Wednesday, December 16, 2020

Biografi RA Kartini


Raden Ajeng Kartini adalah perempuan keturunan bangsawan yang lahir pada 21 April 1879. Sebagai seorang yang dilahirkan di keluarga bangasawan Kartini tentu berkesempatan untuk mengecap pendidikan. Pastinya seluruh rakyat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan pahlawan yang satu ini. Kartini berhasil menamatkan pendidikannya di bangku sekolah dasar. Karakter yang haus akan ilmu pengetahuan membuatnya ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Akan tetapi, pada waktu itu pendidikan bagi kaum wanita masih sangat dibatasi. Hal ini berlaku juga bagi Kartini meskipun dirinya adalah seorang putri bangsawan. Sang Ayah pun tidak memberikan izin kepada dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini pun sedih karena bagaimanapun juga ia tidak bisa mengubah keputusan Ayahnya.

Kartini adalah seorang wanita Jawa yang memiliki pandangan maju pada zamannya walaupun dirinya sendiri terbelenggu oleh adat istiadat. Hingga kini Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita. Ini dapat dilihat dari berbagai surat korespondensi dengan teman-temannya di Belanda yang dibukukan oleh Abendanon.

Pada 17 September 1904, Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah melahirkan anak pertama sekaligus tunggal. Meskipun telah tutup usia, Kartini tetap menginspirasi wanita Indonesia dari berbagai generasi melalui tulisannya. Tulisan tersebut terkumpul dalam buku berjudul “Door Duistemis Tot Licht” atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini resmi ditetapkan sebagai salah satu pahlawan Nasional melalui Keppres No. 108 Tahun 1964. Selain itu, sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Bahkan W.R. Supratman membuat lagu khusus untuk mengenang jasa-jasanya yang diberi judul “Ibu Kita Kartini”. Sekarang, lagu tersebut tentunya tidak aneh lagi terngiang ditelinga rakyat Indonesia.

Biografi Dewi Sartika


Dewi Sartika merupakan putri dari pasangan priyayi Sunda yaitu Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Walaupun bertentangan dengan adat yang berlaku di masyarakat, kedua orang tuanya tetap menginginkan putrinya tersebut berpendidikan. Oleh karena itu, pasangan suami istri tersebut menyekolahkan Dewi Sartika di Sakola Belanda.

Pasca wafatnya sang Ayah, dirinya diasuh oleh sang paman yang juga merupakan priyayi karena menjabat sebagai patih Cicalengka. Dari sang paman inilah dirinya mendapatkan pengetahuan tentang kebudayaan tanah leluhurnya yaitu Sunda. Sementara itu, pengetahuan tentang kebudayaan barat ia terima dari seorang nyonya asisten residen Belanda.

Sejak kecil, Dewi Sartika memang sudah tertarik dengan kegiatan pendidikan. Sambil bermain bersama anak-anak pembantu kepatihan, Ia juga mengajarkan mereka berbagai pelajaran seperti membaca, menulis hingga bahasa Belanda. Beberapa benda seperti papan bilik kandang kereta, arang dan pecahan genting digunakannya sebagai media pembelajaran.

Pada waktu itu, Dewi Sartika baru berusia 10 tahun dan tindakan yang dilakukannya sudah menghebohkan masyarakat Cicalengka. Hal ini dikarenakan pada waktu itu beberapa anak-anak Cicalengka sudah mampu membaca, menulis, dan berbahasa Belanda. Setelah beranjak remaja, Dewi Sartika kembali lagi ke rumah Ibunya di Bandung.

Usia yang beranjak dewasa membuat Dewi Sartika optimis untuk menggapai cita-citanya. Cita-citanya tersebut juga mendapat dukungan dari pamannya yang menjabat sebagai bupati Martanagara. Meski mendapat dukungan dari paman, bukan berarti membuat dirinya mudah dalam mewujudkan cita-cita. Hal ini dikarenakan adat istiadat waktu itu sangat mengekang kaum wanita.

Akhirnya pada tahun 1902 Dewi Sartika mampu meyakinkan pamannya untuk mendirikan sekolah di belakang rumahnya di Bandung. Dirinya mengajar beberapa anggota keluarga perempuan dengan materi merendam, memasak, menulis, dan menjahit. Pada Januari 1904 setelah berkonsultasi dengan bupati Martanagara Dewi Sartika akhirnya mendirikan Sakola Istri pertama se-Hindia Belanda.

Dalam melaksanakan pembelajaran, dirinya dibantu oleh Nyi Poerwa dan Nyi Oewid. Pada waktu itu, murid di Sakola Istri terdiri dari 20 orang. Pada tahun 1905, sekolahnya menambah kelas sehingga dipindahkan ke Jalan Ciguriang Kebon Cau. Lokasi ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungannya sendiri serta sumbangan dana dari Bupati.

Angkatan pertama Sakola Istri lulus pada tahun 1909. Pada tahun-tahun berikutnya, Sakola Istri mula banyak bermunculan di wilayah Pasundan dengan membawa semangat dan cita-cita Dewi Sartika. Kemudian, pada tahun 1912 sudah ada 9 Sakola Istri se-kabupaten Pasundan. Memasuki usia yang kesepuluh, sekolah ini berganti nama menjadi Sakola Keutamaan Istri.

Seluruh wilayah Pasundan telah memiliki Sakola Keutamaan Istri di setiap daerahnya pada tahun 1920. Tidak hanya di Pasundan, semangat Dewi Sartika juga menyeberang hingga Pulau Sumatera di mana Encik Rama Saleh juga mendirikan Sakola Keutamaan Istri di Bukit Tinggi. Sejak tahun 1929 atau tepat pada 25 tahun berdirinya sekolah ini Dewi Sartika kembali mengganti namanya.

Dewi Sartika mengganti nama sekolah ini menjadi “Sakola Raden Dewi”. Atas jasanya di bidang pendidikan, maka Pemerintah Hindia Belanda menganugerahi dirinya Bintang Jasa. Pada 11 September 1947, Dewi Sartika meninggal dunia. Ia dimakamkan di desa Rahayu, Cineam, Tasikmalaya. Tiga tahun kemudian, jasadnya dipindahkan ke kompleks pemakaman Bupati Bandung.

Sebagai generasi muda, kita tentu tidak boleh melupakan jasa Dewi Sartika dalam memperjuangkan pendidikan begitu saja. Tidak hanya sekedar mengenang, semoga kita juga dapat meneladani dan terispirasi untuk melakukan hal yang sama dengan Dewi Sartika. Harapannya tentu saja agar wajah pendidikan Indonesia khususnya bagi kaum wanita lebih cerah.

Profil Negara Australia

 

Australia

Sumber Daya Alam

Benua Australia merupakan negara benua bersama daratan yang terlampau luas. Benua Australia ini memiliki padang rumput yang terlampau luas lho. Suburnya padang rumput ini sangat mungkin untuk pengembangan pada bidang peternakan. Kemajuan peternakan Australia termasuk dapat dukungan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Adanya padang rumput yang luas sebagai lahan penggembalaan.
  • Mempergunakan teknologi peternakan modern seperti penentuan bibit unggul, pemeliharaan ternak yang sehat, pengawetan daging, alat pemerah susu, dan alat pencukur bulu domba.
  • Hasil-hasil peternakan di Benua Australia banyak lho, tersedia wol, susu, dan termasuk daging. Selain peternakan, terdapat pula pertanian bersama hasil biji-bijian, buah-buahan, serta gula.

Data Kependudukan

Australia merupakan salah satu negara maju di dunia, jumlah penduduk yang menetap di negara tetangga Indonesia ini sekitar 24.141.986 jiwa. Daerah yang paling padat penduduknya adalah pantai timur. Sebagian besar penduduk tinggal di kota-kota besar Australia. Kota-kota penting umumnya terletak di daerah pantai. Suku asli Australia adalah suku Aborigin. Jumlah suku aborigin pun semakin berkurang hanya sekitar 20-30 % lagi itu dikarenakan deskan dari masyarakat pendatang. Suku aborigin hidup nomaden dan sering berburu, senjata yang digunakan dan terkenal adalah bumerang. Agama mayoritas di Australia adalah kristen Katolik sementara bahasa resmi negara adalah bahasa Inggris.

 

Budaya

1. Suku Aborigin

Suku Aborigin adalah suku asli Australia yang telah menempati benua tersebut dan pulau sekitarnya sejak 70.000 tahun lalu. Suku ini berbicara lebih dari 250 bahasa dan dialek yang berbeda-beda.

2. Boomerang

Boomerang merupakan senjata tradisional khas suku Aborigin, Australia yang telah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu. Senjata ini merupakan senjata lempar yang biasa digunakan untuk berburu.

3. Tari Tiwi

Tari Tiwi adalah tarian tradisional suku Aborigin. Tarian ini dipertunjukkan dengan gerakan yang kuat, dimana setiap pergatian gerakan harus dilakukan dengan tepat sesuai dengan pukulan alat musik.

 

4. Didgeridoo

Didgeridoo adalah alat musik tradisional yang telah berusia ribuan tahun. Alat musik ini memiliki bentuk yang panjang dan agak mengerucut. Didgerioo memiliki bunyi yang khas, tergantung kemahiran peniup.

5. Sunday Roast

Australia memiliki makanan tradisional yang sama dengan bangsa Inggris, yaitu Sunday roast. Sunday roast merupakan sebuah hidangan yang biasa disajikan pada hari Minggu, terdiri dari daging panggang, kentang, dan dihidangkan bersama dengan sayuran atau puding.

6. Yabun Festival

Yabun adalah festival pribumi terbesar di Australia. Festival yang berlangsung hanya 1 hari ini mampu menarik sekitar 10.000 sampai 15.000 orang penonton pada Hari Australia. Festival ini merupakan salah satu ajang musik pribumi terpenting di Negeri Kanguru ini.

7. Seni Rupa Australia

Seni rupa Australia dianggap bermula dengan lukisan gua dan lukisan kulit kayu penduduk aslinya. Tradisi penduduk asli Australia diwariskan secara lisan melalui upacara dan juga dengan menyampaikan kisah-kisah zaman impian.

8. Musik Tradisional Australia

Musik tradisional Australia dihasilkan oleh suku Aborigin dan kolonial Inggris. Musik Australia disebut juga sebagai musik Aborigin dan merupakan bagian internal dari perayaan sosial, budaya, dan upacara adat yang telah ada sejak 60.000 tahun yang lalu.

9. Tjungu Festival

Tjungu Festival adalah festival empat hari yang diadakan di Voyages Rock Resort pada bulan April. Festival ini merayakan semua kebudayaan pribumi, mulai dari budaya, fashion, olahraga, musik, seni, hingga makanan.

10. Laura Aboriginal Dance Festival

Setiap dua tahun sekali pada bulan Juni, ratusan penari dan ribuan pengunjung memenuhi kota kecil Laura di Cape York Peninsula untuk merayakan Laura Aboriginal Dance Festival. Masyarakat Aborigin dari seluruh Cape York Peninsula merayakan berbagai budaya, seperti tarian, lagu, seni, dan pertunjukan.

Bahasa

Bahasa Inggris Australia mulai membedakan diri dari Bahasa Inggris Britania setelah pendirian koloni tahanan Australia di New South Wales tahun 1788. Para tahanan Britania dikirim ke sana (termasuk Cockneys dari London[2]), banyak yang berasal dari kota-kota besar di Britania Raya. Mereka dikumpulkan bersama penetap bebas, personel militer dan pengurus, bahkan bersama keluarga mereka. Tetapi, sebagian besar tahanan berasal dari Irlandia, dengan sekitar 25% langsung dari Irlandia, dan lainnya tidak langsung melalui Britania; perkiraan menyebut bahwa kemungkinan 60% tahanan berkebangsaan Irlandia (butuh rujukan). Ada kumpulan tahanan lain dari wilayah Britania non-bahasa Inggris, seperti Wales dan Skotlandia. Bahasa Inggris tidak dipertuturkan atau sedikit oleh sebagian besar penduduk tahanan dan masukan bahasa Inggris yang dominan berasal dari tahanan Cockney di Inggris Tenggara.

Hubungan Australia dengan Indonesia

Bidang pendidikan

Banyak pelajar dari Indonesia yang belajar di universitas yang ada di Australia. Selain itu, pemerintah Australia juga membantu pemerintah Indonesia di dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Bidang kesehatan

Australia berkomitmen untuk membantu pemerintah Indonesia dalam bidang kesehatan. Australia membantu memperkuat kapasitas Indonesia dalam menangani kasus HIV/AIDS melalui program kemitraan senilai 100 juta dolar Australia atau sekitar Rp800 miliar.[1] Selain itu, saat ini juga telah terjalin kemitraan antara Australia dan Indonesia di dalam penanggulangan penyakit mata di Indonesia, khususnyaBali. Hal ini ditunjukkan dengan itikad baik kedua negara membangun Pusat Mata Australia-Bali, di Denpasar, Bali. Pusat Mata itu sendiri telah diresmikan pada 27 Juli 2007 oleh pemimpin kedua negara.

 

Bidang ekonomi

Perdagangan dan perniagaan antara Australia dan Indonesia semakin tumbuh. Perdagangan dua-arah telah meningkat menjadi 25,2% selama tahun 2000-2002. Lebih dari 400 perusahaan Australia sedang melakukan perniagaan di Indonesia, mulai dari usaha pertambangan sampai telekomunikasi. Perusahaan-perusahaan ini bekerja sebagai mitra dagang dengan perusahaan dan pemerintah Indonesia.

 

Bidang pariwisata

Sejak awal 1970-an Indonesia telah menjadi tujuan utama wisata bagi orang Australia. Australia telah menjadi sumber wisatawan yang penting bagi Indonesia. Bali merupakan provinsi yang paling dikenal.

Prinsip-prinsip Perkembangan Motorik Halus


Prinsip pengembangan motorik halus menurut (Jamaris, 2003:9) prinsip untuk pengembangan motorik adalah kematangan saraf, urutan, motivasi, pengalaman, dan latihan atau praktik.

Pada waktu anak dilahirkan hanya memiliki otak sebesar 25% dari berat otak orang dewasa. Saraf-saraf tersebut belum berkembang sesuai dengan fungsinya dalm mengontrol berbagai gerak motorik baik motorik kasar maupun motorik halus. Dengan bertambahnya umur anak yang makin bertambah dan perkembangan semakin besar anak mengalami proses neurological naturalation (kematangan neorologis).

Proses perkembangan fisiologis manusia berlangsung secara berurutan yang terdiri atas a) Pembedaan yang mencakup perkembangan secara berlahan dari motorik kasar yang belum terarah dengan baik kepada gerak yang lebih terarah sesuai fungsi gerak motorik kasar, b) Keterpaduan yaitu  kemampuan dalam menggabungkan gerakan motorik yang saling berlawanan dalam koordinasi gerak yang baik, seperti berlari dan berhenti.

Motivasi yang datang dari dalam diri anak tersebut perlu didukung dengan Motivasi yang datang dari luar. Misalnya memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai aktifitas motorik dan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak.

Pada saat anak mencapai kematangan untuk terlihat secara aktif  dalam aktifitas fisik yang ditandai motivasi yang tinggi, orang tua dan guru perlu memberi kesempatan dan pengalaman yang dapat meningkatkan motorik anak secara optimal. Peluang ini tidak saja berbentuk memberikan anak melakukan kegiatan fisik akan tetapi perlu dukungan dengan berbagai fasilitas yang berguna bagi pengembangan keterampilan motorik kasar maupun motorik halus anak.

Pendidik yang bekerja dengan anak-anak usia dini perlu menekankan pentingnya kegiatan bermain atau pengembangan motorik dan pengembangan lainnya terdapat dua hal yang seyogyanya tidak dilupakan, pertama adalah pemahaman akan pentingnya hubungan kegiatan tersebut dengan pengembangan daya fikir dan daya cipta anak. Hal kedua adalah bila anak tanpa bergerak bebas, tanpa kesempatan bermain dan tanpa kesempatan menjelajahi lingkungannya anak akan kurang tumbuh kembang secara optimal.

Pembelajaran motorik halus di sekolah ialah pembelajaran yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil serta koordinasi antara mata dan tangan. Saraf motorik halus bisa dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus diantaranya: 1) Bermain puzzle, 2) Menyusun balok, 3) Memasukkan   benda   ke   dalam    lubang    sesuai  bentuknya, 4) Membuat garis, 5) Melipat kertas, 6) Menulis dengan huruf dan bentuk tulisan yang benar. (Decaprio, 2013:20).

Dari prinsip pembelajaran di atas sebagai seorang pendidik kita akan dengan mudah mengajar di Taman Kanak-kanak dengan menjadikan prinsip pembelajaran tersebut sebagai acuan pengajaran di Taman Kanak-kanak sehingga kebutuhan anak dalam belajar dan kemampuan anak dalam mengembangkan aspek perkembangannya khususnya aspek motorik halus dapat dikembangkan dengan baik.

Kemampuan motorik halus setiap anak di sekolah tentu tidak sama, baik dari segi kekuatan maupun ketepatan. Kondisi ini dipengaruhi oleh pembawaan dan stimulasi yang diperolehnya. Sebenarnya ada banyak hal yang mempengaruhi kemampuan motorik halus anak. Tidak hanya suasana dan lingkungan belajar di sekolah, melainkan juga kondisi lingkungan dan keluarga yang turut memberikan pengaruh besar terhadap kecerdasan motorik halusnya (Decaprio, 2013:20-21).

Pengertian Kemampuan Motorik halus Melalui Membatik Jumputan

 


Pembelajaran membatik ditingkat dasar dapat dimulai dengan pengenalan terhadap motif-motif sederhana. Pembelajaran motif ini dapat diintegrasikan dengan pembelajaran menggambar dekoratif. Adapun teknik membatik yang relatif mungkin dilaksanakan di TK adalah membatik dengan teknik jumputan. Dengan teknik ini kita tidak usah khawatir anak akan terkena lilin, cukup menggunakan tali untuk mengikat bagian kain yang akan dirintangin warna, variasi ikatan akan menentukan motik batik jumputan yang akan dibuat.

Dengan melakukan kegiatan membatik jumputan anak lebih dominan menggunakan jari-jari tangannya sehingga kemampuan motorik halusnya akan dapat berkembang dengan baik. Kegiatan membatik jumputan yang dilaksanakan dalam pembelajaran kemampuan motorik halus anak khususnya jari tangannya akan lebih banyak digunakan.

Anak pada usia TK koordinasi mata-tangan anak semakin baik. Anak sudah dapat menggunakan kemampuannya untuk melatih diri dengan bantuan orang dewasa. Anak dapat menyikat gigi, menyisir, mengancingkan baju, membuka dan memakai sepatu serta makan menggunakan sendok dan garpu. Kelenturan tangannya juga semakin baik. Anak dapat menggunakan tangannya untuk berkreasi (Izzaty, 2005:55).

Salah satu indikator dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak yaitu anak dapat melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu terampil menggunakan tangan kanan dan kiri dalam berbagai aktivitas misalnya mengancingkan baju, menali sepatu, menggambar, menempel, menggunting, makan (Depdiknas, 2014:18)

Menurut Saputra dan Rudiyanto (2004:150) aspek-aspek yang menunjukkan  perkembangan   motorik halus anak usia dini diantaranya : 1) Anak dapat melakukan kegiatan menempel kertas sesuai bentuk yang sudah ada, 2) Anak dapat mengerjakan puzzle yaitu menyusun potongan-potongan gambar menjadi sebuah gambar yang lengkap, 3) Anak dapat menjahit sederhana. Kegiatan ini mengandalkan kekuatan otot ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Cara anak memegang benang untuk dimasukkan ke dalam lubang sama anak ketika anak memegang pensil untuk menulis, 4) Anak dapat mewarnai suatu gambar dengan lebih rapi, warna tidak keluar dari garis gambar, 5) Anak dapat mengisi bentuk pola sederhana dengan sobekan kertas atau stempel, 6) Anak dapat melakukan kegiatan berupa mengancingkan bajunya sendiri, 7) Anak dapat melakukan kegiatan menggambar berupa gerakan naik turun bersambung seperti membuat gunung atau bukit, 8) Anak dapat menarik garis lurus, lengkung dan miring sesuai dengan perintah guru., 9) Anak dapat mengekspresikan gerakan dengan irama bervariasi, 10) Anak dapat melakukan kegiatan melempar dan menangkap bola.

Menurut Sujiono (2009: 1.4) secara umum ada tiga tahap perkembangan keterampilan motorik halus pada anak usia dini, yaitu tahap kognitif, asosiatif, dan autonomous. Pada tahap kognitif anak berusaha memahami keterampilan motorik halus serta apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Tahap asosiatif anak banyak belajar dengan cara coba meralat olahan pada penampilan atau gerakan akan dikoreksi agar tidak melakukan kesalahan kembali. Tahap autonomous gerakan yang ditampilkan anak merupakan respon yang efisien dengan sedikit kesalahan dan anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis.

Tugas-tugas perkembangan yang diharapkan dicapai pada aspek perkembangan fisik/motorik tentang anak usia 4-6 tahun sesuai dengan Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 khususnya motorik halus yaitu anak dapat : a) membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/kanan, miring kiri/kanan, dan lingkaran; b) menjiplak bentuk; c) mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit; d) melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media; e) mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media; f) mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot halus (menjumput, mengelus, mencolek, mengepel, memelintir, memilin dan memeras) (Supartini, 2017:58). 

Pengertian Jumputan


Menurut Handoyo (2008:19) nama jumputan berasal dari kata “jumput”, kata ini mempunyai makna berhubungan dengan cara pembuatan kain yang dicomot (ditarik) atau dijumput (dalam Bahasa Jawa). Batik menggunakan teknik tutup celup ini sudah dikenal diberbagai belahan dunia. Batik Indonesia, terutama batik Jawa memiliki keunggulan pada desain dan komposisi warnanya yang sangat kaya.

Kata jumputan berasal dari bahasa Jawa. Menjumput berarti memungut atau mengambil dengan semua ujung jari tangan. Cara pembuatan kain jumputan sederhana dan mudah dilakukan karena tidak menggunakan lilin dan canting. Sesuai dengan namanya, jumputan dibuat dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian sesuai dengan motif yang dikehendaki, dilanjutkan mengikat, dan terakhir melakukan pencelupan ke dalam pewarna (Rini Ningsih, 2001:1).

Banu Arsana (2007:3) menyebutkan bahwa jumputan adalah salah satu teknik membuat pola dengan cara mengikat kain dengan tali pada zat warna. Oleh karena itu jumputan juga dikenal dengan teknik celup ikat. Dalam membatik, bagian yang tertutup oleh malam atau lilin ketika dicelup ke dalam cat warna tidak akan dikenai warna. Namun dalam membuat jumputan, fungsi malam atau lilin diganti dengan ikatan tali pada kain sebelum dicelup, sehingga membuat jumputan menjadi lebih mudah dan sederhana. Meskipun dengan cara sederhana, hasil kain jumputan tidak kalah indah dengan jenis kain motif yang lain.

Batik jumputan disebut juga batik celup ikat telah dikenal di masyarakat. Proses pembuatannya berbeda dengan batik tulis atau batik cap, yaitu dengan cara mengikat di beberapa bagian kain yang ingin diberi motif (Murtono, 2011:10).

Teknik jumputan berasal dari Tiongkok kemudian berkembang sampai India dan wilayah nusantara. Istilah tersebut sudah digunakan berabad-abad untuk menggunakan cara membuat desain pada kain, yang disebut jumputan (Muamalah, 2017:4).

Berdasarkan pengertian di atas menjumput berarti memungut atau mengambil dengan semua ujung jari tangan. Cara pembuatan kain jumputan sederhana dan mudah dilakukan karena tidak menggunakan lilin dan canting. Sesuai dengan namanya, jumputan dibuat dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian sesuai dengan motif yang dikehendaki, dilanjutkan mengikat, dan terakhir melakukan pencelupan ke dalam pewarna.

Batik jumputan merupakan suatu karya seni yang mempunyai nilai budaya dan nilai ekonomi tinggi. Kreativitas dalam melipat dan mengikat kain diperlukan dalam membuat pola. Semakin banyak variasi pola yang diinginkan, semakin banyak pula pola yang dihasilkan. Ikat celup/jumputan juga memiliki beranekaragam motif tergantung dengan bagaimana kita menggunakan pengikat atau menggunakan alat untuk menimbulkan corak-corak jumput pada kain tersebut.

Berbeda dari kebanyakan jumputan tercipta dari kreativitas pengrajin yang tidak pernah berhenti berinovasi. Jumputan dikerjakan dengan teknik ikat celup untuk menciptakan gradasi warna yang menarik. Teknik celup rintang, yakni menggunakan tali untuk menghalangi bagian tertentu pada kain agar tidak menyerap warna sehingga terbentuklah sebuah motif. Untuk menciptakan motif yang beragam pada kain ini, digunakanlah teknik jahit.

Cara membuat jumputan terbagi menjadi dua cara sebagai berikut :

a) Jumputan dengan Teknik Jahitan

Teknik  ini dilakukan dengan cara kain digambar pola terlebih dahulu menggunakan pensil atau kapur jahit. Langkah selanjutnya kain dijahit atau dijelujur pada garis warna dengan menggunakan benang nilon atau benang jeans, lalu benang ditarik kuat sehingga kain berkerut serapat mungkin. Pada waktu dicelup benang yang rapat akan menghalangi warna masuk ke dalam kain. Hasil jumputan teknik jelujur berupa titik-titik yang membentuk suatu pola, dapat berupa bunga bentuk geometris dan lain sebagainya sesuai motif yang dikehendaki.

b) Pembuatan Jumputan dengan Teknik Ikat

Teknik ikat merupakan teknik menjumput dengan cara ikatan, artinya media yang diikat akan menimbulkan motif. Cara mengikatnya dengan melilit-lilitkan tali, karet, rafia, atau benang sekencang mungkin agar pada saat pencelupan tidak terkena warna, sehingga setelah ikatannya dilepas akan terbentuk gambarnya. Teknik ikat dilakukan dengan memegang permukaan kain dengan ujung jari, lalu permukaan kain tersebut diikat dengan jelas, baik dengan ikatan tunggal maupun jamak. Teknik mengikat dapat dilakukan tanpa isi maupun dengan isi seperti kelereng, batu/kerikil, manik-manik, koin dan sebagainya. Bagian-bagian kain yang hendak dibiarkan tidak kena warna diikat, kemudian kain yang sudah diikat-ikat dicelupkan kedalam air dinginlalu diperas kemudian masukkan ke dalam larutan pewarna pakaian sampai terbenam seluruhnya. Kain dibiarkan dalam larutan pewarna selama satu jam kemudian diangkat dan dicuci sampai bersih lalu dijemur hingga kering

Pengertian Membatik

 


Seni batik termasuk dalam seni kriya (Seni kerajinan) atau seni rupa terapan dua dimensi, batik hampir terdapat dan dikenal di seluruh daerah nusantara. Oleh karena itu, seni batik diangkat sebagai karya seni nusantara atau budaya nasional (Kartono, 2007: 157).

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas di dalam keraton saja untuk menjadi pakaian para raja, keluarga serta para pengikutnya (Nenden, 2008:2).

Kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, dari kata “amba” yang berarti menggambar dan “tik” yang berarti kecil. Seperti misalnya terdapat dalam kata-kata Jawa lainnya yakni “klitik” (warung kecil), “bentik” (persinggungan kecil antara dua benda), “kitik” (kutu kecil) dan sebagainya (Teguh Suwarto, dkk, 1998: 8).

Menurut terminologinya batik adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan alat canting atau sejenisnya dengan bahan lilin sebagai penahan masuknya warna. Batik adalah gambaran atau hiasan pada kain atau bahan dasar lain yang dihasilkan melalui proses tutup-celup dengan lilin yang kemudian diproses dengan cara tertentu (Suyanto, 2002:2).

Membatik adalah sebuah teknik menahan warna dengan lilin malam secara berulang-ulang di atas kain. Lilin malam digunakan sebagai penahan untuk memecahkan agar warna tidak menyerap ke dalam serat kain di bagian-bagian yang tidak dikehendaki (Pandana, 2013:3).

Menurut Asti M. dan Ambar B. Arini (2011: 1) berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik artinya melempar titik berkali-kali pada kain.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Nian S Djumena: “Membatik pada dasarnya sama dengan melukis di atas sehelai kain putih. Sebagai alat melukis dipakai canting dan sebagai bahan melukis dipakai cairan malam. Canting terdiri dari mangkok kecil yang mempunyai carat dengan tangkai dari bambu. Carat mempunyai berbagai ukuran, tergantung dari besar kecilnya titiktitik dan tebal halusnya garis-garis yang hendak dilukis. Kegunaan mangkok kecil adalah sebagai tempat cairan malam. Sesudah kain yang dilukis atau ditulisi dengan malam, lalu dihilangkan atau dilorod, maka bagian yang tertutup malam akan tetap putih, tidak menyerap warna. Ini disebabkan karena malam berfungsi sebagai perintang warna (cat). Karena itu cara pembuatan ini didunia pertekstikan dinamakan dengan teknik resist dye atau pencelupan rintang. Teknik resist dye sudah lama dikenal diberbagai negara. Pada umumnya sebagai bahan perintang warna dipakai berbagai jenis bubur terbuat dari gandum, beras ketan dan parafin, dan sebagai alat melukis dipakai berbagai bentuk alat, antara lain kuas (Djumena, 2010:1).

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa batik merupakan suatu seni menghias kain dengan menggambar pola-pola tertentu di atas kain dengan menggunakan malam

Kemampuan Motorik Kasar Melalui Seni Tari

 


Pembelajaran motorik dapat diartikan sebagai proses belajar keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik, serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran maupun keahlian motorik. Aspek pembelajaran motorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan dengan tindakan atau perilaku yang ditampilkan oleh para siswa setelah menerima materi tertentu dari guru. Artinya mereka bertindak atau berperilaku berdasarkan pengetahuan dan perasaan (Decaprio, 2013:16).

Untuk pertama kalinya, dalam pembelajaran motorik bagi anak, guru mesti melalui tahapan pendahuluan atau yang lazim disebut keterampilan motorik pengantar. Kegiatan ini dilaksanakan dengan berbagai tujuan sebagai berikut: 1) Menaikkan motivasi dan antusiasme anak. Mereka akan merasa bersemangat dengan adanya keterampilan motorik pengantar yang diajarkan oleh guru sebelum melangkah ke pembelajaran motorik yang lebih tinggi. Selain itu mereka juga semakin penasaran terhadap langkah-langkah berikutnya; 2) Pemberian keterampilan motorik pengantar oleh guru dalam pembelajaran motorik juga bisa menyiapkan anak, baik secara jasmani maupun rohani, agar dapat mengikuti pembelajaran motorik dengan baik dan profesional, 3) Pemberian keterampilan motorik pengantar juga bertujuan untuk menghindari kesalahan yang berdampak fatal dalam pembelajaran motorik (Decaprio, 2013:179-180).

Setelah guru memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan praktik pembelajaran inti dengan segala kriteria yang telah dijelaskan sebelumnya, maka langkah berikut adalah mengevaluasi pembelajaran motorik secara keseluruhan. Dalam evaluasi pembelajaran motorik, diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran motorik yang sedang dievaluasi.

Pendidikan seni sebagai mata pelajaran di sekolah didasarkan pada: Pertama, pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti seni bertujuan mengembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai cara seperti melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan paduannya.

Selain bernyanyi dan bereksplorasi dengan alat musik, kegiatan lain dalam musik adalah gerak dan lagu serta menari. Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan dari seni musik yang beragam jenisnya, sehingga tidak semua kegiatan tari appropriate (berkesesuaian) bagi anak. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan.Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan bagi anak, dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami.

Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru ataupun orangtua adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak saat ingin menari. Memaksakan atau menekan anak untuk menunjukkan suatu gerakan tari, terlebih harus sempurna, hanya akan membuat kondisi menjadi semakin buruk dan tidak mengembangkan kreativitas mereka.

Gerak merupakan sarana ekspresi dan mengalihkan ketakutan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan, dan sebagainya. Gerak juga merupakan ekspresi pembebasan dari belenggu ketidakberdayaan, simbolis khususnya pada anak-anak mereka mengekspresikan dirinya secara langsung dan efektif melalui gerakan. Gerak yang erat hubungannya dengan musik merupakan isyarat yang ekspresif dan membebaskan diri dari ketegangan melalui gerakan-gerakan ritmis sehingga dalam penanganan anak yang berperilaku agresif, media gerak ritmis dapat menyalurkan emosi-emosi negatif dengan cara yang lebih dapat diterima oleh lingkungannya (Mutiah, 2010:168-169) .

Menurut Kamtini dan Tanjung (2005:10) bahwa secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karakteristik gerak fisik anak TK adalah bersifat sederhana, bersifat maknawi dan bertema, artinya tiap gerak mengandung tema tertentu, gerak anak menirukan gerak keseharian orang tua dan juga orang-orang yang berada di sekitarnya, anak juga menirukan gerak-gerak binatang.

Keterampilan gerak tari bukanlah tujuan utama namun pengembangan berbagai aspek kreativitas pada diri siswa merupakan orientasi yang dilaksanakan dalam proses pembelajarannya. Tujuan utama dari tari adalah membantu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan anak melalui tari untuk menemukan hubungan antara tubuhnya dengan seluruh eksistensinya.

Pendidikan seni tari memiliki peranan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Seni tari pada lingkungan sekolah membantu anak untuk berekspresi secara bebas. Dengan kata lain menurut Rohendi (2000:33) “seni sebagai media dalam pendidikan untuk meningkatkan kreativitas anak”. Melalui pendidikan seni tari, potensi yang dimiliki siswa sejak lahir untuk bergerak secara bebas dapat dikembangkan secara optimal.

Tujuan dari pembelajaran dengan menggunakan tarian yang dilakukan secara bertahap adalah : 1) Anak dapat memahami instruksi yang dapat diberikan, 2) Anak dapat meniru gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan, 3) Anak dapat membentuk gerakan sesuai dengan irama musik, 4) Anak dapat mengembangkan imajinasinya dengan variasi gerakannya, 5) Anak dapat merangsang pancainderanya melalui sentuhan, pendengaran, penciuman, penglihatan, dan perasaannya, 6) Anak dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan alur cerita, 7) Berinteraksi dan berpartisipasi di dalam kelompok, 8) Anak mampu mengordinasikan tubuh, ucapan, dan musik, 9) Anak membuat kreasi gerakan sendiri yang sesuai dengan irama musik dan alur cerita, 10) Anak tidak canggung untuk tampil menari dan menyanyi dihadapan publik, 11) Anak memahami nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita  (Mutiah, 2010:176-177).

Pengertian Seni Tari Tradisional

 


Tari adalah gerak tubuh manusia. Ciri khas gerak tari adalah gerak yang sudah diolah dari aspek tenaga, ruang dan waktu. Seni tari merupakan ungkapan ekspresi manusia yang dinyatakan melalui gerak-gerak tubuh yang indah serta mampu memberikan aktivitas fisik dan rasa keindahan yang tertuang melalui gerak.

Seni tari merupakan salah satu bagian dari pendidikan seni yang terdapat dalam program pembelajaran. Pendidikan seni dengan pendekatan kompetensi sebagai salah suatu alternatif solusi dan antisipasi pada persaingan global yang kompetitif. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan atau kompetensi untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu (ability to do something) (Masunah, 2003:5).

Seni tari tradisional merupakan tarian yang lahir dari kaum bangsawan atau dari dalam keraton dan lahir pada zaman raja-raja. Tarian jenis ini hanya berkembang di lingkungan tertentu, bahkan masyarakat biasa dilarang menarikannya. Tari tradisional (klasik) memiliki aturan-aturan yang tertulis, karena dikembangkan secara turun temurun di lingkungan keraton (Jawa). Contoh yang termasuk tari tradisional antara lain tari Bedaya, Srimpi, Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, dan Badindin.

Tari Badindin merupakan salah satu kesenian tari yang berasal dari Minangkabau. Tari Badindin bertujuan untuk keperluan dakwah Islam. Tarian ini sesungguhnya suatu bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok sambil berdendang dan memainkan rebana kecil. Tari Badindin diciptakan oleh Rapa’i yang merupakan pengikut setia Syekh Burhanuddin.

Pengertian Motorik Kasar

 


Sujiono (2007: 12) menyatakan bahwa motorik kasar ialah gerakan fisik yang melibatkan otot-otot besar seperti otot lengan, otot kaki, dan otot leher. Secara alamiah seiring dengan peningkatan dan bertambahnya usia anak lima tahun sampai dewasa akan diikuti bertambahnya keterampilan gerak motorik anak. Hurlock (1978: 50) menyatakan bahwa pada anak usia 4 sampai 5 tahun pertama kehidupan pasca lahir anak dapat mengendalikan gerakan kasar. Gerakan tersebut melibatkan bagian badan yang luas dan digunakan untuk berjalan, loncat, lompat, lari dan sebagainya. Setelah 5 tahun terjadi perkembangan yang besar dalam pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kelompok otot yang lebih kuat.

Motorik kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh motorik kasar diperlukan agar anak dapat duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya (Sunardi, 2007:113-114). Perkembangan motorik kasar anak lebih dulu dari pada motorik halus, misalnya anak akan lebih dulu memegang benda-benda yang ukuran besar dari pada ukuran yang kecil.

Pengertian Kemampuan

 


Donald (Sardiman, 2009:73-74) mengemukakan kemampuan adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya pikiran dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Menurut Hamalik (2008:162) kemampuan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut : 1) Kemampuan intrinsik adalah kemampuan yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. 2) Kemampuan ekstrinsik adalah kemampuan yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional.

Mampu adalah cakap dalam menjalankan tugas, mampu dan cekatan. Kata kemampuan sama artinya dengan kecekatan. Mampu atau kecekatan adalah kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan dengan cepat dan benar. Seseorang yang dapat melakukan dengan cepat tetapi salah tidak dapat dikatakan mampu. Spencer and Spencer dalam Hamzah Uno (2010: 62) mendefinisikan kemampuan sebagai “Karakteristik yang menonjol dari seseorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan/superior dalam suatu pekerjaan atau situasi”.

Poerwadarminta (2007: 742) mempunyai pendapat lain tentang kemampuan yaitu mampu artinya kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Pendapat lain dikemukakan juga oleh Nurhasnah (2007: 552) bahwa mampu artinya (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan. Sehubungan dengan hal tersebut Tuminto (2007: 423) menyatakan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan atau kekuatan.

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate