Sunday, November 1, 2020

Negosiasi

 Secara umum kata “negosiasi’ berasal dari kata to negotiate, to be negotiating dalam bahasa inggris yang berarti “ merundingkan,membicarakan kemungkinan tentang suatu kondisi atau tawar menawar” sedangkan kata-kata turunannya adalah antara lain “negotiation” yang berarti menunjukkan suatu proses atau aktivitas untuk merundingkan,membicarakan sesuatu hal untuk di sepakati dengan orang lain”,dan “negotiable” yang berarti “dapat di rundingkan, dapat di bicarakan, dapat di tawar”.

       Negosiasi adalah bentuk interaksi sosial saat pihak-pihak yang terlibat berusaha saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Sedangkan menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai kesepakatan melalui diskusi formal. Negosiator adalah orang yang melakukan negosiasi. Negosiasi perlu dilakukan karena pihak-pihak yang berkepentingan perlu membuat kesepakatan mengenai persoalan yang menuntut penyelesaian. Serangkaian tindakan dilakukan agar negosiasi berjalan dengan lancar.

        Tindakan tersebut adalah:

a.            Mengajak untuk membuat kesepakatan.

b.           Memberikan alasan mengapa harus ada kesepakatan.

c.            Membandingkan beberapa pilihan.

d.           Memperjelas dan menguji pandangan yang dikemukakan.

e.            Mengevaluasi kekuatan dan komitmen bersama,dan

f.              Menetapkan dan menegaskan kembali tujuan negosiasi.    

 

         Ada beberapa tujuan dari sebuah negosiasi dalam bisnis,antara lain:

1.  Untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi,saling pengertian,dan adanya persetujuan.

2.  Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang di hadapi bersama.

3.  Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi saling menguntungkan dimana masing-masing pihak merasa menang(win-win solution).

Ciri-ciri negosiasi yaitu:

a.       Melibatkan orang banyak/2 orang pihak.

b.      Hampir selalu berbentuk tatap muka.

c.       Menggunakan bahasa lisan,gerak tubuh, maupun ekspresi wajah.

d.      Negosiasi menyangkut hal-hal tawar menawar.

e.       Adanya kesamaan tema masalah yang di negosiasikan.

f.         Adanya kerja sama dari kedua belah pihak tersebut.

g.       Bertujuan untuk mengkongkretkan masalah yang masih abstrak.

Selama melakukan negosiasi, hendaknya di hindari hal-hal yang dapat merugikan kedua belah pihak. Untuk itu, komunikasi dalam negosiasi dilakukan dengan cara-cara  yang santun. Cara-cara itu dapat di tempuh dengan:

a.     Menyesuaikan pembicaraan ke arah tujuan praktis.

b.    Mengakomodasi butir-butir perbedaan dari kedua belah pihak

c.     Mengajukan pandangan baru dan mengabaikan pandangan yang sudah ada tanpa memalukan kedua belah pihak.

d.    Mengalokasikan tugas dan tanggung jawab masing-masing,dan

e.      Memprioritasikan dan mengelompokan saran atau pendapat dari kedua belah pihak.

Tahap-tahapan negosiasi antara lain:

  1.Persiapan dan perencanaan

Pada tahap ini kita di harapkan bisa memutuskan apa yang kita mau dan kenapa.

Pengumpulan data sangat di perlukan untuk mendukung posisi kita. 

Penyampaian argumen dalam mendukung posisi kita haruslah dengan bijaksana. Selain itu kita juga harus menentukan apa yang diinginkan pihak lain dan kenapa. Mengerti kemampuan kita dan pihak lain serta mengatur dan mengembangkan strategi kita dalam bernegosiasi.

2.Definisi peraturan

Menentukan garis besar dan aturan untuk bernegosiasi,siapa yang akan menjadi bagian dari negosiasi  dan masalah apa yang akan kita negosiasikan. Waktu dan tempat negosiasi juga perlu kita tentukan, kapan dilakukan, berapa lama dan lokasi negosiasi.

3.Penjelasan dan pembenaran

Dalam tahap ini masing-masing pihak mengutarakan apa yang diinginkan. Kita bisa memberikan dokumentasi yang diperlukan untuk mendukung posisi kita.

4. Tawar-menawar dan penyelesaian masalah

Pencarian solusi dilakukan pada tahap ini. Kedua belah pihak diharapkan saling  fokus pada masalah dan kepentingan bukan pada orang atau posisi. Pandangan kedepan diperlukan untuk mempercepat menemukan titik temu. Mengungkit-ungkit masa lalu akan memperlambat proses penyelesain masalah. Ide yang  menarik dan bervariasi  bisa muncul dalam rangka menyelesaikan  masalah.

 5. Penutupan dan implementasi

Ini adalah tahap terakhir dari negosiasi.  Segala sesuatu yang diputuskan bersama hendaknya diformalkan. Hal-hal yang musti dipastikan adalah:

     A. Dokumen yang  sudah  disepakati.

     B. Meneliti kembali poin-poin utama untuk menghindari salah                   pengertian.

     C. Uraikan dengan jelas semua ketetapan dari persetujuan .

     D. Buatlah secara tertulis.

     E. Kedua belah pihak harus membaca dan menandatangani untuk memperoleh kesepakatan  atas apa yang dirundingkan.

Ciri-ciri/karakteristik negosiasi yaitu:

Adapun ciri-ciri negosiasi dapat disebutkan seperti berikut ini:

1.    Pelaku negosiasi minimal dilakukan oleh dua orang atau kelompok.

2.    Kedua belah pihak saling memiliki kepentingan yang sama.

3.    Minimal kedua belah pihak pernah melakukan hubungan kerjasama.

4.    Mempunyai tujuan yang sama.

5.    Aktivitas umumnya melibatkan presentasi yang bersifat penawaran dan permintaan diantara

        kedua orang atau kelompok.

    Keuntungan/kekurangan negosiasi yaitu:

1.    Keuntungan Negosiasi :
a. Mengetahui pandangan pihak lawan.
b. Kesempatan mengutarakan isi hati untuk didengar pihak lawan.
c. Memungkinkan sengketa secara bersama-sama.
d. Mengupayakan solusi terbaik yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.
e. Tidak terikat kepada kebenaran fakta atau masalah hukum.
f.   Dapat diadakan dan diakhiri sewaktu-waktu.

2.    Kelemahan/kekurangan Negosiasi :
a. Tidak dapat berjalan tanpa adanya kesepakatan dari kedua belah pihak.
b. Tidak efektif jika dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang mengambil
 kesepakatan.
c. Sulit berjalan apabila posisi para pihak tidak seimbang.
d. Memungkinkan diadakan untuk menunda penyelesaian untuk mengetahui informasi yang dirahasiakan lawan.
e. Dapat membuka kekuatan dan kelemahan salah satu pihak.
f. Dapat membuat kesepakatan yang kurang menguntungkan.

Prasyarat negosiasi yang efektif yaitu:

Prasyarat  Negosiasi  yang  efektif  yaitu:
a. Kemauan (Willingness) untuk menyelesaikan masalah dan bernegoisasi secara sukarela.
b. Kesiapan (Preparedness) melakukan negoisasi.
c. Kewenangan (authoritative) mengambil keputusan.
d. Keseimbangan kekuatan (equal bergaining power) ada sebagai saling ketergantungan.
e. Keterlibatan seluruh pihak (steaholdereship) dukungan seluruh pihak terkait.
f. Holistic (compehenship) pembahasan secara menyeluruh.
g. Masih ada komunikasi antara para pihak.
h. Masih ada rasa percaya dari para pihak.
i. Sengketa tidak terlalu pelik.
j. Tanpa prasangka dan segala komunikasi atau diskusi yang terjadi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti.

Hal-hal yang mendukung bernegosiasi yaitu:

1.Harus win-win

Pada saat melakukan penawaran, pastikan lawan anda menang terlebih dahulu,kemudian baru anda menang. Karena ketika memastikan orang lain  menang, mereka akan dengan senang hati memberikan apa yang anda inginkan.

2.Mintalah

Meminta adalah hal yang harus dilakukan dalam bernegosiasi, buatlah pernyataan apa saja yang anda harapkanbisa didapat dari calon prospek anda.

Jangan menunggu mereka yang membuatkan pernyataan untuk anda.

3.Buat orang menyukai anda

Sebelum bernegosiasi, buatlah orang tersebut menyukai anda terlebih dahulu. Karena ketika anda sudah masuk ke zona aman dari lawan prospek anda, untuk bernegosiasi meminta apa yang anda inginkan akan jauh lebih mudah.

Cara ini bisa dimulai dengan bertanya apa hobi anda, atau makanan favorit, apapun topik di luar negosiasi anda.

4. Pada saat mau menawarkan pastikan anda “WHY”

Riset membuktikan ketika anda menggunakan alasan dalam meminta sesuatu, maka tingkat orang yang mengiyakan permintaan anda akan meningkat

5. Never kiil

Jangan mengakhiri negosiasi dengan dead-end strategy maksudnya sudah bulat hasil; dari Negosiasi, pakailah strategi “selesai bersyarat”, misalkan  “harganya segini sudah cocok,tapi nanti istri

saya yang menentukan suka atau tidaknya pemandangan dari unit ini”.

 6. Tanyakan berapa harga paling minim

Setiap orang dalam bernegosiasi pasti sudah ada angka minimal yang harus mereka capai dalam meeting tersebut, Anda bisa langsung menanyakan berapa harga terendah yang bisa di berikan untuk anda.

7. Harus tau tujuan anda

Nah,menyambung dari point yang sebelumnya,jangan sampai anda yang tidak tau angka atau hasil apa yang anda harapkan, serta kemungkinan terbaik dan serta kemungkinan terburuk dari hasil pencapaian negosiasi ini. 

8. Buat kompetisi

Ketika dihadapkan dengan kompetisi,yakni yang mau mengambil penawaran anda lebih dari

1, biasanya merektakan berkompetensi sendiri untuk menurunkan harga dari produk/ jasa mereka.

 

9.Negosiasi dengan orang yang tepat

Nah,semua cara di atas akan menjadi kurang berguna ketika anda bernegosiasi dengan orang yang bukan “decision maker”(mempunyai hak untuk mengambil keputusan selalu cari tau siapa yang memegang peranan penting dalam hal menyetujui hasil negosiasi.

Cara melakukan negosiasi yaitu:

Selama melakukan negosiasi,hendaknya hindari hal-hal yang dapat merugikan kedua belah pihak.

Untuk itu, berkomunikasi dalam negosiasi dilakukan dengan cara –cara yang santun.

Cara-cara itu dapat di tempuh dengan:

A.    Menyesuaikan pembicaraan kearah tujuan praktis

B.    Mengakomodasi butir-butir perbbedaan dari kedua belah pihak

C.    Mengajukan pandangan baru dan mengabaikan pandangan yang sudah ada tanpa memalukan kedua belah pihak

D.   Mengalokasikan tugas dan tanggung jawab masing-masing,dan

Memprioritasikan dan mengelompokan saran atau pendapat dari kedua belah pihak

Pendekatan CTL dalam Pembelajaran IPS di SD

 IPS merupakan pendidikan yang memiliki misi membantu peserta didik dalam mengembangkan potensinya untuk menggali, mengelola, sumber-sumber fisik dan sosial yang ada di lingkungan sekitarnya. Sehingga mereka dapat hidup selaras dengannya. Pembelajaran IPS sebagai salah satu program pengajaran yang membina dan menyiapkan kehidupan sosial yang baik serta peserta didik sebagai “warga negara Indonesia yang baik dan memasyarakat” diharapkan mampu membina perubahan dan harapan-harapan baru tersebut. Para pelaksana pembelajaran IPS harus selalu mengikuti gejolak kehidupan dan perkembangan masyarakat di sekitarnya, bangsa dan negara dan bahkan kehidupan dunia pada umumnya.

Pembelajaran IPS sebagai bagian program pengajaran di SD, baik secara progmatik maupun prosedural harus berkaitan dan berkesinambungan dengan pembelajaran IPS jenjang selanjutnya (SLTP). Pengenalan pada keadaan lingkungan, baik keadaan lingkungan sosial masyarakat maupun keadaan lingkungan fisik atau geografis yang selalu berubah merupakan materi yang diajarkan dalam proses pembelajaran IPS di SD.

Menurut Bandono (2010:1) CTL merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu peserta didik untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga peserta didik memiliki pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

Pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa sehingga dapat mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa karakteristik Contextual Teaching and Learning menurut Sutarji dan Sudirjo (2007: 103-104), yaitu:

a.    Membuat hubungan penuh makna. Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam berkelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat.

b.    Melakukan pekerjaan penting. Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai anggota masyarakat.

c.    Belajar mengatur sendiri. Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produk/hasilnya yang sifatnya nyata.

d.   Kerja sama. Siswa dapat bekerja sama. Guru  membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

e.    Berpikir kritis dan kreatif. Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan bukti-bukti dan logika.

f.     Memelihara individu. Siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa.

g.    Mencapai standar tinggi, Penggunaan penilaian sebenarnya. Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence

h.    Mengadakan assesmen autentik. Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambar informasi akademis yang telah mereka pelajari untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Dalam pembelajaran CTL dapat dilakukan dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yang efektif yaitu :

a.    Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pada CTL, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan bukan secara tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, tetap harus dikontruksikan melalui pengalaman dengan pemecahan masalah.

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut pengembang filsafat kontruktivisme Mark Baldwin dan dikembangkan serta diperdalam oleh Jean Piaget menyatakan bahwa “Pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya”. Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah, menemukan hal-hal yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan gagasan-gagasan (Nurhadi, 2004:31).

Landasan berpikir pada kontruktivisme adalah strategi lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pembelajaran. Esensi dari kontruktivisme adalah bagaimana pembelajaran dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka sendiri.

b.    Inkuiri

Inquiry artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Proses menemukan inilah yang dirangsang secara optimal lewat penerapan strategi pembelajaran CTL. Karena strategi pembelajaran CTL menekankan keaktifan siswa dalam menemukan sendiri pengetahuan. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi juga hasil dari menemukan sendiri.

Sanjaya (2008: 265) mengatakan “belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itu diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosional, maupun pribadinya”.

c.    Bertanya (Questioning)

Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Cara guru memancing siswa untuk bertanya akan dapat tereksplorasi dengan baik. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan seseorang dalam berpikir. Oleh karena itu bertanya dan menjawab pertanyaan menerapkan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual. Pada semua aktivitas belajar, bertanya dan menjawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, maupun antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

d.   Masyarakat Belajar (Learning Community)

Dalam learning community, pengetahuan siswa didapatkan dari sharing dengan orang lain, antara teman, antara kelompok; yang sudah tahu memberikan kepada yang belum tahu, yaitu mempunyai pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerja sama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain.

Selain itu dalam kelas CTL, penerapannya dapat dilakukan melalui kelompok belajar yang bersifat heterogen, yang dapat dilihat dari kemampuannya, bakatnya, kecepatan belajarnya, maupun dari minatnya. Dalam kelompok tersebut biarkan anak saling belajar memberitahukan kepada yang belum tahu, yang terpenting adalah siswa diharapkan mampu menularkan kemampuan dan pengalamannya kepada siswa yang lainnya. Dalam kondisi penerapannya guru dapat mengundang orang yang dianggap memiliki keahlian dan sekiranya selaras dengan materi pelajaran yang akan dan telah dipelajari di kelas.

e.    Pemodelan (modeling)

Modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya: guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberikan contoh bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi memberikan contoh bagaimana cara menggunakan termometer, dan lain sebagainya. Proses modeling tidak sebatas  dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.

Pada asas modeling ini, guru dalam pembelajarannya menggunakan alat peraga sebagai contoh yang menunjang pembelajaran agar dapat ditiru oleh siswa. Sebagai contoh, guru dapat menggunakan alat peraga tertentu, atau bagaimana melafalkan bahasa asing yang tepat. Pembelajaran akan menjadi lebih cepat manakala guru menyiapkan model pembelajaran, misalnya: guru menyuruh siswa untuk mengukur luas sebuah buku gambar yang kemudian ditiru oleh siswa.

f.     Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Refleksi merupakan perenungan pembelajaran yang baru dipelajari, yang nantinya dapat diambil kesimpulan tentang pembelajaran yang baru dipelajari tadi. Perenungan itu nantinya dapat menghasilkan wawasan baru atau hanya sekedar pemahaman berkelanjutan.

g.    Penilaian sebenarnya (Aunthentic Assesment)

Pada tahap penilaian, guru tidaklah langsung menilai kemampuan siswa secara langsung, akan tetapi guru menilai dari segi bagaimana pemanfaatan pemahaman siswa pada materi yang telah dipelajarinya dengan diintegrasikan dengan pengalamannya. Penilaian bukan bersifat tes bagaimana siswa menjawab soal-soal yang diberikan, akan tetapi penilaian ini menitikberatkan pada pola pemahaman siswa.

Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan pada aspek intelektual sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.

Pelaksanaan pendekatan CTL dalam pembelajaran IPS topik kedudukan dan peran anggota keluarga terdiri dari tiga tahap, yaitu:

a.    Tahap sebelum pertemuan, pada tahap ini kegiatan dilaksanakan adalah membuat rencana pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL.

b.    Tahap pertemuan, pada tahap ini guru melaksanakan perencanaan pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Kegiatan ini meliputi pendahuluan, inti dan penutup.

Tahap setelah pertemuan, pada tahap ini guru mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakannya. Kegiatan evaluasi ini sering disebut juga merefleksi diri dilakukan dengan mencatat segala kekurangan yang ada dalam pembelajaran yang harus diperbaiki ataupun hal-hal yang cukup baik yang harus ditingkatkan dalam pembelajaran selanjutnya. 

BIAYA BERSAMA

 


A.      Definifisi Biaya Bersama

Biaya bersama diartikan sebagai biaya overhead bersama (joint overhed cost) yang dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya berdasarkan pesanan maupun yang kegiatan produksinya dilakukan secara massa. Biaya produk bersama (joint personal cost) adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya produk bersama terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

Pengertian pertama biaya bersama tersebut diatas disebut biaya bergabung (common cost), sedangkan pengertian kedua disebut biaya bersama (joint cost). Biaya bergabung adala biaya-biaya untuk memproduksi dua atau lebih produk yang terpisah (tidak diolah bersama) dengan fasilitas sama pada saat yang bersamaan. Biaya bergabung dan biaya bersama mempunyai satu perbedaan pokok yaitu bahwa biaya bergabung dapat diikuti jejak alirannya ke berbagai produk yang terpisah tersebut atas dasar sebab akibat, atau dengan cara menelusuri jejak penggunaan fasilitas.

 

B.       Karakteristik Produk Bersama, Produk Sampingan, dan Produk Sekutu

            Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut. 

a.       Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.

b.      Harga jual produk bersama atau produk sekutu relatif tinggi bila dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan pada saat yang sama.

c.       Dalam mengolah produk bersama tertentu, produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk menghasilkan semua jenis produk bersama, jika ia ingin memproduksi hanya salah satu diantara produk bersama tersebut. Dalam perusahaan daging kalengan misalnya, setiap kali penyembelihan sapi, akan diperoleh daging, kulit, dan lemak. Jika produsen hanya ingin mengolah daging saja, tidak bisa tidak ia harus memanfaatkan kulitnya (dibuat makanan atau dijual dalam bentuk kulit).

Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat terpisah dari produk utama (main product).

a.       Produk sampingan yang dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.

b.       Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk utama.

 

 

 

BIAYA TENAGA KERJA

 


Definisi tenaga kerja

Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk. Biaya tanaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.

 

A.      Penggolongan kegiatan dan biaya tenaga kerja
 Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok produksi,pemasaran,dan administrasi.
Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap golongan tersebut.

a.       Biaya tenaga kerja produksi : gaji karyawan,biaya kesejahteraan karyawan pabrik,upah lembur karyawan pabrik,upah mandor pabrik,gaji manajer pabrik.

b.       Biaya tenaga kerja pemasaran : upah karyawan pemasaran,biaya kesejahteraan karyawan pemasaran,biaya komisi pramuniaga,gaji manajer pemasaran.

a.       Biaya tenaga kerja administrasi dan umum : gaji karyawan bagian akuntansi, bagian personalia , bagian secretariat, biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi, biaya kesejahteraan karyawan bagian personalia, biaya kesejahteraan karyawan bagian secretariat.

B.      Penggolongan menurut kegiatan departemen - departemen dalam perusahaan
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga kerja bagian personalia, dll.

C.       Penggolongan menurut jenis pekerjaan
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya . Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor, upah penyelia, upah operator.

D.       Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.

 

Akuntansi Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja dibagi ke dalam 3 golongan besar, yaitu :
1. Gaji dan upah regular yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan -potongan seperti pajak penghasilan dan biaya asuransi.
2. Premi lembur
3. Biaya -biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.

 

Gaji dan upah
                Cara penghitungan upah karyawan dalam perusahaan salah satunya adalah dengan mengalikan tariff upah dengan jam kerja karyawan. Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama periode tertentu. Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu hadir ( clock card) dan kartu jam kerja (job time ticket).
                Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan. Sedangkan kartu jam kerja untuk mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau produk. Kartu jam kerja biasanya hanya digunakan untuk mencatat pemakaian hadir tenaga kerja langsung di pabrik
Kartu jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke bagian akuntansi biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah tenaga kerja langsung.
 
Insentif
 nsentif dapat didasarkan atas waktu kerja, hasil yang diproduksi atau kombinasi diantara keduanya.
Ada beberapa cara pemberian insentif :
a. Insentif satuan dengan jam minimum ( Straight Piecework with a Guaranteed hourly Minimum Plan )
Karyawan dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan jumlah satuan keluaran (output) standar. Untuk hasil produksi yang melebihi jumlah standar tersebut karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar jumlah kelebihan satuan keluaran di atas standar kali tariff upah per satuan. Tariff upah per satuan dihitung dengan cara membagi upah standar dengan satuan standar jam.
b. Taylor Differential Piece Rate Plan
Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang menggunakan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.
c. Premi lembur

Dalam perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam satu minggu, maka mereka berhak menerima uang lembur dan premi lembur.premi lembur dihitung sebesar 50 % dari tariff upah.
Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan-alasan terjadinya lembur tersebut. Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya lembur tersebut. Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan pelanggan / pemesan mau menerima beban tambahan karena lembur tersebut.
Premi lembur dapat diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik atau dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya periode ( period expenses ). Perilaku ini hanya dapat dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau pemborosan waktu

 

Masalah – masalah khusus yang berhubungan dengan bahan baku

 


Dalam bagian ini diuraikan akuntansi biaya bahan baku, jika dalam proses produksi terjadi sisa bahan (scrap materials), produk cacat (defective goods), dan produk rusak (spoiled goods).

1.       Sisa bahan (scrap materials)

Bahan yang mengalami kerusakan di dalam proses pengerjaannya disebut sisa bahan. Perlakuan terhadap sisa bahan tergantung dari harga jual sisa bahan itu sendiri. Jika harga jual sisa bahan rendah, biasanya tidak dilakukan pencatatan jumlah dan harganya sampai saat penjualannya. Tetapi jika harga jual sisa bahan tinggi, perlu dicatat jumlah dan harga jual sisa bahan tersebut dalam kartu persediaan pada saat sisa bahan diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.

Jika di dalam proses produksi terdapat sisa bahan, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. hasil penjualan sisa bahan dapat diperlukan sebagai :

a.       Pengurangan biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut.

b.      Pengurangan terhadap biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.

c.       Penghasilan di luar usaha (other income)

2.       Produk Cacat (Defective Goods)

Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standard mutu yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.

Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambah untuk pengerjaan kembali (rework costs) produk cacat tersebut. jika produk cacat bukan merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses produksi, tetapi karena karakteristik pengerjaan pesanan tertentu, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat di bebankan sebagai tambahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan.

3.       Produk Rusak (Spoiled Goods)

Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standard mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat di perbaiki menjadi produk yang baik. Produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.

Perlakuan terhadap produk rusak adalah tergantung dari sifat dan sebab terjadinya :

a.       Jika produk rusak terjadi karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau faktor luar biasa yang lain, maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan. Jika produk rusak tersebut masih laku dijual, maka hasil penjualannya diperlakukan sebagai pengurangan biaya produksi pesanan yang menghasilkan produk rusak tersebut.

b.      Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produksi secara keseluruhan, dengan cara memperhitungkan kerugian tersebut di dalam tarif biaya overhead pabrik.     

Metode Pencatatan Biaya Bahan Baku

 


Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi : metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan metode persediaan fisik (physical inventory method). Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan. Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari pembeliaan saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak catat dalam kartu persediaan.

Metodepersediaan fisik adalah cocok digunakan dalam penentuan biaya bahan baku dalam perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan  dengan metode harga pokok proses. Metode mutasi persediaan adalah cocok digunakan dalam perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.

1.       Metode identifikasi khusus (specific identification method). Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga pokok persatuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap – tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat diketahui harga pokok persatuannya secara tepat. Metode ini merupakan metode yang paling teliti dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, namun sering kali tidak praktis. Metode ini sangat efektif dipakai apabila bahan baku yang dibeli bukan merupakan barang standar dan dibeli untuk memenuhi pesanan tertentu.

2.       Metode masuk pertama, keluar pertama (First – in, First – out Method)

Metode masuk pertama, keluar pertama (metode MPKP) menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa harga pokok prsatuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali dipakai.

3.       Metode masuk terakhir, keluar pertama (last – in, first – out method)

Metode masuk terakhir, keluar pertama (metode MTKP) menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga poko bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi.

4.       Metode rata – rata bergerak (Moving Average Method)

Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata – ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuannya. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata – rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.

5.       Metode biaya standar

Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standard (standard price) yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Harga standard merupakan harga yang merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu.

6.       Metode rata – rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan

Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan penghitungan harga pokok rata – rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok rata – rata per satuan ini kemudian di gunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam bulan berikutnya.

BIAYA BAHAN BAKU

 


A.      Unsur Biaya Yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku Yang Dibeli

Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian local, impor, atau dari pengolahan sendiri. Di dalam memperoleh bahan baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biaya – biaya pembelian, pergudangan, dan biaya – biaya perolehan lain.

B.      Sistem Pembelian Lokal Bahan Baku

Sitem pembelian local bahan baku melibatkan Bagian – bagian Produksi, Gudang, Pembelian, Penerimaan Barang dan Akuntansi. Dokumen sumber dan dokumen pendukung yang dibuat dalam transaksi pembelian local bahan baku adalah : surat permintaan pembelian, surat order pembelian, laporan penerimaan barang dan faktur dari penjual. Sistem pembelian local bahan baku terdiri dari :

1.       Prosedur pembelian bahan baku

Jika persediaan bahan baku yang ada digudang sudah mencapai jumlah tingkat minimum pemesanan kembali (reorder point), bagian gudang kemudian membuat surat permintaan pembelian (purchase requisition) untuk dikirimkan ke bagian pembelian.

2.       Prosedur order pembelian

Bagian pembelian melaksanakan pembelian atas dasar surat permintaan pembelian dari bagian gudang. Untuk pemilihan pemasok, bagian pembelian mengirimkan surat permintaan penawaran harga (purchase price quotation) kepada para pemasok, yang berisi permintaan informasi harga dan syarat – syarat pembelian dari masing – masing pemasok tersebut.

3.       Prosedur penerimaan bahan baku

Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai dengan surat order pembelian yang diterimanya. Bagian penerimaan yang bertugas menerima barang, mencocokkan kualitas, kuantitas, jenis serta spesifikasi bahan baku yang diterima dari pemasok dengan tembusan surat order pembelian.

4.       Prosedur pencatatan bahan baku di bagian gudang

Bagian penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok kepada bagian gudang. Bagian gudang menyimpan bahan baku tersebut dan mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang (stock card) pada kolom “masuk”. Kartu gudang ini digunakan oleh Bagian gudang untuk mencatat mutasi tiap – tiap jenis barang gudang. Kartu gudang hanya berisi informasi kuantitas tiap – tiap jenis barang yang disimpan di gudang dan tidak berisi informasi mengenai harganya.

5.       Prosedur pencatatan utang yang timbul dari pembelian bahan baku

Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian pembelian memberikan tanda tangan di atas faktur pembelian, sebagai tanda persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memenuhi syarat – syarat pembelian yang di tentukan oleh perusahaan.

Metode Alokasi Bertahap Yang Memperhitungkan Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu


Di dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik per departemen, biaya dibagi menjadi dua golongan, biaya langsung departemen dan biaya tidak langsung departemen. Biaya tidak langsung harus dibagikan kepada departemen – departemen yang menikmati manfaatnya, baik dalam departemen produksi maupun departemen pembantu. Istilah yang dipakai untuk menggambarkan pembagian biaya overhead tidak langsung departemen kepada departemen – departemen yang menikmati manfatnya, baik departemen produksi maupun departemen pembantu adalah distribusi biaya overhead.

Langkah selanjutnya dalam penentuan tarif biaya overhead pabrik adalah membagikan biaya overhead departemen – departemen pembantu kepada departemen – departemen produksi (dalam metode alokasi langsung) atau kepada departemen – departemen pembantu lain dan departemen produksi (dalam metode alokasi bertahap). Istilah yang digunaka untuk pmenggambarkan pembagian biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari departemen pembantu ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi adalah alokasi biaya overhead.

Atas dasar tarif ini biaya overhead pabrik dibagikan kepada produk di departemen produksi. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembagian biaya overhead pabrik di departemen produksi kepada produk adalah pembebanan biaya overhead. Tiga macam tariff : Tarif distribusi adalah tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead tidak langsung departemen kepada departemen – departemen yang menikmati manfaatnya, baik departemen pembantu maupun produksi.  Tarif alokasi adalah tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead departemen pembantu kepada departemen produksi, baik secara langsung maupun bertahap. Tarif pembebanan adalah tariff yang digunakan untuk membagikan biaya overhead pabrik kepada produk. 

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate