasi atau penjelasan yang berkaitan dengan ide pokok tersebut. Ide pokok paragraf yang dinyatakan secara implisit, ide pokoknya tersebunyi atau merupakan simpulan dari keseluruhan isi paragraf itu. Kalimat topiknya menyebar pada keseluruhan paragraf, dan biasanya digunakan dalam tulisan deskripsi.
Kalimat-kalimat dalam paragraf perlu ditulis secara runtut. Paragraf dikatakan runtut apabila ide-ide yang diungkapkan dalam paragraf tersebut tersusun secara runtut atau urut dan sistematis, sehingga tidak ada ide yang melompat-lompat. Adanya penyajian ide-ide secara urut dan sistematis akan memudahkan pembaca memahami pesan-pesan yang hendak disampaikan dalam paragraf tersebut. Dengan adanya penyampaian ide-ide secara berurutan dan sistematis pada suatu paragraf, pembaca akan mudah dan cepat memahami isi paragraf yang bersangkutan.
Paragraf yang memiliki koherensi, kalimat-kalimatnya saling berhubungan secara kompak. Menurut McCrimmon, paragraf yang koheren adalah paragraf yang kalimat-kalimatnya terjalin secara erat. Dengan demikian, semua kalimat yang ada pada suatu paragraf harus saling berkaitan dan saling mendukung. Bahkan, agar paragraf tersebut memenuhi unsur koherensi, tidak boleh ada satu kalimat pun yang tidak memiliki kaitan dengan kalimat lainnya (Budiyono, 2012).
Paragraf yang koheren, selain mudah dipahami juga enak dibaca. Untuk menghasilkan paragraf yang koheren, mudah dipahami, dan enak dibaca ada dua cara yang dapat ditempuh. Pertama, paragraf yang koheren dapat dicapai dengan cara menggunakan penanda hubungan secara eksplisit, yaitu dengan piranti kohesi yang dapat berupa pemarkah transisi, kata ganti, sinonim, pengulangan, atau yang lainnya. Kedua, paragraf koheren dapat dinyatakan secara implisit, yaitu menggunakan hubungan logis (Budiyono, 2012).





BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan
Dalam penggunaan bahasa Indonesia khususnya dalam kegiatan menulis memiliki kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Kaidah-kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa Indonesia diantaranya pemakaian tanda baca, penulisan huruf, penulisan kata dan penulisan unsur.
Setiap tanda baca dapat mengartikan sebuah kalimat tersebut apakah berbentuk kalimat tanya, kalimat perintah ataupun kalimat deklaratif. Pemberian tanda baca yang salah dapat membuat arti kalimat itu berbeda dengan konsep makna dalam suatu kalimat. Konsep adalah ide abstrak yang dapat di gunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata.
Pemakaian huruf dalam penulisan ejaan yang disempurnakan meliputi huruf vokal (a, e, i, o, dan u), huruf konsonan (b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z), huruf diftong (ai, au, dan oi) dan gabungan huruf konsonan (kh, ng, ny, dan sy).
Unsur-unsur yang diperlukan dalam setiap paragraf ialah (1) kalimat topik, (2) kalimat-kalimat penunjang, dan (3) kalimat penyimpul. Kelengkapan  paragraf mengacu kepada adanya kalimat topik pada suatu paragraf dan adanya kalimat-kalimat penunjang secara memadai yang memberikan penjelasan pada ide pokok dalam paragraf tersebut.

B. Implikasi
Dari penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat membuat tulisan dengan lebih baik dengan memperhatikan dan mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang telah ditentukan seperti aspek pemakaian tanda baca, penulisan huruf, penulisan kata dan penulisan unsur.


C.  Saran
Dengan berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya penulis mengajukan saran kepada pembaca dan pihak-pihak terkait sebagai berikut :
1.    Hendaknya setiap mahasiswa lebih memperhatikan dan mematuhi kaidah-kaidah penulisan dalam bahasa Indonesia.
2.    Diadakannya pelatihan dalam hal penulisan bahasa Indonesia dan kaidah-kaidah yang ditentukan.






DAFTAR PUSTAKA


Budiyono. (2012). Mengembangkan Paragraf Sesuai Fungsi Dan Posisi Dalam Rangka Menulis Sebuah Tulisan Esai. Vol. 2 No. 2 Juli 2012 ISSN 2089-3973

Darminto. Hubungan Antara Penguasaan Kosa Kata Dan Kalimat Efektif Dengan Keterampilan Menulis Narasi Siswa Kelas V Sdn Wonokusumo V Surabaya. E-Jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya; Volume 7. ISSN : 2337-3253

Dzulfikri Rh. (2012). Penyimpangan Unsur-Unsur Linguistik Dalam Kumpulan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 Oleh Goenawan Mohamad. Linguistika Akademia Vol.1, No.1, 2012: 73~84 ISSN: 2089-3884

Khadijah  (2013). Analisis Kesalahan Penggunaan Ejaan Pada Karangan. ISSN 2338-0306 Volume I Nomor 1. Januari – Juni 2013.

Kurniaman, dkk. (2014). Analisis Kemampuan Guru Sekolah Dasar, Memahami Konsep Penggunaan Tanda Baca. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau| Volume 3 Nomor 1, April 2014 | ISSN: 2303-1514.

Nurmawati, dkk. Peningkatan KemampuanMenggunakan Tanda Baca Titik, Koma, dan Titik Dua dalam Kalimat dengan Menggunakan Metode Latihan Siswa Kelas IV SDN Atananga Kec. Bumi Raya Kab. Morowali. Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 3 No. 1 ISSN 2354-6144



Makalah Pendidikan Karakter

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut.
 Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill. Untuk itu penulis menulis makalah ini, agar pembaca tahu betapa pentingnya pendidikan karakter bagi semua orang, khususnya bangsa Indonesia sendiri.

1.2  Rumusan Masalah
Penulis telah menyusun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Adapun beberapa masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini antara lain:
1.      Apa pengertian dari pendidikan karakter itu?
2.      Apa pengertian dari beda karakter dan kepribadian?
3.      Bagaimana contoh program pendidikan karakter?
4.      Bagaimana peran pendidikan karakter untuk kemajuan bangsa?
5.      Bagaimana hubungan pendidikan karakter dengan keberadaban bangsa?
6.      Bagaimana gambaran dari pendidikan karakter yang sudah berhasil?

1.3  Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang disusun oleh penulis di atas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui apa itu pendidikan karakter.
2.      Untuk mengetahui apa itu beda karakter dan kepribadian.
3.      Untuk mengetahui contoh program pendidikan karakter.
4.      Untuk mengetahui hubungan pendidikan karakter dengan keberadaban bangsa.
5.      Untuk mengetahui upaya-upaya dalam meningktakan mutu dari pendidikan karakter.
6.      Untuk mengetahui bagaiamana gambaran dari pendidikan karakter yang sudah berhasil.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter.
Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaansarana,prasarana,dan,pembiayaan,dan,ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
“Pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh tidak sekedar membentuk anak-anak muda menjadi pribadi yang cerdas dan baik, melainkan juga membentuk mereka menjadi pelaku baik bagi perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan menjadi lebih adil, baik, dan manusiawi.”(Doni Koesoema A.Ed)

2.2 Pengertian Beda Karakter dan Kepribadian
Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta saat manusia dilahirkan dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan sosial dan masing-masing pribadi. Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru, inilah yang disebut dengan Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin yang sangat suka bercanda dan terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus, itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.Banyak kami perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian.
Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki kontrol penuh atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi Anda.



2.3 Contoh Program Pendidikan karakter.
A. Lingkungan Sekolah:
1.  Training Guru
Terkait dengan program pendidikan karakter disekolah, bagaimana menjalankan dan melaksanakan pendidikan karakter disekolah, serta bagaimana cara menyusun program dan melaksanakannya, dari gagasan ke tindakan.
Program ini membekali dan memberikan wawasan pada guru tentang psikologi anak, cara mendidik anak dengan memahami mekanisme pikiran anak dan 3 faktor kunci untuk menciptakan anak sukses, serta kiat praktis dalam memahami dan mengatasi anak yang “bermasalah” dengan perilakunya.
2.  Program Bimbingan Mental
Program ini terbagi menjadi dua sesi program :
Sesi Workshop Therapy, yang dirancang khusus untuk siswa usia 12 -18 tahun. Workshop ini bertujuan mengubah serta membimbing mental anak usia remaja. Workshop ini bekerja sebagai “mesin perubahan instant” maksudnya setelah mengikuti program ini anak didik akan berubah seketika menjadi anak yang lebih positif.
Sesi Seminar Khusus Orangtua Siswa, membantu orangtua mengenali anaknya dan memperlakukan anak dengan lebih baik, agar anak lebih sukses dalam kehidupannya. Dalam seminar ini orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar yang sangat bagus untuk mempelajari berbagai teori psikologi anak dan keluarga. Memahami konsep menangani anak di rumah dan di sekolah, serta lebih mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak, pasangan dan orang lain.

B. Lingkungan Keluarga:
1  Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini.
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya.
Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

2.4   Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa
Dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama. "Dari mana asalmu tidak penting, ukuran tubuhmu juga tidak penting, ukuran Otakmu cukup penting, ukuran hatimu itulah yang sangat penting” karena otak (pikiran) dan kalbu hati yang paling kuat menggerak seseorang itu ”bertutur kata dan bertindak”. Simak, telaah, dan renungkan dalam hati apakah telah memadai ”wahana” pembelajaran memberikan peluang bagi peserta didik untuk multi kecerdasan yang mampu mengembangkan sikap-sikap: kejujuran, integritas, komitmen,kedisipilinan,visioner,dankemandirian.Sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga, betapa perbedaan, pertentangan, dan pertukaran pikiran itulah sesungguhnya yang mengantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Melalui perdebatan tersebut kita banyak belajar, bagaimana toleransi dan keterbukaan para Pendiri Republik ini dalam menerima pendapat, dan berbagai kritik saat itu. Melalui pertukaran pikiran itu kita juga bisa mencermati, betapa kuat keinginan para Pemimpin Bangsa itu untuk bersatu di dalam satu identitas kebangsaan, sehingga perbedaan-perbedaan tidak menjadi persoalan bagi mereka.
Karena itu pendidikan karakter harus digali dari landasan idiil Pancasila, dan landasan konstitusional UUD 1945. Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui arti simbol “Bhineka Tunggal Ika” pada lambang negara Indonesia.
Dari mana memulai dibelajarkannya nilai-nilai karakter bangsa, dari pendidikan informal, dan secara pararel berlanjut pada pendidikan formal dan nonformal. Tantangan saat ini dan ke depan bagaimana kita mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai sesuatu kekuatan bangsa. Oleh karena itu kebijakan dan implementasi pendidikan yang berbasis karakter menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka membangun bangsa ini. Hal ini tentunya juga menuntut adanya dukungan yang kondusif dari pranata politik, sosial,  dan,budaya bangsa.
“Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa” adalah kearifan dari keaneragaman nilai dan budaya kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural yang terjadi. Oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi ketika menghadapi konflik yang berbasis pada ras, suku dan keagamaan. Pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas implementasinya, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan simbol atau slogan, tetapi keberpihak yang cerdas untuk membangun keberadaban bangsa Indonesia. Pembiasaan berperilaku santun dan damai adalah refreksi dari tekad kita sekali merdeka, tetap merdeka.

2.5  Pendidikan Karakter yang Berhasil.
Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMA, yang antara lain meliputi sebagaiberikut:
1.      Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja.
2.      Memahami kekurangan dan kelebihan dirisendiri.
3.      Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.
4.      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.
5.      Menunjukkan sikap percaya diri.
6.      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis,dankreatif.
7.      Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif.
8.      Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
9.      Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
10.  Mendeskripsikan gejala alam dan sosial.

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa kategori yaitu:
Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter melalui sekolah-sekolah, terutama Sekolah Menengah Pertama (SMA), karena anak usia SMA sangat cocok untuk diberi pembelajaran tentang pendidikan karakter.
Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.
Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan dari negara-negara lain.


3.2 Saran
Pemerintah harus selalu memantau atau mengawasi dunia pendidikan, karena dari dari dunia pendidikan Negara bisa maju dan karena dunia pendidikan juga Negara bisa hancur, bila pendidikan sudah disalah gunakan.
Selain mengajar, seorang guru atau orang tua juga harus mendo’akan anak atau muridnya supaya menjadi lebih baik, bukan mendo’akan keburukan bagi anak didiknya.
Guru harus memberikan rasa aman dan keselamatan kepada setiap peserta didik di dalam menjalani masa-masa belajarnya, karena jika tidak semua pembelajaran yang di jalani anak didik akan sia-sia. Semoga karya tulis dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi pembaca. Amiiin..




DAFTAR PUSTAKA

http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-melengkapi-kepribadian/
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/
http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak/
http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-usia-dini/


Makalah Paragraf Deskripsi, Narasi dan Eksposisi

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa di dalam berkomunikasi baik lisan maupun tertulis.
Seseorang dikatakan terampil berbahasa Indonesia apabila ia telah menguasai sistem bahasa Indonesia secara keseluruhan. Keterampilan berbahasa Indonesia yang lengkap mencakup empat keterampilan, yaitu mendengarkan atau memahami bahasa lisan, berbicara, membaca atau memahami bahasa tulisan dan menulis atau menggunakan bahasa secara tertulis. Keterampilan berbahasa setiap orang berbeda.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia belum dapat dikatakan siswa dapat berbahasa Indonesia jika tidak terampil menulis. Oleh sebab itu, untuk dapat mencetak para siswa sekolah dasar yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, guru harus benar-benar memperhatikan keterampilan menulis siswa. Menulis merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan sehari-hari dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan apalagi berkenaan dengan peristiwa-peristiwa penting yang menuntut bukti tertulis atau peristiwa penting lainnya yang tidak boleh terlupakan.
Setiap manusia semuanya diciptakan sebagai pengarang. Namun, menuangkan buah pikiran  secara  teratur  dan  terorganisasi  ke dalam tulisan  tidak mudah. Banyak  orang yang pandai berbicara atau berpidato,  tetapi mereka masih kurang mampu menuangkan gagasannya ke dalam bentuk bahasa tulisan. Maka untuk bisa mengarang dengan baik, seseorang harus mempunyai kemampuan untuk menulis. Kemampuan menulis dapat dicapai melalui proses belajar dan berlatih
Ada berbagai macam bentuk tulisan yang dapat ditulis oleh seorang penulis atau siapapun yang memiliki keinginan untuk menulis. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis bermaksud membahas suatu makalah dengan tema “Paragraf deskripsi, narasi dan eksposisi”. 

B.  Topik Pembahasan
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis akan mengambil topik pembahasan  dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud paragraf deskripsi ?
2.      Apa yang dimaksud paragraf narasi ?
3.      Apa yang dimaksud paragraf eksposisi ?

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui paragraf deskripsi.
2.      Untuk mengetahui paragraf narasi.
3.      Untuk mengetahui paragraf eksposisi.




BAB II
PEMBAHASAN


A.      Paragraf Deskripsi
Paragraf atau alinea adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Di surat kabar acapkali kita temukan paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat saja. Paragraf semacam itu merupakan paragraf yang tidak dikembangkan. Dalam karangan yang bersifat ilmiah paragraf semacam itu jarang dijumpai. Dalam penggabungan beberapa kalimat menjadi sebuah paragraf itu diperlukan adanya kesatuan dan kepaduan. Yang dimaksud kesatuan adalah keseluruhan kalimat dalam paragraf itu membicarakan satu gagasan saja. Yang dimaksudkepaduan adalah keseluruhan kalimat dalam paragraf itu secara kompak atau saling berkaitan mendukung satu gagasan itu.
Kalimat-kalimat yang membangun paragraf pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu (1) kalimat topik atau kalimat utama, dan (2) kalimat penjelas atau kalimat pendukung. Kalimat topik atau kalimat utama, biasanya ditempatkan secara jelas sebagai kalimat awal suatu paragraf. Kalimat utama ini kemudian dikembangkan dengan sejumlahkalimat penjelas sehingga ide atau gagasan yang terkandung kalam kalimat utama itu menjadi semakin jelas. Ciri kalimat topik adalah (1) mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci atau diuraikan lebih lanjut, (2) merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri, (3) mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain, (4) dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung dan frasa transisi. Ciri kalimat penjelas adalah, (5) dari segi arti sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri, (6) arti kalimat kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam paragraf, (7) pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung dan frasa transisi, (8) isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data lain yang mendukung kalimat topik. Kalimat-kalimat penjelas atau kalimat-kalimat bawahan itu menjelaskan kalimat topik dengan empat cara, yaitu: (1) Dengan ulangan, yaitu mengulang balik pikiran utama. Pengulangannya biasanya menggunakan kata-kata lain yang bersamaan maknanya (sinonimnya). (2) Dengan pembedaan, yaitu dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak terkandung oleh pikiran utama. Dengan contoh, yaitu dengan memberikan contoh-contoh mengenai apa yang dinyatakan dalam kalimat topik. Dengan pembenaran, yaitu dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. Biasanya kalimat pembenaran itu diawali/disisipi kata “karena, sebab”. Paragraf yang efektif memenuhi dua syarat, yaitu: (1) adanya kesatuan makna (koherensi), (2) adanya kesatuan bentuk (kohesi), dan hanya memiliki satu pikiran utama.
Menurut Keraf (1981: 93), kata deskripsi berasal dari bahasa Latin describere yang berarti menulis tentang atau membeberkan sesuatu hal, sedangkan secara harfiah deskripsi merupakan sebuah bentuk tulisan yang bertalian dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang sedang dibicarakan (dalam Aljatila, 2015).
Salah satu jenis paragraf adalah paragraf deskripsi. Dalam menulis paragraf deskripsi, penulis harus mampu mengungkapkan pengalaman yang dilihat, dengar, dan dirasakannya. Dalam hal ini Parera dalam Dalman (2012:253) menyatakan bahwa paragraf deskripsi adalah suatu bentuk paragraf yang hidup dan berpengaruh. Paragraf deskripsi berhubungan dengan pengalaman pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasaan.
Beberapa ahli memberikan batasan karangan deskripsi sesuai dengan ciri-ciri  karangan deskripsi secara umum, yaitu:
1. Melukiskan atau menggambarkan objek,
2. Berisi rincian-rincian objek,
3. Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri, dan
4. Hasil penyerapan panca indera.

B.       Paragraf Narasi
Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Sebab itu, unsur yang paling penting pada sebuah narasi adalah unsur perbuatan atau tindakan.
Rosdiana (2008:322) menyatakan bahwa karangan narasi merupakan salah satu jenis wacana yang berisi cerita. Adapun ciri-ciri karangan narasi adalah menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan, dirangkai dalam urutan waktu, berusaha menjawab pertanyaan mengenai apa yang terjadi, dan mengandung konflik (Keraf, 2007:136).
Narasi mencakup dua unsur dasar, yaitu perbuatan atau tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu. Apa yang telah terjadi merupakan tindak-tanduk yang dilakukan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh dalam suatu rangkawan waktu. Bila deskripsi menggambarkan suatu objek secara statis, narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu.
Bentuk-bentuk narasi yang terkenal yang biasa dibicarakan dalam hubungannya dengan kesusastraan adalah roman, novel, cerpen, dongeng (semuanya termasuk narasi yang fiktif), dan sejarah, biografi dan autobiografi (semuanya termasuk narasi yang bersifat nonfiktif).
Berdasarkan pengembangannya, narasi dibedakan atas narasi sugestif dan
narasi ekspositoris. Narasi sugestif adalah narasi yang mengisahkan peristiwa-peristiwa imajinatif dengan menggunakan bahasa yang indah, seperti cerpen dan novel. Narasi sugestif disebut juga narasi fiktif. Adapun narasi ekspositoris adalah
narasi yang menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dengan menggunakan bahasa yang lugas. Narasi ekspositoris disebut juga narasi nonfiktif, seperti biografi, autobiografi, dan laporan perjalanan.

C. Paragraf Eksposisi
Eksposisi adalah suatu tulisan yang bertujuan agar pembaca memperoleh informasi yang lengkap tentang suatu objek. Oleh karena itu, tulisan eksposisi sifatnya memberi tahu, mengupas, menyarankan atau menerangkan sesuatu. Sesuatu yang diinformasikan dapat berupa:
1.      Data faktual, yaitu suatu kondisi yang benar-benar terjadi, ada dan dapat bersifat historis.
2.      Suatu analisis atau penafsiran objektif terhadap seperangkat fakta, dan
3.      Fakta tentang seseorang yang berpegang teguh pada suatu pendirian.
Adapun langkah-langkah menulis eksposisi adalah sebagai berikut :
1.      Menentukan tema
2.      Menentukan tujuan karangan
3.      Memilih data yang sesuai dengan tema
4.      Membuat kerangka karangan, dan
5.      Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan
Beberapa urutan analisis eksposisi yaitu :
1.      Urutan kronologis, biasanya memaparkan proses yaitu memberi penjelasan tentang bekerjanya sesuatu atau terjadinya suatu peristiwa.
2.      Urutan penting dan tidak penting
3.      Urutan fungsional
4.      Analisis sebab akibat, dan
5.      Analisis perbandingan.
Eksposisi atau pemaparan adalah salah satu bentuk tulisan atau retorika yang berusaha menerangkan dan menguraikan suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau wawasan seseorang yang membaca uraian tersebut. Eksposisi atau paparan menyajikan fakta atau gagasan yang disusun dengan sebaik-baiknya sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Oleh karena itu, paparan harus disusun secara teratur, logis, dan lengkap.
Paragraf eksposisi sangat tepat digunakan untuk menyampaikan uraian-uraian ilmiah popular atau uraian-uraian ilmiah lainnya yang tidak bertujuan mempengaruhi pembacanya. Sebelum menyusun karangan eksposisi, tentu perlu mempersiapkan data-data atau fakta yang diperlukan untuk menjelaskan masalah yang dibahas.
Eksposisi harus memenuhi hal-hal berikut :
1.      Menjelaskan pendapat, gagasan dan keyakinan
2.      Memerlukan fakta yang diperkuat atau diperjelas dengan angka, peta statistik, grafik, organigram, dan gambar
3.      Memerlukan analisis dan sintesis pada saat pengupasan, dan
4.      Menggali sumber ide dari pengalaman, pengamatan dan penelitian, sikap dan keyakinan.
Ada beberapa pola pengembangan eksposisi, yaitu eksposisi perbandingan, eksposisi proses, eksposisi identifikasi, eksposisi klasifikasi, eksposisi analogi dan pertentangan, eksposisi contoh, dna eksposisi kausal.

Eksposisi perbandingan adalah karangan eksposisi yang menunjukkan persamaan dan perbedaan antara dua objek atau lebih dengan mempergunakan dasar-dasar tertentu. Eksposisi proses adalah karangan eksposisi yang menjelaskan teknik urutan pembutaan sesuatu misalnya resep makanan. Eksposisi identifikasi adalah karangan eksposisi yang menentukan identitas suatu hal.








BAB III
PENUTUP


A.      Simpulan
Kemampuan menulis merupakan salah satu kemampuan dasar dalam berbahasa bagi setiap orang. Ada berbagai macam bentuk tulisan atau paragraf yang dikenal dalam bahasa Indonesia yaitu paragraf deskripsi, narasi dan eksposisi.
Paragraf deskripsi merupakan paragraf yang bertalian dengan usaha untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang sedang dibicarakan. Paragraf narasi merupakan paragraf yang  berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Paragraf eksposisi merupakan paragraf yang berusaha menerangkan dan menguraikan suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau wawasan seseorang yang membaca uraian tersebut.

B. Implikasi
Dari pembahasan mengenai macam-macam paragraf tersebut diharapkan dapat memberikan implikasi yaitu pembaca dapat membedakan antara paragraf deskripsi, paragraf narasi dan paragraf eksposisi.

C. Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
1.      Hendaknya diadakan lomba penulisan berbagai bentuk paragraf antar mahasiswa.
2.      Perlu adanya pelatihan dalam hal penulisan suatu paragraf.





DAFTAR PUSTAKA


Aljatila, L.R. Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Deskriptif Melalui Model Kooperatif Tipe Round Table Pada Siswa Kelas X-1 SMAN 1 Kulisusu Barat.  Jurnal Humanika No. 15, Vol. 3, Desember 2015 / ISSN 1979-8296.

Hasnah. Peningkatan Keterampilan Siswa Menulis Paragraf Melalui Media Alam Di Kelas IV SDN 2 Kombo Kecamatan Dampal Selatan. Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 5 No. 11 ISSN 2354-6144

Marthasari, dkk. (2009). Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk SMK Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas

Pahlevi,R. (2013). Kemampuan Menulis Paragraf Deskripsi Siswa Berdasarkan Media Audiovisual Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Babalan Tahun Ajaran 2012/2013. Jurnal Bahasa. VOL 2, NO 1 (2013). ISSN 2301-5411





About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate