Saturday, June 30, 2018

PENERAPAN ANALISIS KEBUTUHAN INSTRUKSIONAL




A. Konsep Kebutuhan Pembelajaran
Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dan menimbulkan efek yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey : 1990,15 – 27 ), mencampuradukkan antara kebutuhan dan keinginan diidentikkan adalah hal yang keliru sebab menurut M. Atwi Suparman (2001 : 63) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison (2001: 27), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison, 2001: 27)
Oleh karena itu Kaufman (1982) mengajak kita meyakini betul apa masalah yang kita hadapi (M. Atwi Suparman: 2001-63), maka jika kita mengajar hendaknya kita mengajukan kepada diri kita suatu pertanyaan apakah pemberian pembelajaran itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan- pertanyaan senada antara lain:
1. Apa kebutuhan yang dihadapi.
2. Apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah.
3. Apa penyebabnya.
4. Apakah pemberian pelajaran merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah.
Morrison (2001: 27) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2. Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
3. Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
4. Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison, 2001: 28-30).
1. Kebutuhan Normatif
Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.
2. Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
3. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
4. Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
5. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
6. Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.

B. Melakukan Analisis Kebutuhan   
Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.
Perencanaan : yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison, 2001 : 32)
Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison,2001 : 33).
Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan (ibid).
Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data. (Morrison, 2001: 33-34).
Membicarakan tentang analisis tujuan tidak bisa dipisahkan dengan input yang terkait dengan masalah dan proses analisa kebutuhan.

C. Strategi Penilaian Kebutuhan.
Untuk memahami suatu kebutuhan termasuk masalah atau perlu penilaian terlebih dahulu terhadap kebutuhan yang teridentifikasi yang disebut need assessment.
Rasset menekankan pentingnya pengumpulan informasi tentang penilaian kebutuhan secara langsung dari siswa baik orang dewasa maupun siswa umum. la mengidentifikasi lima tipe pertanyaan yang berbeda-beda kelima pertanyaan tersebut:
1. Tipe pertanyaan untuk mengidentifikasi masalah siswa atau ‘leaner’ tentang seperti masalah yang sedang dihadapi.
2. Tipe  pertanyaan  yang  menanyakan  kepada  siswa  untuk mengungkapkan prioritas-prioritas diantara ketrampilan-ketrampilan yang mungkin dapat dimasukkan dalam pelajaran. Contoh : ketrampilan apa yang dibutuhkan ?
3. Tipe   pertanyaan   yang   meminta   kepada   siswa   untuk mendemonstrasikan ketrampilan tertentu. Contoh : tulislah pertanyaan dengan kalimat yang pendek
4. Tipe pertanyaan mencoba untuk mengungkapkan perasaan dan kesan siswa tentang suatu pelajaran tertentu. Contoh : apa yang menarik dari pelajaran tersebut ?
5. Tipe pertanyaan yang memberikan kepada siswa untuk menentukan pemecahan sendiri secara baik. Contoh : apa yang paling baik dilakukan untuk … ?
Harles (1975) menggambarkan partisipasi pihak-pihak yang mempunyai hubungan kerja sama untuk mengidentifikasikan kebutuhan pembelajaran yaitu siswa, pendidik, masyarakat dalam bentuk segitiga.
Atwi Suparman (2001 : 65-72) ada 8 langkah dalam mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran sebagai berikut:
Langkah 1.
Mengidentifikasi kesenjangan hasil prestasi saat ini dengan yang diidealkan. Untuk memperoleh data tersebut menggunakan cara ; membaca laporan tertulis observasi, wawancara, angket dan dokumen.
Langkah 2.
Sebelum mengambil tindakan pemecahan masalah, kesenjangan tersebut harus dinilai terlebih dahulu dari segi:
- Tingkat signifikasi pengaruhnya.
- Luas ruang lingkup.
- Pentingnya peranan kesenjangan terhadap masa depan lembaga atau program.
Langkah 3.
Yang dilakukan dalam langkah ini:
a.  Menganalisis kemungkinan penyebab kesenjangan melalui observasi,wawancara, analisa logis.
b. Memisahkan kemungkinan penyebab yang tidak berasal dari kekurangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap untuk diserahkan penyelesaiannya kepada pihak lain.
c. Mengelompokkan kemungkinan penyebab yang berasal dari kekurangan pengetahuan ketrampilan dan sikap tertentu untuk diteruskan ke langkah 4.
Langkah 4.
Menginterview siswa untuk memisahkan antara yang sudah pernah dan yang belum memperoleh pendidikan, bagi yang sudah berpendidikan melanjutkan ke-langkah 5 dan bagi yang belum meneruskan ke-langkah 8.
Langkah 5
Bagi peserta yang sudah berpendidikan pada langkah ini dikelompokkan lagi mejadi peserta yang sering mengikuti pendidikan menuju ke-langkah 6 dan jarang mengikuti pendidikan melanjutkan ke-langkah 7.
Langkah 6.
Kelompok yang sudah sering mendapat pendidikan diberi umpan balik atas kekurangannya dan diminta untuk mempraktekkan kembali sampai dapat melakukan tugasnya seperti yang diinginkan.
Langkah 7.
Bagi kelompok yang masih jarang mengikuti pendidikan diberi kesempatan lebih banyak untuk berlatih kembali, ini perlu disupervisi dari dekat agar mencapai hasil yang diinginkan.
Langkah 8.
Untuk kelompok peserta yang belum pernah memperoleh pendidikan perlu dibuatkan intruksional yang mencakup pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk diketahui peserta.
Setelah selesai pada tahapan ini dilanjutkan analisis pembelajaran, agar sistematis dan prosedural perlu diurutkan tujuan pembelajaran dari yang bersifat abstrak umum kepada tujuan yang kongkrit operasional. Langkah-langkah untuk melakukan pembelajaran ada 3 yaitu : Analisis pembelajaran, identifakasi perilaku dan karakteristik siswa.
Tulisan ini membahas:
1. Konsep dan prosedur penjabaran prilaku yang ada dalam TPU(Tujuan Pembelajaran Umum) menjadi subprilaku yang lebih kecil.
2. Mengidentifikasi hubungan antara subprilaku yang satu dengan yang lain.
Ketrampilan melakukan analisis pembelajaran penting bagi kegiatan pembelajaran, karena pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang harus diberikan lebih dulu dibanding yang lain, ini berarti pengajaran terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TPU (Tujuan Pembelajaran Umum)

            Berikut salah satu penerapan analisis kebutuhan instruksional pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan mengenai hidup rukun dan tolong menolong.

Permasalahan         : Anak belum dapat menerapkan sikap jujur, disiplin
  dan kerja keras
Tujuan                       : Anak dapat menerapkan sikap jujur, disiplin dan
                                      kerja keras dalam kehidupan sehari-hari
Tujuan pembelajaran :
Setelah mempelajari materi ini, kalian akan dapat:
·         Mengenal nilai kejujuran, kedisplinan, dan kerja keras
·         Berperilaku jujur, disiplin, dan senang bekerja.




MASA PEKA BERHITUNG PADA ANAK


“Menurut teori piaget, setiap individu ankan mengalami empat periode perkembangan berfikir yang berlangsung mulai dari lahir sampai remaja. Masing- masing periode selalu dialami anak secara berurutan. Pertama individu akan mengalami periode sensorimotor ± sampai umur 2.0 tahun, kemudian periode praoperasional ± sampai umur 7.0 tahun, dilanjutkan pada perioe operasional formal ± sampai umur 15 tahun. Namun perlu dipahami tidaklah setiap individu mencapai suatu periode tertentu dalam waktu yang persis sama, terutama bagi individu yang perkembangan mentalnya terbelakang”(psikologi perkembangan II).

Anak usia TK termasuk periode ke 2, yaitu periode praoprasional. Pada periode ini usia anak ± 2.0 sampai umur 7.0 tahun. Masa ini anak sudah memasuki usia TK. Pada masa ini kemampuan mengingat dan mengenal mengalami kemajuan yang pesat. Pada masa ini pula anak dikenalkan dengan lembaga pendidikan formal, yaitu  Taman Kanak-Kanak.
“Anak usia TK adalah  masa yang strategis untuk mengenalkan berhitung di jalur matematika, karena anak usia TK sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan. Rasa ingin tahunya yang tinggi akan tersalurkan apabila  mendapat stimulasi/rangsangan/motivasi yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Ababila kegiatan berhitung diberikan melalui berbagai macam permainan tentunya akan lebih efektif karena bermain merupakan wahana belajar dan bekerja bagi anak. Diyakini bahwa anak akan lebih berhasil memepelajari sesuatu apabila yang ia pelajari sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya” (pedoman pembelajaran permainan berhitung permulaan di taman kanak-kanak) .


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh oborn(1981) perkembangan   intelektual pada anak   berkembang sangat pesat pada kurun usia nol sampai dengan pra-sekolah (4-5 tahun). Oleh sebab itu, usia pra-sekolahsering kali disebut sebagai “masa peka belajar”. Pernyataan didukung oleh Benyamin S. Bloom yang menyatakan bahwa 50% dari potensi intelektual anak sudah terbentuk usia 4 tahun kemudian mencapai sekitar 80% pada usia 8 tahun.
Jean piaget, menyatakan bahwa kegiatan belajar memerlukan kesiapan dalam diri anak.  Artinya belajar sebagai suatu proses membutuhkan aktifitas baik fisik maupun psikis. Selain itu kegiatan belajar pada anak harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan mental anak, karena belajar bagi anak harus keluar dari  anak itu sendiri.
Berdasarkan tingkat perkembangan kognitif, anak usia dini berada pada tahapan pra-operasional kongkrit yaitu tahapan persiapan kearah pengorganisasian pekerjaan yang kongkrit dan berfikit intuitif dimana anak mampu mempertimbangkan tentang besar, bentu, dan benda-benda didasarkan pada interpretasi dan pengalamannya (persepsinya sendiri).  “Cara brfikir intuitif yaitu mengetahui atau mengerti tentang sesuatu tanpa menggunakan pikiran yang rasional”(psikologi perkembangan 2).

Dari pendapat-pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa  berhitung permulaan pada anak TK  dapat dilakukan sesuai kebutuhan, keinginan anak  yaitu dengan permainan yang dapat merangsang perkembangan berfikir anak dengan peralatan bermain sebagai media untuk belajar. Kemampuan berhitung permulaan anak dapat terangsang tanpa disadari oleh anak bahwa kegiatan tersebut adalah proses belajar.

FUNGSI ALAT PERMAINAN EDUKATIF


            Latar belakang dibuatnya APE adalah sebagai upaya merangsang kemampuan fisik motorik anak (aspek psikomotor), kemampuan sosial emosional (aspek efektif), serta kemampuan kecerdasan (kognisi). Prinsip-prisip APE merupakan prinsip produktifitas, kreatifitas, aktifitas, efektif dan efesien, serta menarik dan menyenangkan. Dari sudut pandang  materinya , APE harus mampu mengembangkan daya pikir(kognisi),daya cepat, aspek bahasa,, motorik dan keterampilan. Melalui alat yang digunakan sebagai sarana bermain, sehingga anak diharapkan mampu mengembangkan fungsi intelegensinya, emosi danspiritual, sehingga munjul kecerdasan yang melejit.
            Alat permainan yang baik diharapkan mampu menjadi sarana yang dapat mendorong anak bermain bersama., mengembangkan daya fantasi, multifungsi, menarik, berukuran besar dan awet, tidak membahayakan, disesuaikan dengan kebutuhan, desain mudah dan sederhana, serta bahan-bahan yang digunakan murah dan mudah diperoleh.
            Pembuatan APE yang baik mampu mengembangkan totalitas kepribadian anak, bukan kaerena kebagusannya, tetapi karena aspek kreatifitasnya sehingga mampu menjadi   sarana bermain yang aktif, menarik, menyenangkan, dan bermanfaat.
            Beberapa fungsi APE  antara lain:
1.      Mengajar jadi lebih mudah dan cepat diterima anak.
2.      Melatih konsentrasi anak
3.      Mampu mengatasi keterbatasan waktu dan tempat
4.      Membangkitkan emosi
5.      Menambah daya ingat
6.      Menjamin atmosfir pembelajaran yang kondusif
Alat permainan yang dikembangkan memiliki berbagai fungsi dalam mendukung penyelenggaraan proses belajar anak sehingga kegiatan  dapat berlangsung   dengan baik dan bermakna serta menyenangkan bagi anak. Fungsi- fungsi tersebut adalah:
-          Menciptakan situasi bermain (belajar) yang menyenangkan bagi anak  dalam proses pemberian perangsangan indikator kemampuan anak. Sebagaimana yang telah dikemukaakan sebelumnya bahwa kegiatan bermain itu ada yang menggunakan  alat, ada pula yang tidak menggunakan alat. Khusus permainan yang menggunakan alat, dengan penggunaan alat-alat permainan tersebut anak-anak tampak sangat menikmati kegiatan belajar karena banyak hal yang mereka peroleh melalui kegiatan belajar tersebut.
-          Menumbuhkan rasa percaya diri dan membentuk citra diri anak yang positif.  Dalam suasana yang menyengkan, anak akan mencoba melekukan  berbagai kegiatan yang mereka sukai dengan cara menggali dan menemukan sesuai yang ingin mereka ketahui. Kondisi tersebut sangat mendukung anak dalam mengembangkan rasa percaya diri mereka dalam melakukan kegiatan. Alat-alat permainan edukatif memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai bagian yang tidak terpiasahkan dari kegiatan anak dalam melakukan kegiatan-kegiatannya sehingga rasa percaya diri dan citra diri berkembang secara wajar.
Pada kegiatan anak memainkan suatu alat permainan dengan tingkat kesulitan tertentu akan dapat  membangkan rasa percaya secara wajar dimana anak merasakan bahwa tiada sesuatu kesulitan yang tidak ditemukan penyelesaiannya.
-          Memberikan stimulus dalam pembentukan perilaku dan pengembangan kemampuan dasar pembentukan perilaku pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan kemampuan dasar merupakan fokus pengembangan pada anak usia TK. Alat permainan edukatif dirancang dan dikembangkan untuk memfasilitasi kedua aspek pengembangan tersebut.
-          Memberikan kesempatan anak bersosialisasi, berkomunikasi dengan teman sebaya.
Alat permainan edukatif berfungsi memfasilitasi anak-anak mengembangkan hubungan yang harmonis dan komunikatif dengan lingkungan disekitar misalnya dengan teman-temannya. Ada alat –alat permainan yang digunakan bersama-sama antara satu anak dengan anak yang lainnya.

            Kegiatan yang menyenangkan bagi anak akan merangsang kreatifitas anak. Dan kegiatan tersebut tanpa disadari adalah proses belajar. Disinilah peran kita diperlukan untuk dapat memberikan sarana bermain yang merangsang daya pikir anak untuk berkembang melalui cara menyiapkan media yang diperlukan anak dengan mengetahui fungsi  peralatan untuk kegiatan kratifitas anak. Dalam memilih alat dan perlengkapan bermain dan belajar anak untuk kreatif anak,  guru dan orang tua sebaiknya memperhatikan ciri-ciri peralatan yang baik. Ciri-ciri peralatan yang baik diantaranya:
1.    Desain mudah dan sederhana
Pemilihan alat untuk kegiatan kreativitas anak sebaiknya memilih yang sederhana dari segi desainnya. Karena jika peralatan terlalu banyak detail (rumit) akan menghambat kebebasan anak untuk berkreasi. Yang terpenting adalah alat tersebut tepat dan mengena pada sasaran edukatif, sehingga anaktidak merasa terbebani oleh kerumitannya.
2.    Multifungsi (serba guna)
Peralatan yang diberikan kepada anak sebaiknyaserba guna, sesuai untuk anak laki-laki dan perempuan. Selain itu alat kreatif juga dapat dibentuk sesuai dengan daya kreativitas dan keinginan anak.
3.    Menarik
Sebaiknya pilihlah peralatan yang memungkinkan dan dapat memotivasi anak untuk melakukan berbagai kegiatan serta tidak melakukan pengawasan terus-menerus atau tidak perlu menjelaskan panjang lebaar tentang penggunaannya. Dengan demikian anak akan bebas dengan penuh kesukaan dan kegembiraan dalam mengekspresikan kegiatan kreatifnya.
1.    Berukuran besar
Alat kreativitas yang berukuran besar akan memudahkan anak untuk memegangnya. Untuk menghindari kemungkinan yang membahayakan.


2.    Awet
Biasanya peralatan yang tahan lama harganya lumayan mahal. Namun    tidak semua semua bahan yang tahan lama harganya lebih mahal.Ciri bahan yang tahan lama adalah tidak pegas,lentur, keras dan kuat.
3.    Sesuai kebutuhan
Sedikit banyaknya peralatan yang digunakan tergantung seberapa banyak kebutuhan anak akan peralatan tersebut.
4.    Tidak membahayakan
Tingkat keamanan suatu peralatan sangat membantu orang tua atau guru dalam mengawasi anak. Karena banyak alat yang menimbulkan kekhawatiran  jika anak menggunakannya, seperti: pisau, cutter, jarum, peralatan kecil, dan lain sebagainya.
5.    Mendorong anak untuk bermain bersama
Untuk mendorong anak untuk bermain bersama maka diperluakan peralatan yang melibatkan orang lain. Contohnya: rumah-rumahan, tenda yang sedikitnya dapat menampung dua orang, pistol-pistolan, dan bola.
6.    Mengembangkan daya fantasi
Alat permainan yang sifatnya midah dibentuk dan diubah-ubah sangat sesuai untuk mengembangkan daya fantasi anak. Karena memberikan kesempatan pada anak untuk mampu mencoba dan melatih daya fantasinya.

7.    Bukan karena kelucuan dan kebagusannya
Sebaiknya memilih alat permainan yang mengembangkan intelektualitas, afeksi, dan motorik anak.
8.    Bahan murah dan mudah diperoleh
Hilangkan image peralatan yang mahal adalah peralatan yang berkualitas dan bagus. Pilihlah peralatan yang benar-benar dapat meningkatkan perkembangan kreativitas anak.


Sesungguhnya dengan membeli peralatan yang sudah jadi itu telah mengurangi prosentase nilai kreativitas. Jika orang tua atau guru yang menciptakannya, anak justru lebih suka dan lebih tertarik untuk dapat berkarya, membuat sesuatu seperti yang dilakukan orang tua atau gurunya. Sehingga kreativitas anak memiliki nilai plus dibanding dengan membeli yang sudah siap pakai.

PENGERTIAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF


            Alat permainan edukatif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran anak di TK. Ketersediaan alat permainan tersebut sangat menunjang terselenggaranya pembelajaran anak secara efektif dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal.
Menurut Mayke Sugianto, T. 1995  menyatakan bahwa alat permainan edukatif (APE) adalah permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan (http//seramoe_prinstation.bog spot.com/2013/makalah-alat-permainan-edukatif-ape.) .

12
Pengertian alat edukatif tersebut menunjukan bahwa pada perkembangan dan pemanfaatannya tidak semua alat permainan yang digunakan anak di TK itu dirancang secara khusus untuk mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak. Sebagai contoh bola sepak yang dibuat dari plastik yang dibeli langsung dari toko mainan. Dalam segi ukurannya sering kali susah untuk dipegang secara nyaman  oleh anak jika mau saling melempar dengan temannya akan terasa sakit ditelapak tangan. Warnanya sering kali menggunakan satu warna saja sehingga tidak menarik bagi anak karena anak biasanya menyenangi benda-benda yang berwarna-warni.
Sedangkan Adam (1975) berpendapat bahwa permainan edukatif adalah semua bentuk permainan yang dirancang untuk memberikan pengalaman pendidikan atau pengalaman belajar kepada para pemainnya, termasuk  dan permainan tradisional dan modern yang diberi muatan pendidikan dan pengajaran. Atas dasar pengertian tersebut, permainan dirancang untuk memberi informasi atau menanamkan sikap tertentu, misalnya untuk memupuk semangat kebersamaan dan kegotong royongan, termasuk dalam kategori permainan edukasi karena permain inu juga dapat memberikan pengalaman belajar kognitif dan afektif (Adams, 1975). Dengan demikian, tidak menjadi soal apakah permainan itu  merupakan permainan asli yang khusus dirancang untuk pendidikan ataukah permainan lama yang dimanfaatkan untuk pendidikan.
Tidak jauh berbeda dengan pengertian alat permainan edukasi diatas, Direktorat PADU, Depdiknas (2003) mendefinisikan alat permainan edukatif sebagai  segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana atau peralatan untuk bermain yang mengandung nilai eduktif (pendidikan) dan dapat mengembangkan seluruh kemampuan anak.
Apabila kita menelaah pengertian tersebut, tampak rumusannya tidak terlalu jauh berbeda dengan pengertian sebelumnya. Kedua pengertian tersebut menggaris bawahi bahwa perbedaan antara permainan yang biasa dengan alat permainan edukatif adalah bahwa pada alat permainan edukatif  terdapat unsur perencanaan, pembuatan secara mendalam dengan mempertimbangkan karakteristik anak dan mengaitkannya pada pengembangan berbagai aspek perkembangan anak. Sedangkan alat permainan biasa dibuat dengan tujuan yang berbeda, mungkin saja hanya dalam rangka memenuhi kepentingan bisnis semata tanpa adanya kajian secara mendalam tentang aspek-aspek perkembangan anak apa saja yang dapat dikembangkan melalui alat permainan tersebut.
Menurut Badru Zaman, dkk (2007:63) untuk dapat melihat dan memahami secara lebih mendalam mengenai apakah suatu alat permainan  dapat dikegorikan sebagai alat permainan edukatif  untuk anak TK atau tidak jika memenuhi ciri- ciri sebagai berikut:
-          Alat permainan tersebut  ditujukan untuk anak TK.
-          Difungsikan untuk mengembangkan berbagai perkembangan anak TK.
-          Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan aspek pengembangan atau multi guna.
-          Aman atau tidak berbahaya bagi anak.
-          Dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas anak.
-          Bersifat konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan.
-          Mengandung nilai pendidikan.
Sedangkan secara prisip alat permainan edukatif meliputi:
-          Meningkatkan alat indra secara kombinasi sehingga dapat meningkatkan daya serap dan daya ingat anak didik.
-          Mengandung kesesuaian dengan kebutuhan aspek perkembangan kemampuan dan usia anak didik sehingga tercapai indikator kemampuan yang harus dimiliki anak.
-          Memiliki kemudahan dalam penggunaannya bagi anak sehingga lebih mudah terjadi interaksi dan memperkuat tingkat pemahamannya dan daya ingat anak.
-          Membangkitkan minat sehingga mendorong anak untuk memeinkannya.
-          Memiliki nilai guna sehingga besar manfaatnya bagi anak

-          Bersifat efesien dan efektif sehingga mudah dan murah dalam pengadaan dan penggunaannya.

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran CTL

Kelebihan-Kelebihan Pembelajaran CTL
a.       Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
b.      Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi
c.       Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan
d.      Perilaku dibangun atas kesadaran diri
e.       Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
f.       Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri
g.      Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa
h.      Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan lainnya, sesuai dengan skemata siswa (on going process of development)
i.        Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran.
j.        Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya.

Kelemahan-Kelemahan Pembelajaran CTL
Kelemahan dari pembelajaran CTL antara lain :
a.       Sulitnya menyediakan buku-buku sumber tambahan selain buku sumber yang sudah ada dan ditetapkan untuk setiap kelompok.
b.      Penggunaan waktu kurang efisien karena siswa dibiarkan sendiri untuk menemukan jawabannya.
c.       Tidak semua sekolah memiliki media dan alat pelajaran yang lengkap, sehingga pada pembelajaran IPA tidak mencapai hasil yang maksimal.

Dari tujuh komponen CTLyang diuraikan di atas, peneliti hanya akan menggunakan dua komponen saja yaitu menemukan (inquiry) dan masyarakat belajar (learning community), karena dalam pembelajaran alat pernapasan manusia dan hewan dengan melalui praktikum diharapkan siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan seperti layaknya seorang ilmuwan dan diharapkan siswa dapat bekerja sama dengan orang lain. Sebab secara teori siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate