Thursday, December 26, 2019

Hakekat Hasil Belajar


      
Hasil belajar yang ideal adalah meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun perubahan tersebut sangat sulit untuk diungkapkan atau ditampilkan secara menyeluruh, terutama perubahan ranah rasa siswa. Guru dapat mengambil cuplikan perubahan hasil belajar yang dianggap penting yang mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta, karsa dan rasa.
Evaluasi keseluruhan proses belajar dilihat dari hasil belajar. Dengan melakukan evaluasi terhadap hasil belajar kita dapat memperoleh gambaran tentang efek-efek belajar yang telah dilakukan. Dengan demikian hasil belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang yang berpartisipasi dalam kegiatan belajar.[1]
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut pemikiran Gagne, hasil belajar berupa :
a.         Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
b.         Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasikan, kemampuan analitis fakta-fakta konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
c.         Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
d.        Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urutan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
e.         Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan ekternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar prilaku.[2]

Hasil belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat internal atau eksternal. Perubahan yang terjadi biasanya dapat dilihat dengan bertambah baiknya atau meningkatnya kemampuan yang dicapai seseorang. Pengertian hasil belajar merupakan segala sesuatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
a.         Faktor internal (dalam diri siswa) yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani. Seperti tingkat kecerdasan / intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat dan motifasi siswa.
b.         Faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan disekitar diri siswa yang terdiri dari dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan lingkungan non sosial.
c.         Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat belum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.


[1] Dewa Ketut Sukardi. Pengantar Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 253
[2] Agus Suprijono. Cooperative Learning. (Yogyakarta: Pustaka belajar, 2009), h. 6

Perbedaan tingkat aktivitas jasmani dan gaya hidup aktif antara pendekatan bermain dan pendekatan pendidikan gerak pada siswa dengan kemampuan motorik rendah.



Suherman (2004: 23) mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktifitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi.
Kemampuan motorik atau kompetensi gerak merupakan syarat utama dalam partisipasi gerak seseorang dalam beragam aktivitas fisik seperti permainan dan olahraga.  Hal ini dikarenakan, seseorang yang memiliki keterampilan gerak yang rendah dikhawatirkan berhubungan dengan menjauhnya mereka  dari aktivitas fisik karena mereka merasa tidak percaya diri, frustasi, dan akhirnya menghindar dari beragam aktivitas fisik (Seefeldt dalam Graham, 2007).
Menurut teori sosial kognitif Bandura dikatakan bahwa, belajar adalah aktivitas pengolahan informasi yang luas dimana informasi tentang struktur perilaku dan kejadian-kejadian dalam lingkungan ditransformasikan kedalam representasi simbolik yang menuntun aksi (Schunk 2012: 122). 
Tingkat aktivitas jasmani dan gaya hidup aktif dapat merupakan perilaku yang dihasilkan dari hubungan  timbal balik antara lingkungan, faktor individu, dan atribut yang menyertai perilaku tersebut.  Ditambahkan Lee, Landin, dan Carter (1992) dalam Auwelee et al. (1999: 75) bahwa: “Social-cognitive research about mativation and learning has clearly shown that pupils thinking or cognitions, in turn, influence their affect, motivational behaviour, and skill acquisition in physical education”.  Penelitian tentang motivasi dan belajar telah jelas menunjukkan bahwa pemikiran siswa atau kognitif mereka, pada gilirannya, mempengaruhi afektif mereka, perilaku motivasional, dan penguasaan keterampilan dalam pendidikan jasmani.
Lebih jauh dinyatakan bahwa perubahan tingkah laku dapat berbentuk perubahan kapabilitas jenis kerja atau perubahan sikap, minat, atau nilai (Gagne, 1984 dalam Schunk, 2012: 48). 


Perbedaan tingkat aktivitas jasmani dan gaya hidup aktif antara pendekatan bermain dan pendekatan pendidikan gerak pada siswa dengan kemampuan motorik tinggi.



Sebagaimana pendapat Ennis (2010: 1) yaitu: “Students’ perceptions of their skillfulness and fitness knowledge directly influence their decisions to be physically active”.  Lebih jauh Ennis mengatakan bahwa: “Students will appreciate physical activity if they understand its usefulness, acquire the necessary skills and knowledge and enjoy their lessons”.  Dapat diartikan bahwa, siswa akan menghargai aktivitas jasmani bila mereka memahami manfaatnya, memperoleh keterampilan-keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan, dan menikmati pembelajaran pendidikan jasmani yang mereka ikuti.
Kepercayaan diri dan persepsi positif ini akan berlaku sepanjang hidup sehingga akan menjadi dasar bagi siswa untuk terus berperilaku aktif sepanjang hayat. “The more successful and broader a child’s movement competency, the more likely that child is to continue to participate in movement opportunities throughout the life span” (Abels and Bridges, 2010: 38).
     Dapat kita pahami bahwa semakin berhasil dan luas kompetensi gerak anak-anak, maka sepertinya mereka akan semakin cenderung melanjutkan partisipasi gerak mereka sepanjang hidupnya (active lifestyle).
Kemudian, beberapa  penelitian terdahulu dalam penjas  yang berkaitan dengan pendekatan bermain menemukan bahwa pendekatan ini dapat memberikan pengaruh-pengaruh yang positif seperti meningkatkan self esteem, kemampuan berpikir kritis, pemahaman taktis, pembentukan karakter, peningkatan proses belajar siswa, penambahan nilai pengalaman, serta memberikan kesenangan dan motivasi lebih untuk berpartisipasi.
Mosston & Ashworth, (1994) dalam Metzler (2000: 12) menjelaskan mengenai bentuk pendekatan bermain bahwa:  “Conceptualized a unified series of teaching styles that progressed from strongly teacher-centered (formal and direct) to strongly  student-centered (informal and indirect)”.  Dapat dipahami bahwa, pendekatan bermain merupakan serangkaian konsep gaya mengajar  yang berubah dan berkembang dari berpusat pada guru (formal dan langsung) menjadi berpusat pada siswa (informal dan tidak langsung).
Pendekatan bermain merupakan pembelajaran permainan yang mengadaptasi dan dimodifikasi agar sesuai dengan perkembangan siswa, hal ini diungkapkan Paul Webb et al. (2002: 1) : “Modifying and adapting games is an important part of using this approach.”
Manfaat pembelajaran yang dimodifikasi dijelaskan Simons-Morton et al. dalam penelitiannya yang dikutip Toivo Jurimae dan Jaak Jurimae (2000:10) yaitu : “Revealed that the modification of the school physical education program increased the time children engaged in moderate to vigorous physical activity from less than 10% to about 40%.”   Bahwa modifikasi dari program pendidikan jasmani di sekolah dapat meningkatkan aktivitas jasmani anak-anak dari sedang hingga kuat dari 10% menjadi sekitar 40%.  
Jumlah waktu aktif belajar (JWAB) atau active learning time (ALT) dalam pendekatan bermain tampaknya akan lebih efektif karena siswa lebih menyenangi bentuk pendekatan bermain sehingga motivasi mereka menjadi tinggi dan akhirnya partisipasi mereka dalam pembelajaran akan lebih intensif.  Seperti hasil penelitian Griffin et al., (1995); Lawton, (1989)  dalam  Kirk, D., and MacPhail, A. (2002) menyatakan bahwa : “Pendekatan permainan  lebih menyenangkan dibandingkan dengan pendekatan teknik, sehingga mereka mungkin lebih sangat termotivasi untuk berpartisipasi.”
Menurut teori motivasi prestasi (achievement motivation) disimpulkan bahwa motivasi seseorang akan menentukan hasil yang dicapainya.  Dapat diartikan jika motivasi awal seseorang cukup tinggi maka hasil yang akan dicapai pun cenderung baik.  Sebaliknya, jika motivasi awal seseorang rendah maka hasil yang akan dicapainya tidak akan baik atau memiliki tingkat keberhasilan yang rendah (Schunk, 2012: 49).  Pendekatan bermain yang lebih menyenangkan dibandingkan pendekatan teknik akan meningkatkan motivasi anak untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas jasmani.
Dunia anak adalah dunia bermain, mereka dapat belajar, menemukan keberanian, menggali berbagai pengetahuan dan pemahaman, serta berinteraksi ataupun meningkatkan kecakapan sosial melalui aktivitas bermain.  Melalui pendekatan bermain, siswa diharapkan dapat meningkatkan antusiasme mereka untuk terlibat dalam pendidikan jasmani sehingga terbiasa untuk melakukan aktivitas-aktivitas fisik di luar sekolah dan/atau di masa senggang (active lifestyle). 
Keutamaan dari pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan jasmani yang dapat mengubah perilaku siswanya adalah faktor penentu, seperti dikemukakan Auwelee et al., (1999: 23) bahwa: “An understanding of physical activity determinants is needed if we are to  make significant progress in behavioural change through P.E. programmes.”.  Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan jasmani sangat diperlukan jika kita ingin membuat kemajuan dalam perubahan perilaku melalui program-program penjas.
Adapun yang menjadi syarat bagi terlaksananya program-program penjas yang baik adalah:
a. Attitudes / sikap
Keinginan untuk aktif secara fisik berhubungan dengan sikap tentang aktivitas fisik dan pengaruh norma sosial.  Sikap terdiri atas kepercayaan tentang hasil yang didapatkan dengan melakukan aktivitas fisik (contoh: aerobik membantu saya menurunkan lemak tubuh) dan nilai  yang melekat padanya (contoh: saya ingin menghilangkan lemak tubuh).  Norma sosial berhubungan dengan kepercayaan hal penting lainnya , seperti anggota keluarga, dan tingkat yang ingin dicapai oleh setiap individu.  Aktivitas fisik tidak selalu dapat dikendalikan oleh individu, oleh karenanya penting untuk dapat meningkatkan feeling dan kontrol dalam memprediksi intensitas dan aksi.
b. Intrinsic Motivation / motivasi intrinsik
Perilaku yang termotivasi dari dalam berhubungan dengan tingginya perasaan tentang kompetensi diri dari otonomi tentang determinasi diri.  Persepsi dari kejadian-kejadian eksternal akan mempengaruhi motivasi intrinsik; kejadian-kejadian yang dapat dikontrol sepertinya dapat mengurangi motivasi intrinsik; kejadian-kejadian yang menyampaikan informasi positif tentang kompetensi akan meningkatkan motivasi intrinsik.  Perasaan determinasi-diri (tuntutan dari aksi) berhubungan dengan perilaku motivasi intrinsik lainnya.
c. Enjoyment / kegembiraan
Perasaan positif yang berasal dari aktivitas-aktivitas pendidikan jasmani sepertinya akan menjadi satu-satunya faktor determinan dari tujuan melakukan aktivitas fisik, setidaknya dalam jangka pendek.  Oleh karenanya, pembelajaran penjas harus memiliki tujuan dan juga  menggembirakan.  Kegembiraan dapat menjadi batang dari otonomi perasaan dan kontrol pribadi untuk menjadi tertantang secara optimal.  Di samping itu, kegembiraan berhubungan dengan keinginan untuk mencoba dengan keras, belajar, dan bekerja sama untuk berkembang. (Auwelee et al., 1999: 23)

Interaksi pendekatan pembelajaran dan kemampuan motorik terhadap tingkat aktivitas jasmani dan gaya hidup aktif siswa.



Peserta didik terutama siswa sekolah dasar harus dibekali pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan gerak dasar mereka sehingga akan menimbulkan kepercayaan diri dan persepsi positif tentang kemampuan atau kompetensi geraknya. 
Kepercayaan diri dimaksud berkaitan dengan teori sosial kognitif yang jika diaplikasikan dalam perubahan perilaku hidup sehat/aktif seperti dinyatakan Departement of Health and Human Services (2002: 47) bahwa:
Health behavioral change is the result of reciprocal relationships among the environment, personal factors, and attributes of the behavior itself. Self-efficacy is one of the most important characteristics that determine behavioral change.

     Bahwa perubahan perilaku hidup sehat adalah hasil hubungan timbal balik antara lingkungan, faktor individu, dan atribut-atribut dari perilaku tersebut.  Self-efficacy (kepercayaan diri) adalah salah satu karakteristik/ciri paling penting yang menentukan perubahan perilaku.
Sedangkan menurut teori Gestalt tentang persepsi menyatakan bahwa : “...perception is modified by experience and training”.  (Kohler, 1947/1959; Leeper, 1935 dalam Schunk 2012). 
Oleh karena itu, penerapan pendekatan pendidikan gerak  yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa akan menjadi solusi dalam menarik minat siswa untuk terlibat penuh dalam pembelajaran penjas, dan merangsang persepsi mereka untuk menyenangi dan memahami manfaat melakukan aktivitas-aktiitas jasmani sehingga dapat berkontribusi signifikan terhadap tujuan pendidikan jasmani yang menyeluruh seperti terhadap gaya hidup aktif siswa. 

Perbedaan tingkat aktivitas jasmani dan gaya hidup aktif siswa antara pendekatan bermain dan pendekatan pendidikan gerak.



Asosiasi standar nasional dalam pendidikan jasmani Amerika Serikat (NASPE) menyatakan bahwa: “The scientific and empirical evidence is indisputable—life-long participation in physical activity has a significant positive impact on people’s health and well-being” (NASPE, 2005, p.3) dalam (Abels and Bridges, 2010: 89).
Bukti saintifik dan empirik yang tak terbantahkan tentang partisipasi sepanjang hidup dalam aktivitas jasmani memiliki dampak positif yang sifnifikan terhadap kesehatan umat manusia.
Lebih jauh, Abel dan Bridges (2010: 89) menyatakan bahwa proses dan perilaku dalam aktivitas jasmani harus dikembangkan daripada produk atau hasilnya (kebugaran) karena perilaku tersebut akan cenderung diteruskan hingga masa dewasa.
    Rudolf von Laban (1879-1958) adalah seorang pionir dalam pendidikan gerak.  Sumbangan kritisnya adalah teori gerak Laban yang memfokuskan pada konsep usaha (effort), membedakan fungsi gerak menjadi dua yaitu gerak ekspresif seperti ide-ide dalam tari dan bentuk ekspresi seni lainnya serta gerak fungsional yang memiliki peran dalam membantu tugas sehari-hari seperti olahraga dan permainan.  Hal ini berdasarkan pada pernyataan Abels dan Bridges (2010: 20) bahwa:
Laban believed that the body was an instrument of expression and made a distinction between this expressive movement and movements that serve a purpose in everyday life (functional movement).  Expressive movement communicates ideas in dance or other forms of artistic expression.  Functional movement has a purpose in addition to helping with the tasks of everyday life, such as sports and games.

   Dapat disimpulkan bahwa gerak merupakan unsur utama dalam setiap aktivitas hidup manusia sehari-hari termasuk dalam permainan dan olahraga. Oleh karena itu, kompetensi gerak penting dikuasai siswa sejak dini karena dapat membantu tugas gerak siswa dalam kehidupan sehari-hari atau menjadi gerak fungsional. 
Pengenalan, pemahaman, dan penguasaan terhadap gerak yang dimulai sejak usia sekolah dasar terutama melalui pembelajaran pendidikan jasmani dimaksudkan agar siswa memiliki keterampilan gerak dasar yang memadai serta menikmati setiap pembelajaran dalam penjas sehingga tetap melanjutkan kegemaran terhadap berbagai aktivitas jasmani saat melanjutkan sekolah dan di waktu luang.  Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan jasmani yang dikemukakan oleh Lutan (2003: 35) :
Tujuan pendidikan jasmani bersifat menyeluruh dan memberikan   kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kepercayaan diri (self-esteem) dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani.

    Physical inactivity telah menjadi kebiasaan yang menetap pada anak-anak karena mereka telah terbiasa duduk di depan televisi atau komputer, terlebih dengan konsumsi makanan-minuman yang tinggi kalori sehingga dapat mengakibatkan obesitas dan penyakit kronis lainnya.  Sementara itu, kebugaran dan aktivitas (jasmani) sangat penting dalam mengubah perilaku ini, dipercaya bahwa pendekatan yang hanya berfokus pada kebugaran tidak dapat menyelasaikan masalah ini.  Pengetahuan yang lebih luas tentang dasar-dasar gerak penting adanya untuk menciptakan motivasi, kemampuan dan atmosfir yang menuntun terhadap gaya hidup aktif sepanjang hayat, yang tampaknya dapat mengurangi obesitas epidemik pada anak.
  Sitting in front of televisions and computers as well as consuming high-calorie food and beverages have resulted in an epidemic of childhood obesity. While fitness and activity are critical to changing this trend, we believe that an approach focused only on fitness will not solve the problem.  We believe that a broader base of knowledge and movement is necessary for creating the motivation, ability, and atmosphere that can lead to a lifetime of physical activity, which is more likely to address the childhood obesity epidemic. (Abels and Bridges, 2010: 13)

Aplikasi pendekatan dan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak dapat berkontribusi signifikan terhadap tujuan pendidikan yang diharapkan. 
  Tujuan Pendidikan Jasmani yang semula lebih berorientasi untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan penguasaan gerak menjadi lebih berorientasi untuk menanamkan kesenangan dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik sepanjang hayat. Tujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan penguasaan gerak untuk dapat berolahraga tetap diperhitungkan, namun lebih ditempatkan sebagai dampak positif dari Pendidikan Jasmani. (Suherman, 2013).

Pendidikan gerak dalam Suherman (2009: 7), yaitu pendekatan yang lebih menekankan pada penguasaan keterampilan gerak.  Tujuan dari pendekatan ini terutama adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas gerak secara terampil, efisien, efektif pada situasi yang terencana maupun yang tidak terencana; meningkatkan pengertian, dan kesenangan terhadap gerak baik sebagai pelaku maupun sebagai penonton; meningkatkan pengetahuan dan menerapkan pengetahuan tentang gerak manusia.
Saputra (2002: 4) yaitu : “Siswa sekolah dasar memiliki kekhasan dalam bersikap yang diungkapkannya melalui bermain.  Karakteristik inilah  yang harus diangkat untuk menjembatani antara keinginan guru  dan siswa.”   Salah satu pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar adalah pendekatan bermain, hal tersebut sesuai yang  dikemukakan Saputra (2002: 63) yaitu :
  Untuk membina dan meningkatkan aktivitas pengembangan kemampuan daya gerak siswa sekolah dasar, maka guru pendidikan jasmani perlu merancang bentuk-bentuk yang menarik bagi siswa usia sekolah dasar. Pendekatan bermain menjadi kata kuncinya, karena siswa sekolah dasar memiliki karakteristik belajar sambil bermain.
     
Dunia anak adalah dunia bermain, mereka dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, kecakapan sosial dan mental melalui aktivitas bermain.  Penelitian terdahulu dalam penjas  yang berkaitan dengan pendekatan bermain menemukan bahwa pendekatan ini dapat memberikan pengaruh-pengaruh yang positif seperti meningkatkan self esteem, kemampuan berpikir kritis, pemahaman taktis, pembentukan karakter, peningkatan proses belajar siswa, penambahan nilai pengalaman, serta memberikan kesenangan dan motivasi lebih untuk berpartisipasi.

Gaya Hidup Aktif (Active Lifestyle)



a.       Pengertian
Gaya hidup aktif merupakan pola dan kebiasaan hidup manusia yang terarah pada kehidupan aktif secara fisik dengan tujuan kesehatan.  Lebih jelasnya, gaya hidup aktif adalah:
 The constellation of habitual activities unique to a person, which lend consistency to activities, behavior, manners of coping, motivation, and thought processes, and define the way in which he/she lives; lifestyle activities include diet, level of physical activity, substance abuse, social and personal interactions.
   (Medical Dictionary, 2010)
Dalam medical dictionary dijelaskan bahwa, gaya hidup aktif adalah konstelasi dari kebiasaan aktivitas unik manusia yang memberikan konsistensi terhadap aktivitas, perilaku, etika, motivasi, dan pengelolaan gagasan, dan didefinisikan sebagai cara di mana dia hidup; aktivitas gaya hidup termasuk diet, level aktivitas fisik, penyalahgunaan zat kimia, interaksi sosial dan personal.  Kebiasaan hidup aktif dan sehat sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.  Konsistensi untuk selalu menjaga pola aktivitas hidup sehat harus dapat diterapkan kepada siswa sejak dini.
Gaya hidup aktif sangat berkaitan dengan gaya hidup sehat karena keduanya cenderung berintegrasi dan sejalan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup seseorang.  Hal ini dapat disimpulkan berdasarkan definisi yang menyatakan bahwa:
A healthy active lifestyle is considered to be a lifestyle that includes a healthy diet and a regular exercise plan. It generally also includes an absence of unhealthy habits, such as smoking. A healthy and active lifestyle is a lifestyle that many people of all ages strive for, and with a little effort, it is entirely possible to achieve through some simple life changes.
Dapat dijabarkan bahwa gaya hidup sehat dan aktif adalah gaya hidup yang termasuk kepada diet sehat dan rencana latihan (fisik) yang rutin.  Umumnya termasuk menghindari kebiasaan tidak sehat seperti merokok.  Gaya hidup sehat dan aktif adalah gaya hidup yang banyak diperjuangkan oleh banyak orang di segala usia, dan dengan sedikit usaha, semuanya dapat diraih melalui perubahan perilaku hidup yang sederhana.
b. Kesesuaian Pendidikan Jasmani untuk Meningkatkan Aktivitas Jasmani Sepanjang Hayat (Lifetime Physical Activity)
Sebagaimana dikatakan Bo Shen (2006: 328) bahwa, “an important goal in physical education is to provide students with the necessary knowledge, skill, and competence to participate in physical activity outside of school during their leisure time.”  Tujuan penting dalam pendidikan jasmani adalah memberikan siswa pengetahuan yang diperlukan, keterampilan, dan kompetensi untuk terlibat dalam aktivitas jasmani diluar sekolah selama waktu luang mereka.  Pendidikan jasmani memiliki peran penting tentang bagaimana agar siswa ketika selesai pembelajaran atau telah keluar dari sekolah agar memiliki gaya hidup aktif.  Siswa diharapkan dapat terus terlibat dalam aktivitas jasmani keseharian dalam kehidupannya dan bukan hanya pada saat proses pembelajaran penjas berlangsung saja.
Kemudian  (Stahl et al., 2001) menyatakan: “Physically active lifestyles are regularly associated with improved health and quality of life.”  Gaya hidup aktif secara fisik sangat berhubungan dengan peningkatan kesehatan dan kualitas hidup.  Hal ini berarti, aktivitas-aktivitas fisik yang dilakukan dalam proses pendidikan jasmani berhubungan langsung dengan gaya hidup aktif yang dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup seseorang.
Studi Coakley dan White (1992) dalam Auwelee et al. (1999: 22) menemukan bahwa partisipasi dalam komunitas-komunitas program olahraga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dalam mengikuti kelas Penjas.  Memori negatif dalam mengikuti penjas terpusat pada kebosanan, pilihan yang terbatas, merasa bodoh dan tidak kompeten, serta mendapat penilaian yang buruk dari teman. 
Ditambahkan studi dari Sports Council and Health Education Authority (1992) dalam  Auwelee et al. (1999: 21) bahwa partisipasi anak dewasa dalam olahraga dan rekreasi di masa depan sangat berhubungan dengan perilaku mereka ketika anak-anak.
Karenanya, pembelajaran penjas harus disertai pemilihan pendekatan pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.
Kemudian studi Franke (1991) dalam Auwelee et al. (1999: 22) menyatakan bahwa kurikulum penjas dapat meningkatkan aktivitas di masa senggang jika penjas di sekolah melibatkan aspek liberal dari kesenangan dan kepercayaan siswa terhadap program pedagogik.
b.      Peranan serta kontribusi gaya hidup aktif
Hasil pembelajaran penjas yang juga penting adalah adanya sikap positif yang dihasilkan (afektif), bukan hanya meningkatnya keterampilan (psikomotor), serta pengetahuan dan pemahaman gerak (kognitif) yang dicerminkan oleh nilai yang diperoleh.  Gaya hidup aktif merupakan salah satu sikap positif yang akan mendukung pola hidup aktif dan sehat siswa dalam lingkungannya. Sekolah sebagai salah satu lingkungan sosial siswa, memiliki kewajiban dalam menciptakan suasana aktif secara fisik, hal ini karena sekolah memiliki potensi ke arah tersebut.  Robert Wood Johnson Foundation (2007) tersedia pada laman http://www.rwjf.org/ [20 juli 2014], yayasan yang mengkaji mengenai active living mengemukakan dalam sebuah hasil penelitiannya bahwa,
  Schools serve as an excellent venue to provide students with the opportunity for daily physical activity, to teach the importance of regular physical activity for health, and to build skills that support active lifestyles. Unfortunately, most children get little to no regular physical activity while in school.

Dari penjelasan tersebut jelas bahwa, sekolah merupakan tempat yang sangat baik dalam menyediakan kesempatan bagi siswa agar terlibat dalam aktivitas fisik sehari-hari, mengajarkan pentingnya melakukan aktivitas fisik secara teratur untuk kesehatan, dan mengembangkan keterampilan siswa yang akan mendukung gaya hidup aktif. Namun sayangnya, kebanyakan siswa hanya sedikit atau bahkan tidak sama sekali memperoleh kesempatan melakukan aktivitas jasmani secra rutin ketika berada di sekolah.
Ennis (2010: 17) mengemukakan suatu hasil penelitian mengenai upaya mempersiapkan siswa agar melakukan aktivitas sepanjang hayat.  Hasil penelitiannya bahwa, siswa yang memiliki motivasi yang tinggi berpotensi untuk melakukan aktivitas fisik yang tinggi pula.  Perilaku gaya hidup aktif secara fisik yang merupakan hasil dari pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah tentunya dapat dibentuk melalui kegiatan sekolah dengan lebih mengembangkan potensi gerak siswa serta memperluas kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas jasmani secara rutin.
c.  Karakteristik anak usia sekolah dasar
Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun.  Jika mengacu kepada pembagian tahapan perkembangan anak, ini berarti bahwa anak usia sekolah dasar berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa kanak-kanak tengah (6-9 tahun), dan masa kanak-kanak akhir (10-12 tahun).
Anak-anak usia sekolah ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda.  Ia senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.  Oleh sebab itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, mengusahakan siswa berpindah atau bergerak, bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
Dari aspek perkembangan, Gallahue (1989: 21) menyatakan bahwa :

  The period of later childhood, from about the eight to the twelfth year of life, is typified by slow but steady increases in height and weight and by progress toward greater organization of the sensory and motor systems....children make rapid gains in learning during later childhood and are capable of functioning at increasingly sophisticated levels in the performance of movement skills. 

Usia 8-12 tahun disebut dengan masa kanak-kanak lanjutan (later childhood), dicirikan dengan peningkatan berat badan dan tinggi badan yang rendah namun konstan tetapi mengalami perkembangan sistem sensorik dan motorik yang jauh lebih cepat....anak-anak meraih perkembangan yang pesat dalam belajar pada masa ini dan mereka mampu mempergunakan tingkat yang sangat baik dalam penampilan keterampilan-keterampilan gerak.

     Menurut Havighurst dalam Desmita (2011: 35), mengatakan bahwa tugas perkembangan anak usia sekolah dasar meliputi:
1.      Menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik
2.      Membina hidup sehat
3.      Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok
4.      Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
5.      Belajar membaca, menulis, dan berhitung agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat
6.      Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berpikir efektif.
7.      Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai
8.      Mencapai kemandirian pribadi.
Desmita (2011: 36) menyatakan bahwa dalam upaya mencapai setiap tugas perkembangan siswa sekolah dasar, guru dituntut untuk memberikan bantuan berupa:
1.      Menciptakan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik.
2.      Melaksanakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bergaul dan bekerja dengan teman sebaya sehingga kepribadian sosialnya berkembang.
3.      Mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman konkret atau langsung dalam membangun konsep.
4.      Melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan nilai-nilai, sehingga siswa mampu menentukan pilihan yang stabil dan menjadi pegangan bagi dirinya.



Aktivitas Jasmani


Aktivitas jasmani merupakan suatu istilah yang digunakan untuk kegiatan yang dilakukan oleh tubuh atau jasmani.  Aktivitas jasmani adalah tingkah laku yang melibatkan gerak jasmani – contoh: berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, bermain cabang olahraga, atau berenang (Graham 2007:4).  Coackley (2001:57) menyatakan bahwa, “People in all cultures have engaged in physical activities and used human movement as a part of their ritual.  Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik telah berlangsung lama, bahkan sejak jaman dahulu kala ketika peradaban manusia belum semaju sekarang ini.  Manusia telah sejak lama berhubungan dengan aktivitas jasmani bukan saja untuk mempertahankan kehidupannya, tetapi bahkan dalam ritual ibadah.
Coackley (2001:57) selanjutnya menyatakan bahwa, “Physical activities were tied directly to the challenge of survival and the expression of religious beliefs.”  Aktivitas jasmani terkait langsung dengan tantangan untuk mempertahankan dan ekspresi agama kepercayaan.  Lebih lanjut, Coackley (2001:58) menyatakan bahwa:
  In early human history, there where no sports as we define and play them today. People used their physical abilities for survival. Physical activities occasionally were included in community and religious rituals, but their purpose probably was to appease the gods, rather than to entertain or build character.

Pada jaman sejarah awal manusia, tidak ada olahraga seperti yang kita definisikan dan mainkan sekarang.  Manusia menggunakan kemampuan jasmani mereka untuk bertahan hidup.  Aktivitas jasmani adakalanya terdapat dalam ritual komunitas dan keagamaan, tetapi tujuannya dimungkinkan untuk memuja Tuhan, bukan untuk hiburan atau membangun karakter.
Aktivitas fisik atau aktivitas jasmani kini telah dibangun sedemikian rupa sehingga bukan hanya aktivitas rutin perorangan saja, melainkan telah banyak dibangun menjadi sebuah organisasi formal dengan berbagai peraturan yang dibuat.  Bentuk pertama dari organisasi permainan di dunia mungkin muncul dari kombinasi tantangan aktivitas fisik dan ritual keagamaan (Coackley, 2001:57).
Shawan (1997:1) mengemukakan bahwa, “The 1990s brought a historic new perspective to exercise, fitness, and physical activity by shifting the focus from intensive vigorous exercise to a broader range of health-enhancing physical activities.”  Tahun 1990 membawa perspektif sejarah baru pada latihan, kebugaran dan aktivitas jasmani melalui fokus pergeseran latihan yang lebih bertenaga pada satu jangkauan yang lebih luas dari perubahan kesehatan aktivitas fisik.  Shawan selanjutnya mengemukakan bahwa terjadi penurunan partisipasi keseharian di sekolah dalam pendidikan jasmani di Amerika dari tahun ke tahun. Shawan menggambarkannya sebagai berikut pada gambar 2.1. 
Gambar 2.1.
                  Persentase Partisipasi Siswa Dalam Pendidikan Jasmani di Amerika.
Sumber: (Shawan, 1997:4)
Gambar tersebut menunjukkan adanya penurunan keterlibatan siswa usia sekolah 9 – 12 tahun dalam pendidikan jasmani.  Shawan mengemukakan bahwa penurunan tersebut terutama terjadi secara signifikan pada siswa perempuan dibandingkan dengan siswa laki-laki.
Permasalahan utama pada aktivitas jasmani telah banyak di bahas di berbagai Negara maju di dunia.  Persoalan ini terkait dengan kesehatan dan kelangsungan hidup manusia.  Berbagai penelitian mengenai aktivitas jasmani juga telah banyak dilakukan oleh para ahli.  Bahkan WHO (World Health Organization) yaitu suatu badan kesehatan dunia yang menangani permasalahan kesehatan secara global, telah banyak mencurahkan perhatiannya pada permasalahan ini.
 “Physical inactivity, a low level of cardiorespiratory fitness and obesity are related to many chronic diseases.” (U.S. Department of Health and Human Services 1996) dalam (http://herkules.oulu.fi/isbn9514272331/html). Physical inactivity, kebugaran yang rendah dari kardiorespirasi dan obesitas berhubungan dengan banyak penyakit kronis. 
Beberapa pakar memaparkan pengertian tentang aktivitas jasmani, antara lain menurut Almatsier (2003:144) mengatakan bahwa, “Aktivitas jasmani dapat didefinisikan sebagai gerakan jasmani yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya.”  Sedangkan Fathonah, dkk (1996:12) menyatakan bahwa, “Aktivitas dibagi menjadi dua aktivitas fisik internal dan aktivitas eksternal.” Aktivitas fisik internal yaitu suatu aktivitas dimana proses bekerjanya organ-organ dalam tubuh saat istirahat, sedangkan aktivitas eksternal yaitu aktivitas yang dilakukan oleh pergerakan anggota tubuh yang dilakukan seseorang selama 24 jam serta banyak mengeluarkan energi.  Aktivitas jasmani adalah pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga secara sederhana yang sangat penting bagi pemeliharaan fisik, mental dan kualitas hidup sehat (www.webmaster @promosi kesehatan.com [ 04 Oktober 2014]).
Carl J. Caspersen, dkk, dalam Public Health Report (1985: 126) menyatakan “physical activity is defined as any bodily movement produced by skeletal muscle that results in energy expenditure. they energy expenditure can be measured in kilocalories.”  Aktivitas fisik didefinisikan sebagai segala gerak tubuh yang dilakukan oleh otot skelet yang membutuhkan pengeluaran energi, yang mana energi tersebut dapat diukur dalam kilo kalori.
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan dapat dijabarkan bahwa aktivitas jasmani merupakan suatu kondisi yang memerlukan tingkatan gerakan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan energi yang dikeluarkan, sehingga kalori per jam akan berkurang tergantung tingkat aktivitasnya.  Aktifitas jasmani diukur sebagai pengeluaran
kalori (caloric cost), tetapi tidak selalu sesuai karena keuntungan dan efek kesehatan aktivitas fisik melalui pengeluaran energi sebagai contoh lari dengan suatu intensitas tertentu, sedangkan pengeluaran energi rendah contohnya latihan peregangan tidak berhubungan dengan besarnya pengeluaran kalori (Subardja, 2004:50). 
Malina dkk, (2001:1516) menjelaskan mengenai aktivitas jasmani bahwa,
The dose or volume of physical activity can be calculated from the frequency, duration (time), intensity and type of physical activity. Although physical activity is often evaluated in terms of energy expenditure, it can be seen as a biocultural behavior: energy is expended in active behaviors that occur in different forms and cultural contexts.

Menurutnya bahwa dosis atau volume aktivitas jasmani dapat dikalkulasikan dari frekuensi, durasi (waktu), intensitas dan jenis dari aktivitas fisik.  Meskipun aktivitas jasmani sering dievaluasi pada terminologi pengeluaran energi, hal tersebut mungkin dapat dilihat sebagai sebuah perilaku biokultural: energi dibelanjakan pada perilaku aktif yang terjadi dalam bentuk dan konteks budaya yang berbeda-beda.
Anak atau remaja yang kurang atau enggan melakukan aktivitas jasmani sehari-hari, menyebabkan tubuhnya kurang menggeluarkan energi.  Oleh karena itu, jika asupan energi berlebihan tanpa diimbangi dengan aktivitas jasmani yang seimbang maka seorang anak remaja akan mudah menderita kegemukan (Dina Agoes dan Maria Poppy, 2003:19-22).  Berikut ini, Agoes dan Poppy (2003), menguraikan mengenai jenis aktivitas fisik dengan kategori serta waktu dan jumlah pengeluaran energi selama melakukan aktivitas fisik pada tabel 2.2.
     Tabel 2.2
     Jenis Aktivitas Fisik

Macam Kegiatan
k.kal/ jam
Ringan :
Membaca, menulis, makan, menonton televisi, mendengarkan radio, merapikan tempat tidur, mandi,
berdandan, berjalan lambat, bermain kartu dan berbagai
kegiatan yang dikerjakan dengan duduk atau tanpa menggerakkan lengan.
80-160 k.kal
± 1-3 jam

Sedang :
Bermain denagn mendorong benda, bermain pingpong,
menyetrika, merawat tanaman, menjahit, mengetik, mencuci baju dengan tangan, menjemur pakaian, berjalan kecepatan sedang serta berbagai kegiatan yang dikerjakan dengan berdiri atau duduk yang banyak menggerakkan lengan
170-240 k.kal
± 4-6 jam

Berat :
Berjalan cepat, bermain dengan mengangkat-angkat benda berat, berlari, berenang, bermain tenis, naik turun tangga, memanjat, bersepeda, bermain sky, dansa, sepak bola, bermain bowling, golf, berkebun, bermain dengan banyak menggerakkan lengan.

>250 k.kal
> 6 jam


                        Sumber: Dina Agoes dan Maria Poppy, (2003: 42)

Menurut WHO dalam hasil penelitian tentang aktivitas fisik yang dipublikasikan tahun 2009, mengatakan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan aktivitas jasmani agar bermanfaat bagi kesehatan, yaitu :
1)   Frekwensi, lakukan secara teratur 3 -5 kali seminggu.
2)   Intensitas, agar dapat meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru diperlukan intensitas 60-80% dari denyut nadi maksimal (DNM), sedangkan untuk pembakaran lemak dapat dengan intensitas yang lebih ringan ( < 60% DNM ). DNM = 220 – umur.
3)   Waktu, dimulai semampunya, kemudian ditambah secara perlahan / bertahap selama 30 menit.
4)   Dari 3 macam aktivitas jasmani yang dapat dilakukan, lakukan secara bervariasi untuk meningkatkan kesehatan tubuh.
Aktivitas rutinitas keseharian secara umum mungkin masih belum memenuhi pola aktivitas fisik yang memenuhi standar kesehatan. Ini dikarenakan aktivitas yang dilakukan masih belum melibatkan sebagian besar otot, dan jumlah pengeluaran energinya masih belum pada taraf aktivitas untuk kesehatan.
Aktivitas fisik dengan intensitas moderat, dapat menaikan detak jantung dan menaikan suhu tubuh menjadi lebih hangat dan pernapasan sedikit terengah-engah. Itu dapat meningkatkan proses metabolisme 3-6 kali dari saat beristirahat (Cavill et.al., 2006:5). Giriwijoyo, (2007:48) mengemukakan bahwa, untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik yang dilakukan, maka aktivitas fisik tersebut harus pada tingkat aerobik, yaitu mengaktifkan otot-otot :
1)   Melibatkan sekitar 40% atau lebih.
2)   Dilakukan secara serentak dan simultan.
3)   Dilakukan dengan intensitas adekuat (cukup) dan sesuai usia (nadi mencapai apa yang disebut “daerah latihan”).
4)   Dilakukan secara kontinu, dengan waktu adekuat (minimal 10 menit atau lebih).
Berikut ini adalah gambar pola aktivitas jasmani keseharian yang dianjurkan oleh Janet McWatt, RN (2002: 1) yang melakukan proyek dalam upaya peningkatan kesehatan publik di Negara Islandia.
Gambar 2.2.
Piramida Aktivitas Fisik
           Sumber: (http:www.islandcounty.nethealthphyactivityproject.htm.jpg)

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate