Sunday, November 1, 2020

Aspek dan Indikator Kompetensi Pedagogik Guru

 


Kompetensi Pedagogik merupakan salah satu jenis kompetensi yang mutlak perlu dikuasai guru. Kompetensi Pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya dan akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran peserta didiknya.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka kompetensi pedagogik guru yaitu kemampuan dan keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Terdapat 7 (tujuh) aspek dan 45 (empat puluh lima) indikator yang berkenaan penguasaan kompetensi pedagogik.

Pada aspek pertama yaitu Menguasai karakteristik peserta didik. Seorang guru harus menguasai dan memahami sifat-sifat dan kemampuan peserta didiknya. Pad aspek kedua guru harus menguasasi teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik. Pada aspek ini guru sebagai penyampai pembelajaran harus menguasai berbagai teori belajar dan memahami prinsip-prinsip dalam pembelajaran sehingga dalam menyampaikan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.

Pada aspek ketiga Pengembangan kurikulum. Pada aspek ini guru harus dapat mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran dan program pengajaran yang akan disampaikan.

Pada aspek keempat yaitu Kegiatan pembelajaran yang mendidik. Pada aspek ini guru harus dapat melakukan kegiatan pembelajaran yang bersifat mendidik bagi peserta didik sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Aspek kelima yaitu Pengembangan potensi peserta didik. Guru harus menyadari bahwa setiap peserta didik memiliki potensi masing-masing. Guru harus dapat mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga akan berkembang dan dapat bermanfaat bagi peserta didik di masyarakat.

Pada aspek keenam yaitu Komunikasi dengan peserta didik. Guru dalam menyampaikan pembelajaran selama kegiatan berlangsung harus dapat dimengerti oleh peserta didik. Artinya komunikasi yang dibangun oleh guru dapat diterima oleh peserta didik selaku audiens. Selain itu harus terjadi komunikasi dua arah antara guru dengan peserta didiknya.

Pada aspek ketujuh yaitu Penilaian dan Evaluasi. Pada aspek ini guru harus dapat melakukan penilaian serta evaluasi terhadap hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dengan demikian dapat diketahui sejauh mana kemampuan dan perkembangan dari peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.

Dari ketujuh aspek dalam penilaian kinerja guru berdasarkan kompetensi pedagogik tersebut menunjukkan bahwa peran guru tidaklah mudah dan bukan hal yang dianggap sepele. Seorang guru yang profesional akan memperhatikan ketujuh aspek tersebut sehingga kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan dengan sebaik-baiknya dan menghasilkan output yang diharapkan oleh semua pihak baik guru, orang tua, peserta didik dan masyarakat.

 

 

Jurudemung


Mungguh nu hirup di dunya

Ku kersaning anu agung

Ku kersaning anu agung

Geus pinasti panggih

Geus pinasti

Geus pinasti panggih

Jeung dua rupa perkara

Senang paselang jeung bingung

Mungguh hirup di alam dunya

Ku kersaning anu agung

Geus pinasti bakal panggih

Suka bungah jeung kasedih

Dua rupa nu tumiba

Sakabeh jalma di dunya

Senang patumbu jeung bingung

Eta geus tangtu kasorang

Gurisa

 


Hayang teuing geura beurang

Geus beurang rek ka Sumedang

Nagih ka nu boga hutang

Mun meunang rek meuli soang

Tapi najan henteu meunang

Mo rek buru-buru mulang

Rek terus guguru nembang

Jeung diajar nabeuh gambang

Hayang teuing geura beurang

Geus beurang rek ka Sumedang

Nagih ka nu boga hutang

Mun meunang rek meuli soang

Tapi najan henteu meunang

Mo rek buru-buru mulang

Rek terus guguru nembang

Jeung diajar nabeuh gambang

 

Gambuh

 


Ngahuleng banget bingung

Heunteu terang kamana nya indit

Turug-turug harita teh, enggeus burit

Panonpoe geus rek surup

Keueung sieun, aya meong

Hulang-huleng, hulang-huleng

Ngahuleng ngaraga meneng

Hate ratug, tutunggulan

Heunteu terang, kaler-kidul

Turug-turug, turug-turug

Harita teh, enggeus burit

Panonpoe geus rek surup

Keueung sieun aya meong

Pupuh Durma

 

Durma

Moal ngejat sanajan ukur satapak

Geus dipasti ku jangji

Mun tacan laksana

Numpes musuh sarakah

Heunteu niat seja balik

Najan palastra

Mati di medan jurit

Di mamana si penjajah

Pada amarah marudah

Manan kapok anggur gawok

Najan dituyuk diragut

Nagri sadayana

Umumna ngabela

Nyempad rosa, pulitik penjajah

Tapi nu ngajajah

Teu pasrah, teu sadrah

Terus meres, ngahina ngarinah

 

Balakbak dan Dangdang

 

Balakbak

Aya warung sisi jalan rame pisan; citameng

Awewena luas luis geulis pisan; ngagoreng

Lalakina-lalakina los ka pipir nyoo monyet; nyanggereng

 

Aya warung sisi jalan

Rame pisan ku nu jajan

Tihothat nu ngaladangan

Nu jarajan sukan-sukan

 

Dangdang

Mega beureum surupna geus burit

Ngalanglayung panas pipikiran

Cikur jangkung jahe koneng

Naha teu palay tepung

Sim abdi mah ngabeunying leutik

Ari ras cimataan

Gedong tengah laut

Ulah kapalang nya bela

Paripaos gunting pameulahan gambir

Kacipta salamina

Hiji basa, hiji bangsa

Basa bangsa, Indonesia

Hiji bangsa, hiji nusa

Nusa tunggal, Nusantara

Seler-seler, suku bangsa

Di wewengkon, mana-mana

Sakasuka, sakaduka

Wujud bangsa, Indonesia

Asmarandana

 


Eling-eling mangka eling

Rumingkang di bumi alam

Darma wawayangan bae

Raga taya pangawasa

Lamun kasasar lampah

Nafsu nu matak kaduhung

Badan anu katempuhan

Eling-eling masing eling

Di dunya urang ngumbara

Laku lampah nu utama

Asih ka papada jalma

Ucap tekad reujeung lampah

Tingkah polah sing merenah

Runtut rukun sauyunan

Hirup jucung panggih jeung kamulyaan

 

Expressing Asking and Giving Opinion

 


Fadhila : Amanda, what do you think is the best action to reduce global warming?
Amanda : I think everyone should start changing their way of life.
Fadhila : What do you mean?
Amanda : Well, we have to start to do what we can, to help reduce global warming.
Fadhila : What do you suggest that we should do?
Amanda : Well, there are lots of things that we can do. We should start saving electricity, start recycling things, start using public transport means, buying and consuming as much as we need only, etc. Basically, just save anything that we can.
Fadhila: Wow! You know a lot of things about reducing global warming. Where did you learn all of that from?
Amanda: Well, I read newspapers, magazines, and also search for information in the internet.  Actually, I want to inform what I’ve learned to everyone so that everybody can start helping to save our mother nature.
Fadhila : You’re so awesome. How about if you write it in our school magazine next month?
Amanda : That’s a great idea. I’ll do that.

Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

 


Secara harfiah identifikasi berarti menemukan atau menemukenali. Dalam buku Identifikasi ABK dalam Pendidikan Inklusi istilah identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dimaksudkan merupakan suatu usaha seseorang (orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya) untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, intelektual, sosial, emosional/tingkah laku) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal).  

Setelah dilakukan identifikasi, kondisi seseorang dapat diketahui, apakah pertumbuhan/perkembangannya termasuk normal atau mengalami kelainan/penyimpangan. Bila mengalami kelainan/penyimpangan, dapat diketahui pula apakah anak tergolong: (1) Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan; (2) Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran; (3) Tunadaksa/anak yang mengalami kelainan angota tubuh/gerakan); (4) Anak Berbakat/anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa; (5) Tunagrahita; (6) Anak lamban belajar; (7) Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik (disleksia, disgrafia, atau diskalkulia); (8) Anak yang mengalami gangguan komunikasi; dan (9) Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.

Identifikasi merupakan kegiatan yang sifatnya masih sederhana dan tujuannya lebih ditekankan pada menemukan secara kasar apakah seorang anak tergolong anak dengan kebutuhan khusus atau bukan. Oleh karena itu, identifikasi dapat dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak yang terkait dengannya. Langkah berikutnya setelah identifikasi adalah asesmen. Assesmen bila diperlukan dapat dilakukan oleh tenaga profesional, seperti dokter, psikolog, neurolog, orthopedagog, terapis, dan lain-lain.

Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus atau yang pada masa lampau disebut anak cacat memiliki karakteristik khusus dan kemampuan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Tipe anak berkebutuhan khusus bermacam-macam dengan penyebutan yang sesuai dengan bagian diri anak yang mengalami hambatan baik telah ada sejak lahir maupun karena kegagalan atau kecelakaan pada masa tumbuh-kembangnya. Menurut Kauffman & Hallahan (2005) dalam  Bendi Delphie (2006)  tipe-tipe kebutuhan khusus yang selama ini menyita perhatian orangtua dan guru adalah (1) tunagrahita (mental retardation) atau anak dengan hambatan perkembangan (child with development impairment), (2) kesulitan Belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah, (3) hiperaktif (Attention Deficit Disorder with Hyperactive ), (4) tunalaras (Emotional and behavioral disorder), (5) tunarungu wicara (communication disorder and deafness), (6) tunanetra atau anak dengan hambatan penglihatan (Partially seing and legally blind), (7) autistik, (8) tunadaksa (physical  handicapped), dan (9) anak berbakat (giftedness and special talents).

Karakteristik anak berkebutuhan khusus dan hambatan yang mereka alami seringkali menyulitkan mereka mengakses layanan publik, seperti fasilitas di tempat umum yang tidak aksesibel bagi mereka, hingga layanan tumbuh-kembang dan pendidikan yang relatif membutuhkan usaha dan biaya ekstra.  Perbedaan karakteristik dan kebutuhan mereka dibanding anak-anak pada umumnya membutuhkan bentuk penanganan dan layanan khusus yang sesuai dengan kondisi mereka. Kondisi mereka yang berbeda bukan menjadi alasan untuk menghindari atau membuang mereka, melainkan justru membuahkan kesadaran untuk menghargai keragaman individu dan memberi perhatian dan layanan seideal yang seharusnya mereka terima. Sebagaimana dinyatakan dalam Deklarasi Bandung: Indonesia menuju Pendidikan Inklusi 2004 menyatakan bahwa keberadaan anak berkelainan dan anak berkebutuhan khusus lainnya di Indonesia berhak mendapatkan kesamaan hak dalam berbicara, berpendapat, memperoleh pendidikan, kesejahteraan dan kesehatan, sebagaimana yang dijamin oleh UUD 1945; serta mendapatkan hak dan kewajiban secara penuh sebagai warga negara.

Layanan untuk anak berkebutuhan khusus berusaha menjembatani hambatan yang dialami anak dan memanfaatkan potensi anak untuk dapat mengakses kesempatan hidup sebesar-besarnya. Layanan diberikan dengan berorientasi pada prinsip mempertimbangkan kesamaan masing-masing tipe anak berkebutuhan khusus dan juga perbedaan individual dari masing-masing tipe tersebut, menjaga sikap optimis untuk dapat memberi layanan baik pendidikan, medis, psikologis, maupun upaya-upaya pencegahan, mengedepankan potensi anak daripada fokus pada hambatan mereka, dan memandang bahwa kebutuhan khusus bukanlah hambatan melainkan kurangnya kesempatan anak untuk melakukan sesuatu yang orang lain pada umumnya mampu lakukan, baik dalam hal tingkat kematangan (emosi, mental, dan atau fisik), kesempatan yang diberikan masyarakat kepada mereka untuk hidup ‘normal’, dan pengajaran atau pendidikan sesuai hak yang seharusnya mereka dapatkan (Hallahan & Kauffman, 2006).

Adapun sifat layanan untuk anak berkebutuhan khusus meliputi upaya yang dilakukan sesegera mungkin setelah kebutuhan khusus anak diidentifikasi, akomodatif terhadap kebutuhan khusus anak, dilakukan secara berkesinambungan sepanjang usia,  dan komprehensif atau menyeluruh dalam mengatasi hambatan yang dialami. Sesuai dengan sifatnya tersebut, layanan untuk berkebutuhan khusus merentang dimulai dari usia dini (atau sejak diidentifikasi kebutuhan khususnya) hingga usia dewasa. Tahap-tahap usia yang menjadi fokus yang menentukan keberhasilan layanan adalah usia dini, usia sekolah, dan usia transisi (usia peralihan antara masa sekolah dengan masa dewasa yang ditandai ). Menurut Hardman, dkk (1990) layanan anak berkebutuhan khusus untuk masing-masing tahap usianya dijelaskan sebagai berikut :

 i.     Usia dini

Bentuk layanan pada usia dini adalah intervensi meminimalkan efek kebutuhan khusus dan mencegah sebisa mungkin bertambahnya gangguan pada diri anak. Pada usia dini intervensi yang dilakukan bersifat intensif, komprehensif mencakup keseluruhan komponen tumbuh-kembang anak, fokus terhadap masalah pada tumbuh kembang, dan kontinu. Sedangkan wilayah layanan yang diberikan meliputi deteksi dini tumbuh-kembang, pra kondisi akademik, latihan activity daily living, latihan adaptive behavior, upaya pencegahan cacat sekunder dengan mencermati pemberian treatmen atau layanan, latihan peran sosial sebaya, dan memilih metode terapi yang sesuai. 

ii.          Usia sekolah

Pada usia sekolah layanan yang diberikan berawal dari usia pra sekolah atau yang biasanya disebut usia TK. Fokusnya adalah layanan adaptasi anak terhadap kondisi pertumbuhan fisik, perkembangan sosial, emosi dan tingkahlaku, serta adaptasi terhadap tugas-tugas akademik. Layanan pada tahap usia ini selain melibatkan peran lembaga akademik seperti sekolah, juga membutuhkan peran supportif orangtua yang bekerjasama pihak-pihak terkait layanan kebutuhan khusus anak sebagai rujukan seperti ortopedagok, dokter, dan psikolog.

iii.          Usia transisi

Usia transisi merupakan tahap yang krusial karena mengusahakan kelangsungan masa depan anak berkebutuhan khusus yang diharapkan tidak berakhir begitu saja di usia sekolah. Program yang dipersiapkan untuk anak pada masa ini dimaksudkan agar anak berkebutuhan khusus mampu mencapai kemandirian personal, berintegrasi di lingkungan sosial, memiliki pilihan-pilihan hidup yang independen, dan mampu memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri sesuai dengan usia, potensi, dan kapasitas mereka sebagai individu berkebutuhan khusus. Program layanan usia transisi berdasarkan pada kurikulum yang berorientasi pada aktifitas dan kebutuhan publik, perencanaan kehidupan usia dewasa (memilih pekerjaan, tempat tinggal, dan pemanfaatan waktu luang), serta bagaimana sistem kerjasama publik.  

HUBUNGAN BURUNG JALAK DENGAN KERBAU

 


 

Burung jalak mendapatkan keuntungan makanan berupa kutu yang ada pada tubuh kerbau. Kerbau mendapatkan keuntungan kutu yang ada di tubuhnya jadi berkurang jumlahnya bahkan jadi tidak ada.

 

 

 

 

 


Kerbau adalah binatang memamah biak yang menjadi ternak bagi banyak bangsa di dunia, terutama Asia. Hewan ini adalah domestikasi dari kerbau liar (orang India menyebutnya arni) yang masih dapat ditemukan di daerah-daerah Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand.

Saat ini populasi kerbau liar di Asia mulai menurun dan dikhawatirkan pada masa yang akan datang tidak akan ada lagi populasi kerbau liar yang dapat ditemukan. Kerbau dewasa dapat memiliki berat sekitar 300 kg hingga 600 kg. Kerbau liar dapat memiliki berat yang lebih, kerbau liar betina dapat mencapai berat hingga 800 kg dan kerbau liar jantan dapat mencapai berat hingga 1200 kg. Berat rata-rata kerbau jantan adalah 900 kg dan tinggi rata-rata di bagian pundak kerbau adalah 1,7 meter.

 

 

 

 

 

 

 


Salah satu ciri yang membedakan kerbau liar dari kerbau peliharaan adalah bahwa kerbau peliharaan memiliki perut yang bulat. Dengan adanya percampuran keturunan antara kerbau-kerbau antara populasi yang berbeda, berat badan kerbau dapat bervariasi.Klasifikasi kerbau masih belum pasti, tetapi Bubalus bubalis biasa dikelompokkan menjadi tiga anakjenis:

Kerbau liar (B. bubalis arnee), moyang bagi kerbau sungai

Kerbau sungai (B. bubalis bubalis) yang berasal dari Asia Selatan.

Kerbau rawa (B. bubalis carabauesis) yang berasal dari Asia Tenggara.

Moyang kerbau rawa tidak lagi ditemukan secara liar, tetapi diketahui bahwa genom kerbau rawa terdiri dari 24 pasang kromosom, sedangkan kerbau sungai memiliki 25 pasang kromosom. Keturunan persilangan dari dua anakjenis ini dapat ditemukan dan mereka dapat menghasilkan keturunan (fertil). Kerbau tidak dapat berkawin silang dengan sapi yang memiliki 60 kromosom, meskipun masih termasuk dalam anaksuku yang sama Bovinae.

Susu dari kerbau banyak digunakan oleh manusia. Contohnya sebagai bahan keju Mozzarella. Daging kerbau juga merupakan hasil ekspor utama di India. Meskipun demikian daging kerbau kurang disukai di Asia karena kekerasannya. Kulit kerbau sering digunakan juga sebagai bahan sepatu, wayang kulit, dan helm sepeda motor.

 

 

 

 

 

 

 


Jalak (Ingg. starling) adalah nama sekelompok burung pengicau dari suku Sturnidae. Burung yang umumnya berukuran sedang (sekitar 20–25 cm), gagah, dengan paruh yang kuat, tajam dan lurus. Berkaki panjang sebanding dengan tubuhnya. Bersuara ribut, dan berceloteh keras, kadang-kadang meniru suara burung lainnya. Di alam, burung ini kebanyakan bersarang di lubang-lubang pohon.

Burung jalak relatif mudah dijinakkan. Dalam kandang burung ini sangat aktif bergerak dan berkicau. Karena itu penggemar burung kicau memelihara burung ini untuk melatih jenis burung kicau lain.Memakan hampir seluruh jenis makanan. Diet utama di penangkaran biasanya berupa voer, buah pisang, kroto, dan serangga kecil.Sangat sulit membedakan jalak jantan dan betina. Biasanya dilakukan pemeriksaan daerah kloaka. Jalak jantan memiliki bagian kloaka menonjol.Terdapat sekitar 25 spesies jalak dan kerabat dekatnya, yaitu perling dan beo, di seluruh Indonesia. Beberapa jenis jalak yang sering dipelihara orang di antaranya:

Jalak suren (Sturnus contra)

Jalak putih (S. melanopterus)

Jalak bali (Leucopsar rothschildi)

Jalak kerbau atau Kerak kerbau (Acridotheres javanicus)

 

 

 

 

Sumber :

http://koreshinfo.blogspot.co.id/2015/10/13-contoh-simbiosis-mutualisme-beserta.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerbau

https://id.wikipedia.org/wiki/Jalak

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate