Thursday, December 26, 2019

Penggunaan Multimedia Interaktif Dalam Pembelajaran

1.    Pengertian Multimedia
Multimedia berasal dari kata multi dan media. Multi berasal dari bahasa Latin, yaitu nouns yang berarti banyak atau bermacam-macam, sedangkan kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu medium yang berarti perantara atau sesuatu yang dipakai untuk menghantarkan, menyampaikan, atau membawa sesuatu (Munir, 2013:2)
Geyeskyi 1993 dalam Munir (2013:2) mendefinisikan, “multimedia adalah kumpulan media berbasis komputer dari sistem komunikasi yang memiliki peran untuk membangun, menyimpan, menghantarkan dan menerima informasi dalam bentuk teks, grafik, audio, video dan sebagainya”. Menurut Azhar (1997:170) secara sederhana, “definisi multimedia dapat diartikan sebagai lebih dari satu media”. Hal itu bisa berupa kombinasi antara teks, grafis, animasi, suara dan video.
Menurut Arianty dan Haryono (2010:25) secara umum multimedia terbagi menjadi dua alur, yaitu : (a) Multimedia linier adalah multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekunsial (berurutan), contohnya : TV dan film; (b) Multimedia interaktif adalah multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna/user, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif yaitu multimedia pembelajaran interaktif, keping CD pembelajaran interaktif, aplikasi game, dan powerpoint. Multimedia interaktif merupakan multimedia berbasis komputer.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa multimedia sebenarnya adalah suatu istilah generik bagi suatu media yang menggabungkan berbagai macam media baik untuk tujuan pembelajaran maupun bukan. Keragaman media ini meliputi teks, audio, animasi, video, bahkan simulasi.
2.    Pengertian Multimedia Interaktif
Multimedia Interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya (Daryanto, 2013:51). Menurut Munir (2013:110), “Multimedia Interaktif adalah suatu tampilan multimedia yang dirancang oleh designer agar tampilannya memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan memiliki interaktifitas kepada penggunanya (user)”.
Philips, 1997 dalam Munir (2013:111) mengartikan, “multimedia interaktif sebagai sebuah frase yang menggambarkan gelombang baru piranti lunak komputer terutama yang berkaitan dengan bagian informasi”. Sedangkan Elsom-Cook, 2001 dalam Munir (2013:110) mendefinisikan, “multimedia ineraktif adalah kombinasi dari berbagai komunikasi saluran menjadi menjadi pengalaman komunikatif terkoordinasi yang bahasa lintas-channel yang terintegrasi penafsiran tidak ada”.
Pengertian interaktif terkait dengan komunkasi dua arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi. Komunikasi dalam multimedia interaktif (berbasis komputer) merupakan hubungan manusia (sebagai user/pengguna produk) dengan komputer (software/apliksi/produk dalam format file tertentu, biasanya dalam bentuk CD). Dengan demikian, produk/CD/aplikasi yang diharapkan memiliki hubungan dua arah/timbal balik antara software/aplikasi dengan user (Harto, 2008:3) dalam http://lutfizulfi_wordpress.com/2010/08/08/ pembelajaran-interaktif-berbasis-multimedia/
Dari beberapa uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa multimedia interaktif merupakan suatu tampilan multimedia yang dirancang agar tampilannya memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan memiliki interaksi kepada penggunanya/user. Tampilan multimedia merupakan gabungan dari media audio dan visual yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video maupun animasi yang terintegrasi dan telah dikemas menjadi file digital (komputerisasi).



3.        Karekteristik Multimedia Interaktif
Karakteristik Multimedia interaktif dalam pembelajaran menurut Munir (2013:115) yaitu: (1) Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual; (2) Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan respon pengguna; dan (3) Bersifat mandiri dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
Sedangkan menurut Ariani dan Haryanto, (2010:27), karakteristik media interaktif adalah sebagai berikut: (1) Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual; (2) Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna; (3) Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain; (4) Mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri; (5) Memperhatikan bahwa peserta didik mengikuti suatu urutan yang koheren dan terkendali.
Karakterisrik media interaktif menurut (Harto dalam Hakim dan Purnama, 2012:55) yaitu terkait dengan komunikasi 2 arah atau lebih dari komponen-komponen komunikasi. Komponen komunikasi dalam multimedia interaktif (berbasis komputer) adalah hubungan antara manusia (sebagai user/pengguna produk) dan komputer (software/aplikasi/produk dalam format file tertentu, biasanya dalam bentuk CD). Dengan demikian produk/CD/aplikasi yang diharapkan memiliki hubungan 2 arah/timbal balik antara software/aplikasi dengan usernya.
Dari uraian di atas multimedia interaktif memiliki karakteristik khusus yaitu dilengkapi alat pengontrol sehingga terdapat interaksi antara pengguna/user dengan tampilan multimedia interaktif. Dengan interaktivitas yang dimiliki oleh multimedia interaktif, maka multimedia interaktif dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan, salah satunya sebagai media pembelajaran. Sebagai media pembelajaran, tampilan multimedia interaktif memenuhi fungsi menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dan bersifat interaktif.

4.    Manfaat Multimedia Interaktif
Manfaat  penggunaan multimedia interaktif menurut Ariani & Haryono (2010:26) adalah, “proses pembelajaran jelas lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar (ceramah) dapat dikurangi, kualitas belajar peserta didik dapat lebih termotivasi dan terdongkrak dan belajar mengajar dapat dilakukan dimana dan kapan saja (sangat fleksibel), serta sikap dan perhatian belajar siswa dapat ditingkatkan dan dipusatkan”. Menurut Sucipta (2010:1-2), secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih efektif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan.
Susilana, dkk (2007:18) menerangkan manfaat multimedia yaitu, “Apabila multimedia pembelajaran dipilih, dikembangkan dan digunakan secara tepat dan baik, akan memberi manfaat yang sangat besar bagi para guru dan siswa. Secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan.

5.        Keunggulan Multimedia Interaktif
Daryanto (2013:52) mengemukakan bahwa keunggulan multimedia pembelajaran yaitu: (a) Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron, dan lain-lain; (b) Memperkecil benda yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan ke sekolah, seperti gajah, rumah, gunung, dan lain-lain; (c) Menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga dan lain-lain; (d) Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju dan lain-lain; (e) Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti  letusan gunung berapi, harimau, racun, dan lain-lain; (f) Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.
Sedangkan menurut Munir (2013:113) kelebihan menggunakan multimedia interaktif dalam pembelajaran diantaranya: (a) Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif; (b) Pendidik akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari terobosan pembelajaran; (c) Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran; (d) Menambah  motivasi peserta didik selama proses belajar  mengajar hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang diinginkan; (e) Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk diterangkan hanya sekedar dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional; (f) Melatih peserta didik lebih   mandiri  dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.
Menurut Swajati (2005:11) pemanfaatan multimedia interaktif yaitu: (a) Mampu  menampilkan  multimedia dengan file yang lebih besar; (b) Jauh lebih hemat dibandingkan pemanfaatan media secara online; (c) Tingkat interaktivitasnya tinggi karena lebih banyak pengalaman belajar melalui teks audio, video, hingga animasi yang dikemas dengan tayangan gambar yang ditampilkan bersama judul dan narasi suara dan penampilan tingkah laku atau proses yang kompleks.
Berdasarkan uraian di atas, maka multimedia interaktif mempunyai banyak kelebihan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran. Adapun manfaat kegunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran yaitu: (a) Proses pembelajaran lebih menarik karena tampilannya berupa dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video maupun animasi; (b) Efisien waktu yang digunakan; (c) Meningkatkan aktivitas siswa; (d) Bersifat interaktif, terdapat interaksi antara media dan pengguna/user.
Meskipun multimedia interaktif mempunyai banyak kelebihan dan manfaat, tetapi dalam penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran juga harus mengingat dan mempertimbangkan kelemahan yang dimiliki oleh multimedia interaktif tersebut. Adapun kekurangan/kelemahan multimedia interaktif menurut Swajati (2010) diantaranya yaitu: (a) Design yang buruk menyebabkan kebingungan sehingga pesan tidak dapat tersampaikan dengan baik; (b) Kendala bagi orang dengan kemampuan terbatas/cacat/disable; (c) Tuntutan terhadap spesifikasi komputer yang memadai.
Oleh karena itu, seorang guru harus jeli dalam memilih media dalam pembelajaran. Guru harus dapat memaksimalkan manfaat/kegunaannya dan meminimalkan kelemahan yang dimiliki  oleh media tersebut. Guru juga harus dapat mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan dari media yang digunakan.

6. Langkah-langkah Penerapan Multimedia Interaktif
Untuk menerapkan penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran diperlukan langkah-langkah yang tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Adapun langkah-langkah dalam menerapkan multimedia interaktif dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut :
a.    Persiapkan tema atau bahan materi ajar yang akan disampaikan.
b.    Persiapkan perlengkapan multimedia interaktif yang akan digunakan.
c.    Kondisikan kelas seperti lampu sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.
d.   Kondisikan siswa agar selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan dapat mengikuti dengan baik.
Langkah-langkah dalam menerapkan multimedia interaktif dalam kegiatan pembelajaran tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Metode Problem solving



Metode problem solving atau metode pemecahan masalah juga merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Menurut Syaiful Bahri, metode problem solving bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi  juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.[1]
Menurut N.Sudirman, metode problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Metode problem solving ini sesuai jika digunakan pada siswa sekolah dasar di kelas tinggi. Prosedur dalam metode problem solving dapat dilakukan sebagai berikut:
1)        Merumuskan dan membatasi masalah, masalah yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau masalah aktual biasanya lebih kompleks. Karena itu, siswa harus merumuskan dahulu menjadi masalah yang jelas dan membatasi masalah tersebut.
2)        Merumuskan dugaan dan pertanyaan, siswa di bawah bimbingan guru ditugaskan untuk membuat pertanyaan atau merumuskan dugaan atau jawaban dari pemasalahan, artinya dugaan tersebut dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan.
3)        Mengumpulkan data atau mengolah data, untuk menjawab permasalahan yang telah diajukan. Data tersebut dapat diperoleh dari buku, dokumen atau informasi langsung dari narasumbernya.
4)        Membuktikan atau menjawab pertanyaan, data-data yang diperoleh dikelompokan atau dianalisis atau diklarifikasi untuk menjawab pertanyaan.
5)        Merumuskan kesimpulan, hasil pembuktian tersebut dirumuskan menjadi alternatif jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan dapat berupa alternatif tindakan, upaya-upaya untuk masalah yang dihadapi.
Ada beberapa  kriteria pemilihan bahan pelajaran untuk metode pemecahan masalah yaitu:
a)         Mengandung isu – isu yang mengandung konflik bisa dari berita, rekaman video dan lain – lain
b)        Bersifat familiar dengan siswa
c)         Berhubungan dengan kepentingan orang banyak
d)        Mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki siswa sesuai kurikulum yang berlaku
e)         Sesuai dengan minat siswa sehingga siswa merasa perlu untuk mempelajari.
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari  metode pemecahan masalah banyak digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lainnya. Dengan metode ini guru tidak memberikan informasi dulu  tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalahnya. Pembelajaran pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan.
Kelebihan metode problem solving
a)         Masing-masing siswa diberi kesempatan yang sama dalam mengeluarkan pendapatnya sehingga para siswa merasa lebih dihargai dan yang nantinya akan menumbuhkan rasa percaya diri
b)         Para siswa akan diajak untuk lebih menghargai orang lain
c)          Untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan lisannya
Kekurangan metode problem solving
a)         Karena tidak melihat kualitas pendapat yang disampaikan terkadang penguasaan materi sering diabaikan
b)         Metode ini sering kali menyulitkan mereka yang sungkan mengutarakan pendapat secara lisan


[1] Syaiful Bahri Djamara. Strategi Pembelajaran di SMP. (Jakarta: Universitas Terbuka,2006), h.103

Metode Diskusi



Menurut Martinis Yamin, metode diskusi merupakan interaksi antara peserta didik dan peserta didik atau peserta didik dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu.[1]
Sedang menurut J. J Hasibuan dan Moedjiono metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa)untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.[2]

Terdapat bermacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, antara lain:
1)        Diskusi Kelas
Diskusi kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Prosedur yang digunakan dalam jenis diskusi ini adalah: pertama, guru memberikan tugas sebagai pelaksanaan diskusi, misalnya siapa yang akan menjadi moderator, siapa yang menjadi penulis. Kedua, sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit. Ketiga, siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator. Keempat, sumber masalah memberi tanggapan,dan kelima, moderator menyimpulkan hasil diskusi.  


2)        Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.
3)        Simposium
Simposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Simposium dilakukan untuk memberikan wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya tentaang masalah yang dibahas, maka simposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.
4)        Diskusi Panel
Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Diskusi panel ini berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiens tidak terlibat secara langsung, tetapi berperan hanya sekedar peninjau para panelis yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif perlu digabungkan dengan metode lain, misal dengan metode penugasan. Siswa disuruh untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi. 
Metode diskusi sering digunakan dalam pembelajaran kelompok atau kerja kelompok yang didalamnya melibatkan beberapa orang siswa untuk menyelesaikan pekerjaan tugas atau permasalahan. Aktivitas siswa dalam diskusi harus dibimbing, dan dapat diterapkan cara berfikir yang sistematik dengan menggunakan logika berfikir yang ilmiah. Secara langsung maupun tidak langsung siswa akan ditempatkan sebagai objek sekaligus subjek dalam pembelajaran. Disamping itu siswa akan terlatih dalam kemampuan bekerja sama dan kemampuan berbahasa secara lisan maupun tulisan.
Kemampuan guru perlu dipersiapkan dalam melaksanakan pembelajaran diskusi, yaitu:
a.         Mampu merumuskan permasalahan sesuai dengan kurikulum yang berlaku,
b.         Mampu membimbing siswa untuk merumuskan dan mengidentifikasi permasalahan serta menarik kesimpulan,
c.         Mampu mengelompokkan siswa sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kemampuan siswa,
d.        Dan mampu mengelola pembelajaran melalui diskusi, dan
e.         Menguasai permasalahan yang didiskusikan.

Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang pelaksanaan diskusi diantaranya adalah:
a.         Memiliki motivasi, perhatian, dan minat dalam berdiskusi,
b.         Mampu melaksanakan diskusi,
c.         Mampu menerapkan belajar secara bersama,
d.        Mampu mengeluarkan isi fikiran atau pendapat/ide, dan
e.         Mampu memahami dan menghargai pendapat orang lain.

Metode diskusi mempunyai beberapa keunggulan dan kekurangan.
a)    Keunggulan metode diskusi
§   Bertukar fikiran;
§   Menghayati permasalahan;
§   Merangsang siswa untuk berpendapat;
§   Mengembangkan rasa tanggung jawab;
§   Membina kemampuan berbicara;
§   Belajar memahami pendapat atau fikiran orang lain;
§   Memberi kesempatan belajar.

b)    Kekurangan metode diskusi
§   Relatif memerlukan waktu yang cukup banyak;
§   Apabila siswa tidak memahami konsep dasar permasalahan maka diskusi tidak akan efektif;
§   Materi pelajaran dapat menjadi lebih luas;
§   Yang aktif hanya siswa tertentu saja.


[1] Martinis Yamin. Strategi & Metode Dalam Model Pembelajaran. (Jakarta: Referensi (GP Press Group), 2013), h. 156
[2] J. J Hasibuan dan Moedjiono. Proses belajar mengajar. (Bandung: Remaja Rosdakarya,2012), h. 20.

Pengertian Belajar Dan Metode Mengajar



Banyak orang mengatakan belajar itu adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah saja dan ada yang mengatakan belajar itu hanya kegiatan membaca dan menulis. Salah seorang pakar pendidikan, Gagne berpendapat bahwa belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang, melalui aktifitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.[1]
Salah satu ahli psikologi, Skinner, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. B.J Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil apabila ia diberi penguat (reinforcer).[2]
Menurut beberapa ahli lain belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya fikir, dan lain-lain kemampuan.[3]
Adapun pengertian belajar dalam tulisan ini adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.
Metode mengajar merupakan suatu cara yang dilakukan oleh seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Teori mengenai metode mengajar sudah banyak dikemukakan oleh ahli pendidikan baik di Indonesia maupun di mancanegara. Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dalam pengertian lain metode mengajar merupakan cara-cara yang digunakan guru untuk menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan.
Tyson and Caroll mengemukakan bahwa mengajar ialah away working with students,. A process of intraction the teacher does something to students, the students do something on return. Dari definisi itu tergambar bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara peserta didik dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.[4]

Metode dalam mengajar berperan sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Dengan metode ini diharapkan terjadi interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru dalam proses pembelajaran. Guru sebagai salah satu sumber belajar dan yang mengorganisir, memfasilitasi, serta memotivasi kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Sedangkan siswa melakukan aktivitas belajar dan memperoleh pengalaman belajar yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku baik kognitif, afektif, dan psikomotor dengan bantuan dan bimbingan dari guru.


[1] Agus Suprijono. Cooperative Learning. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), h. 2
[2] Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan baru.( Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996),h. 91
[3] Thursan Hakim. Belajar secara efektif. (Jakarta: Puspa Swara, 2000), h. 1

Hakekat Hasil Belajar


      
Hasil belajar yang ideal adalah meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun perubahan tersebut sangat sulit untuk diungkapkan atau ditampilkan secara menyeluruh, terutama perubahan ranah rasa siswa. Guru dapat mengambil cuplikan perubahan hasil belajar yang dianggap penting yang mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta, karsa dan rasa.
Evaluasi keseluruhan proses belajar dilihat dari hasil belajar. Dengan melakukan evaluasi terhadap hasil belajar kita dapat memperoleh gambaran tentang efek-efek belajar yang telah dilakukan. Dengan demikian hasil belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang yang berpartisipasi dalam kegiatan belajar.[1]
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut pemikiran Gagne, hasil belajar berupa :
a.         Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
b.         Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasikan, kemampuan analitis fakta-fakta konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
c.         Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d.        Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urutan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e.         Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan ekternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar prilaku.[2]

Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat internal atau eksternal. Perubahan yang terjadi biasanya dapat dilihat dengan bertambah baiknya atau meningkatnya kemampuan yang dicapai seseorang. Pengertian hasil belajar merupakan segala sesuatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
a.         Faktor internal (dalam diri siswa) yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani. Seperti tingkat kecerdasan / intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat dan motifasi siswa.
b.         Faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan disekitar diri siswa yang terdiri dari dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan lingkungan non sosial.
c.         Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat belum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.


[1] Dewa Ketut Sukardi. Pengantar Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 253
[2] Agus Suprijono. Cooperative Learning. (Yogyakarta: Pustaka belajar, 2009), h. 6

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate