Wednesday, December 16, 2020

Prinsip-prinsip Perkembangan Motorik Halus


Prinsip pengembangan motorik halus menurut (Jamaris, 2003:9) prinsip untuk pengembangan motorik adalah kematangan saraf, urutan, motivasi, pengalaman, dan latihan atau praktik.

Pada waktu anak dilahirkan hanya memiliki otak sebesar 25% dari berat otak orang dewasa. Saraf-saraf tersebut belum berkembang sesuai dengan fungsinya dalm mengontrol berbagai gerak motorik baik motorik kasar maupun motorik halus. Dengan bertambahnya umur anak yang makin bertambah dan perkembangan semakin besar anak mengalami proses neurological naturalation (kematangan neorologis).

Proses perkembangan fisiologis manusia berlangsung secara berurutan yang terdiri atas a) Pembedaan yang mencakup perkembangan secara berlahan dari motorik kasar yang belum terarah dengan baik kepada gerak yang lebih terarah sesuai fungsi gerak motorik kasar, b) Keterpaduan yaitu  kemampuan dalam menggabungkan gerakan motorik yang saling berlawanan dalam koordinasi gerak yang baik, seperti berlari dan berhenti.

Motivasi yang datang dari dalam diri anak tersebut perlu didukung dengan Motivasi yang datang dari luar. Misalnya memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai aktifitas motorik dan menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak.

Pada saat anak mencapai kematangan untuk terlihat secara aktif  dalam aktifitas fisik yang ditandai motivasi yang tinggi, orang tua dan guru perlu memberi kesempatan dan pengalaman yang dapat meningkatkan motorik anak secara optimal. Peluang ini tidak saja berbentuk memberikan anak melakukan kegiatan fisik akan tetapi perlu dukungan dengan berbagai fasilitas yang berguna bagi pengembangan keterampilan motorik kasar maupun motorik halus anak.

Pendidik yang bekerja dengan anak-anak usia dini perlu menekankan pentingnya kegiatan bermain atau pengembangan motorik dan pengembangan lainnya terdapat dua hal yang seyogyanya tidak dilupakan, pertama adalah pemahaman akan pentingnya hubungan kegiatan tersebut dengan pengembangan daya fikir dan daya cipta anak. Hal kedua adalah bila anak tanpa bergerak bebas, tanpa kesempatan bermain dan tanpa kesempatan menjelajahi lingkungannya anak akan kurang tumbuh kembang secara optimal.

Pembelajaran motorik halus di sekolah ialah pembelajaran yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil serta koordinasi antara mata dan tangan. Saraf motorik halus bisa dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus diantaranya: 1) Bermain puzzle, 2) Menyusun balok, 3) Memasukkan   benda   ke   dalam    lubang    sesuai  bentuknya, 4) Membuat garis, 5) Melipat kertas, 6) Menulis dengan huruf dan bentuk tulisan yang benar. (Decaprio, 2013:20).

Dari prinsip pembelajaran di atas sebagai seorang pendidik kita akan dengan mudah mengajar di Taman Kanak-kanak dengan menjadikan prinsip pembelajaran tersebut sebagai acuan pengajaran di Taman Kanak-kanak sehingga kebutuhan anak dalam belajar dan kemampuan anak dalam mengembangkan aspek perkembangannya khususnya aspek motorik halus dapat dikembangkan dengan baik.

Kemampuan motorik halus setiap anak di sekolah tentu tidak sama, baik dari segi kekuatan maupun ketepatan. Kondisi ini dipengaruhi oleh pembawaan dan stimulasi yang diperolehnya. Sebenarnya ada banyak hal yang mempengaruhi kemampuan motorik halus anak. Tidak hanya suasana dan lingkungan belajar di sekolah, melainkan juga kondisi lingkungan dan keluarga yang turut memberikan pengaruh besar terhadap kecerdasan motorik halusnya (Decaprio, 2013:20-21).

Pengertian Kemampuan Motorik halus Melalui Membatik Jumputan

 


Pembelajaran membatik ditingkat dasar dapat dimulai dengan pengenalan terhadap motif-motif sederhana. Pembelajaran motif ini dapat diintegrasikan dengan pembelajaran menggambar dekoratif. Adapun teknik membatik yang relatif mungkin dilaksanakan di TK adalah membatik dengan teknik jumputan. Dengan teknik ini kita tidak usah khawatir anak akan terkena lilin, cukup menggunakan tali untuk mengikat bagian kain yang akan dirintangin warna, variasi ikatan akan menentukan motik batik jumputan yang akan dibuat.

Dengan melakukan kegiatan membatik jumputan anak lebih dominan menggunakan jari-jari tangannya sehingga kemampuan motorik halusnya akan dapat berkembang dengan baik. Kegiatan membatik jumputan yang dilaksanakan dalam pembelajaran kemampuan motorik halus anak khususnya jari tangannya akan lebih banyak digunakan.

Anak pada usia TK koordinasi mata-tangan anak semakin baik. Anak sudah dapat menggunakan kemampuannya untuk melatih diri dengan bantuan orang dewasa. Anak dapat menyikat gigi, menyisir, mengancingkan baju, membuka dan memakai sepatu serta makan menggunakan sendok dan garpu. Kelenturan tangannya juga semakin baik. Anak dapat menggunakan tangannya untuk berkreasi (Izzaty, 2005:55).

Salah satu indikator dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak yaitu anak dapat melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu terampil menggunakan tangan kanan dan kiri dalam berbagai aktivitas misalnya mengancingkan baju, menali sepatu, menggambar, menempel, menggunting, makan (Depdiknas, 2014:18)

Menurut Saputra dan Rudiyanto (2004:150) aspek-aspek yang menunjukkan  perkembangan   motorik halus anak usia dini diantaranya : 1) Anak dapat melakukan kegiatan menempel kertas sesuai bentuk yang sudah ada, 2) Anak dapat mengerjakan puzzle yaitu menyusun potongan-potongan gambar menjadi sebuah gambar yang lengkap, 3) Anak dapat menjahit sederhana. Kegiatan ini mengandalkan kekuatan otot ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Cara anak memegang benang untuk dimasukkan ke dalam lubang sama anak ketika anak memegang pensil untuk menulis, 4) Anak dapat mewarnai suatu gambar dengan lebih rapi, warna tidak keluar dari garis gambar, 5) Anak dapat mengisi bentuk pola sederhana dengan sobekan kertas atau stempel, 6) Anak dapat melakukan kegiatan berupa mengancingkan bajunya sendiri, 7) Anak dapat melakukan kegiatan menggambar berupa gerakan naik turun bersambung seperti membuat gunung atau bukit, 8) Anak dapat menarik garis lurus, lengkung dan miring sesuai dengan perintah guru., 9) Anak dapat mengekspresikan gerakan dengan irama bervariasi, 10) Anak dapat melakukan kegiatan melempar dan menangkap bola.

Menurut Sujiono (2009: 1.4) secara umum ada tiga tahap perkembangan keterampilan motorik halus pada anak usia dini, yaitu tahap kognitif, asosiatif, dan autonomous. Pada tahap kognitif anak berusaha memahami keterampilan motorik halus serta apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Tahap asosiatif anak banyak belajar dengan cara coba meralat olahan pada penampilan atau gerakan akan dikoreksi agar tidak melakukan kesalahan kembali. Tahap autonomous gerakan yang ditampilkan anak merupakan respon yang efisien dengan sedikit kesalahan dan anak sudah menampilkan gerakan secara otomatis.

Tugas-tugas perkembangan yang diharapkan dicapai pada aspek perkembangan fisik/motorik tentang anak usia 4-6 tahun sesuai dengan Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 khususnya motorik halus yaitu anak dapat : a) membuat garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/kanan, miring kiri/kanan, dan lingkaran; b) menjiplak bentuk; c) mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit; d) melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media; e) mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media; f) mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot halus (menjumput, mengelus, mencolek, mengepel, memelintir, memilin dan memeras) (Supartini, 2017:58). 

Pengertian Jumputan


Menurut Handoyo (2008:19) nama jumputan berasal dari kata “jumput”, kata ini mempunyai makna berhubungan dengan cara pembuatan kain yang dicomot (ditarik) atau dijumput (dalam Bahasa Jawa). Batik menggunakan teknik tutup celup ini sudah dikenal diberbagai belahan dunia. Batik Indonesia, terutama batik Jawa memiliki keunggulan pada desain dan komposisi warnanya yang sangat kaya.

Kata jumputan berasal dari bahasa Jawa. Menjumput berarti memungut atau mengambil dengan semua ujung jari tangan. Cara pembuatan kain jumputan sederhana dan mudah dilakukan karena tidak menggunakan lilin dan canting. Sesuai dengan namanya, jumputan dibuat dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian sesuai dengan motif yang dikehendaki, dilanjutkan mengikat, dan terakhir melakukan pencelupan ke dalam pewarna (Rini Ningsih, 2001:1).

Banu Arsana (2007:3) menyebutkan bahwa jumputan adalah salah satu teknik membuat pola dengan cara mengikat kain dengan tali pada zat warna. Oleh karena itu jumputan juga dikenal dengan teknik celup ikat. Dalam membatik, bagian yang tertutup oleh malam atau lilin ketika dicelup ke dalam cat warna tidak akan dikenai warna. Namun dalam membuat jumputan, fungsi malam atau lilin diganti dengan ikatan tali pada kain sebelum dicelup, sehingga membuat jumputan menjadi lebih mudah dan sederhana. Meskipun dengan cara sederhana, hasil kain jumputan tidak kalah indah dengan jenis kain motif yang lain.

Batik jumputan disebut juga batik celup ikat telah dikenal di masyarakat. Proses pembuatannya berbeda dengan batik tulis atau batik cap, yaitu dengan cara mengikat di beberapa bagian kain yang ingin diberi motif (Murtono, 2011:10).

Teknik jumputan berasal dari Tiongkok kemudian berkembang sampai India dan wilayah nusantara. Istilah tersebut sudah digunakan berabad-abad untuk menggunakan cara membuat desain pada kain, yang disebut jumputan (Muamalah, 2017:4).

Berdasarkan pengertian di atas menjumput berarti memungut atau mengambil dengan semua ujung jari tangan. Cara pembuatan kain jumputan sederhana dan mudah dilakukan karena tidak menggunakan lilin dan canting. Sesuai dengan namanya, jumputan dibuat dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian sesuai dengan motif yang dikehendaki, dilanjutkan mengikat, dan terakhir melakukan pencelupan ke dalam pewarna.

Batik jumputan merupakan suatu karya seni yang mempunyai nilai budaya dan nilai ekonomi tinggi. Kreativitas dalam melipat dan mengikat kain diperlukan dalam membuat pola. Semakin banyak variasi pola yang diinginkan, semakin banyak pula pola yang dihasilkan. Ikat celup/jumputan juga memiliki beranekaragam motif tergantung dengan bagaimana kita menggunakan pengikat atau menggunakan alat untuk menimbulkan corak-corak jumput pada kain tersebut.

Berbeda dari kebanyakan jumputan tercipta dari kreativitas pengrajin yang tidak pernah berhenti berinovasi. Jumputan dikerjakan dengan teknik ikat celup untuk menciptakan gradasi warna yang menarik. Teknik celup rintang, yakni menggunakan tali untuk menghalangi bagian tertentu pada kain agar tidak menyerap warna sehingga terbentuklah sebuah motif. Untuk menciptakan motif yang beragam pada kain ini, digunakanlah teknik jahit.

Cara membuat jumputan terbagi menjadi dua cara sebagai berikut :

a) Jumputan dengan Teknik Jahitan

Teknik  ini dilakukan dengan cara kain digambar pola terlebih dahulu menggunakan pensil atau kapur jahit. Langkah selanjutnya kain dijahit atau dijelujur pada garis warna dengan menggunakan benang nilon atau benang jeans, lalu benang ditarik kuat sehingga kain berkerut serapat mungkin. Pada waktu dicelup benang yang rapat akan menghalangi warna masuk ke dalam kain. Hasil jumputan teknik jelujur berupa titik-titik yang membentuk suatu pola, dapat berupa bunga bentuk geometris dan lain sebagainya sesuai motif yang dikehendaki.

b) Pembuatan Jumputan dengan Teknik Ikat

Teknik ikat merupakan teknik menjumput dengan cara ikatan, artinya media yang diikat akan menimbulkan motif. Cara mengikatnya dengan melilit-lilitkan tali, karet, rafia, atau benang sekencang mungkin agar pada saat pencelupan tidak terkena warna, sehingga setelah ikatannya dilepas akan terbentuk gambarnya. Teknik ikat dilakukan dengan memegang permukaan kain dengan ujung jari, lalu permukaan kain tersebut diikat dengan jelas, baik dengan ikatan tunggal maupun jamak. Teknik mengikat dapat dilakukan tanpa isi maupun dengan isi seperti kelereng, batu/kerikil, manik-manik, koin dan sebagainya. Bagian-bagian kain yang hendak dibiarkan tidak kena warna diikat, kemudian kain yang sudah diikat-ikat dicelupkan kedalam air dinginlalu diperas kemudian masukkan ke dalam larutan pewarna pakaian sampai terbenam seluruhnya. Kain dibiarkan dalam larutan pewarna selama satu jam kemudian diangkat dan dicuci sampai bersih lalu dijemur hingga kering

Pengertian Membatik

 


Seni batik termasuk dalam seni kriya (Seni kerajinan) atau seni rupa terapan dua dimensi, batik hampir terdapat dan dikenal di seluruh daerah nusantara. Oleh karena itu, seni batik diangkat sebagai karya seni nusantara atau budaya nasional (Kartono, 2007: 157).

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas di dalam keraton saja untuk menjadi pakaian para raja, keluarga serta para pengikutnya (Nenden, 2008:2).

Kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, dari kata “amba” yang berarti menggambar dan “tik” yang berarti kecil. Seperti misalnya terdapat dalam kata-kata Jawa lainnya yakni “klitik” (warung kecil), “bentik” (persinggungan kecil antara dua benda), “kitik” (kutu kecil) dan sebagainya (Teguh Suwarto, dkk, 1998: 8).

Menurut terminologinya batik adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan alat canting atau sejenisnya dengan bahan lilin sebagai penahan masuknya warna. Batik adalah gambaran atau hiasan pada kain atau bahan dasar lain yang dihasilkan melalui proses tutup-celup dengan lilin yang kemudian diproses dengan cara tertentu (Suyanto, 2002:2).

Membatik adalah sebuah teknik menahan warna dengan lilin malam secara berulang-ulang di atas kain. Lilin malam digunakan sebagai penahan untuk memecahkan agar warna tidak menyerap ke dalam serat kain di bagian-bagian yang tidak dikehendaki (Pandana, 2013:3).

Menurut Asti M. dan Ambar B. Arini (2011: 1) berdasarkan etimologi dan terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik berasal dari kata titik. Jadi, membatik artinya melempar titik berkali-kali pada kain.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Nian S Djumena: “Membatik pada dasarnya sama dengan melukis di atas sehelai kain putih. Sebagai alat melukis dipakai canting dan sebagai bahan melukis dipakai cairan malam. Canting terdiri dari mangkok kecil yang mempunyai carat dengan tangkai dari bambu. Carat mempunyai berbagai ukuran, tergantung dari besar kecilnya titiktitik dan tebal halusnya garis-garis yang hendak dilukis. Kegunaan mangkok kecil adalah sebagai tempat cairan malam. Sesudah kain yang dilukis atau ditulisi dengan malam, lalu dihilangkan atau dilorod, maka bagian yang tertutup malam akan tetap putih, tidak menyerap warna. Ini disebabkan karena malam berfungsi sebagai perintang warna (cat). Karena itu cara pembuatan ini didunia pertekstikan dinamakan dengan teknik resist dye atau pencelupan rintang. Teknik resist dye sudah lama dikenal diberbagai negara. Pada umumnya sebagai bahan perintang warna dipakai berbagai jenis bubur terbuat dari gandum, beras ketan dan parafin, dan sebagai alat melukis dipakai berbagai bentuk alat, antara lain kuas (Djumena, 2010:1).

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa batik merupakan suatu seni menghias kain dengan menggambar pola-pola tertentu di atas kain dengan menggunakan malam

Kemampuan Motorik Kasar Melalui Seni Tari

 


Pembelajaran motorik dapat diartikan sebagai proses belajar keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik, serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran maupun keahlian motorik. Aspek pembelajaran motorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan dengan tindakan atau perilaku yang ditampilkan oleh para siswa setelah menerima materi tertentu dari guru. Artinya mereka bertindak atau berperilaku berdasarkan pengetahuan dan perasaan (Decaprio, 2013:16).

Untuk pertama kalinya, dalam pembelajaran motorik bagi anak, guru mesti melalui tahapan pendahuluan atau yang lazim disebut keterampilan motorik pengantar. Kegiatan ini dilaksanakan dengan berbagai tujuan sebagai berikut: 1) Menaikkan motivasi dan antusiasme anak. Mereka akan merasa bersemangat dengan adanya keterampilan motorik pengantar yang diajarkan oleh guru sebelum melangkah ke pembelajaran motorik yang lebih tinggi. Selain itu mereka juga semakin penasaran terhadap langkah-langkah berikutnya; 2) Pemberian keterampilan motorik pengantar oleh guru dalam pembelajaran motorik juga bisa menyiapkan anak, baik secara jasmani maupun rohani, agar dapat mengikuti pembelajaran motorik dengan baik dan profesional, 3) Pemberian keterampilan motorik pengantar juga bertujuan untuk menghindari kesalahan yang berdampak fatal dalam pembelajaran motorik (Decaprio, 2013:179-180).

Setelah guru memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan praktik pembelajaran inti dengan segala kriteria yang telah dijelaskan sebelumnya, maka langkah berikut adalah mengevaluasi pembelajaran motorik secara keseluruhan. Dalam evaluasi pembelajaran motorik, diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran motorik yang sedang dievaluasi.

Pendidikan seni sebagai mata pelajaran di sekolah didasarkan pada: Pertama, pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti seni bertujuan mengembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai cara seperti melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan paduannya.

Selain bernyanyi dan bereksplorasi dengan alat musik, kegiatan lain dalam musik adalah gerak dan lagu serta menari. Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan dari seni musik yang beragam jenisnya, sehingga tidak semua kegiatan tari appropriate (berkesesuaian) bagi anak. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan.Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan bagi anak, dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami.

Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru ataupun orangtua adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak saat ingin menari. Memaksakan atau menekan anak untuk menunjukkan suatu gerakan tari, terlebih harus sempurna, hanya akan membuat kondisi menjadi semakin buruk dan tidak mengembangkan kreativitas mereka.

Gerak merupakan sarana ekspresi dan mengalihkan ketakutan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan, dan sebagainya. Gerak juga merupakan ekspresi pembebasan dari belenggu ketidakberdayaan, simbolis khususnya pada anak-anak mereka mengekspresikan dirinya secara langsung dan efektif melalui gerakan. Gerak yang erat hubungannya dengan musik merupakan isyarat yang ekspresif dan membebaskan diri dari ketegangan melalui gerakan-gerakan ritmis sehingga dalam penanganan anak yang berperilaku agresif, media gerak ritmis dapat menyalurkan emosi-emosi negatif dengan cara yang lebih dapat diterima oleh lingkungannya (Mutiah, 2010:168-169) .

Menurut Kamtini dan Tanjung (2005:10) bahwa secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karakteristik gerak fisik anak TK adalah bersifat sederhana, bersifat maknawi dan bertema, artinya tiap gerak mengandung tema tertentu, gerak anak menirukan gerak keseharian orang tua dan juga orang-orang yang berada di sekitarnya, anak juga menirukan gerak-gerak binatang.

Keterampilan gerak tari bukanlah tujuan utama namun pengembangan berbagai aspek kreativitas pada diri siswa merupakan orientasi yang dilaksanakan dalam proses pembelajarannya. Tujuan utama dari tari adalah membantu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan anak melalui tari untuk menemukan hubungan antara tubuhnya dengan seluruh eksistensinya.

Pendidikan seni tari memiliki peranan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Seni tari pada lingkungan sekolah membantu anak untuk berekspresi secara bebas. Dengan kata lain menurut Rohendi (2000:33) “seni sebagai media dalam pendidikan untuk meningkatkan kreativitas anak”. Melalui pendidikan seni tari, potensi yang dimiliki siswa sejak lahir untuk bergerak secara bebas dapat dikembangkan secara optimal.

Tujuan dari pembelajaran dengan menggunakan tarian yang dilakukan secara bertahap adalah : 1) Anak dapat memahami instruksi yang dapat diberikan, 2) Anak dapat meniru gerakan sesuai dengan contoh yang diberikan, 3) Anak dapat membentuk gerakan sesuai dengan irama musik, 4) Anak dapat mengembangkan imajinasinya dengan variasi gerakannya, 5) Anak dapat merangsang pancainderanya melalui sentuhan, pendengaran, penciuman, penglihatan, dan perasaannya, 6) Anak dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan alur cerita, 7) Berinteraksi dan berpartisipasi di dalam kelompok, 8) Anak mampu mengordinasikan tubuh, ucapan, dan musik, 9) Anak membuat kreasi gerakan sendiri yang sesuai dengan irama musik dan alur cerita, 10) Anak tidak canggung untuk tampil menari dan menyanyi dihadapan publik, 11) Anak memahami nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita  (Mutiah, 2010:176-177).

Pengertian Seni Tari Tradisional

 


Tari adalah gerak tubuh manusia. Ciri khas gerak tari adalah gerak yang sudah diolah dari aspek tenaga, ruang dan waktu. Seni tari merupakan ungkapan ekspresi manusia yang dinyatakan melalui gerak-gerak tubuh yang indah serta mampu memberikan aktivitas fisik dan rasa keindahan yang tertuang melalui gerak.

Seni tari merupakan salah satu bagian dari pendidikan seni yang terdapat dalam program pembelajaran. Pendidikan seni dengan pendekatan kompetensi sebagai salah suatu alternatif solusi dan antisipasi pada persaingan global yang kompetitif. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan atau kompetensi untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu (ability to do something) (Masunah, 2003:5).

Seni tari tradisional merupakan tarian yang lahir dari kaum bangsawan atau dari dalam keraton dan lahir pada zaman raja-raja. Tarian jenis ini hanya berkembang di lingkungan tertentu, bahkan masyarakat biasa dilarang menarikannya. Tari tradisional (klasik) memiliki aturan-aturan yang tertulis, karena dikembangkan secara turun temurun di lingkungan keraton (Jawa). Contoh yang termasuk tari tradisional antara lain tari Bedaya, Srimpi, Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, dan Badindin.

Tari Badindin merupakan salah satu kesenian tari yang berasal dari Minangkabau. Tari Badindin bertujuan untuk keperluan dakwah Islam. Tarian ini sesungguhnya suatu bentuk sastra lisan yang disampaikan secara berkelompok sambil berdendang dan memainkan rebana kecil. Tari Badindin diciptakan oleh Rapa’i yang merupakan pengikut setia Syekh Burhanuddin.

Pengertian Motorik Kasar

 


Sujiono (2007: 12) menyatakan bahwa motorik kasar ialah gerakan fisik yang melibatkan otot-otot besar seperti otot lengan, otot kaki, dan otot leher. Secara alamiah seiring dengan peningkatan dan bertambahnya usia anak lima tahun sampai dewasa akan diikuti bertambahnya keterampilan gerak motorik anak. Hurlock (1978: 50) menyatakan bahwa pada anak usia 4 sampai 5 tahun pertama kehidupan pasca lahir anak dapat mengendalikan gerakan kasar. Gerakan tersebut melibatkan bagian badan yang luas dan digunakan untuk berjalan, loncat, lompat, lari dan sebagainya. Setelah 5 tahun terjadi perkembangan yang besar dalam pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kelompok otot yang lebih kuat.

Motorik kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh motorik kasar diperlukan agar anak dapat duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya (Sunardi, 2007:113-114). Perkembangan motorik kasar anak lebih dulu dari pada motorik halus, misalnya anak akan lebih dulu memegang benda-benda yang ukuran besar dari pada ukuran yang kecil.

Pengertian Kemampuan

 


Donald (Sardiman, 2009:73-74) mengemukakan kemampuan adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya pikiran dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Menurut Hamalik (2008:162) kemampuan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut : 1) Kemampuan intrinsik adalah kemampuan yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. 2) Kemampuan ekstrinsik adalah kemampuan yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional.

Mampu adalah cakap dalam menjalankan tugas, mampu dan cekatan. Kata kemampuan sama artinya dengan kecekatan. Mampu atau kecekatan adalah kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan dengan cepat dan benar. Seseorang yang dapat melakukan dengan cepat tetapi salah tidak dapat dikatakan mampu. Spencer and Spencer dalam Hamzah Uno (2010: 62) mendefinisikan kemampuan sebagai “Karakteristik yang menonjol dari seseorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan/superior dalam suatu pekerjaan atau situasi”.

Poerwadarminta (2007: 742) mempunyai pendapat lain tentang kemampuan yaitu mampu artinya kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Pendapat lain dikemukakan juga oleh Nurhasnah (2007: 552) bahwa mampu artinya (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan artinya kesanggupan, kecakapan. Sehubungan dengan hal tersebut Tuminto (2007: 423) menyatakan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan atau kekuatan.

Monday, November 16, 2020

Daya Saing

 


Porter (1995:5) mengatakan bahwa  competition is at the core of the success or failure of firms. Persaingan adalah inti dari kesuksesan atau kegagalanperusahaan.Terdapat dua sisi yang ditimbulkan oleh persaingan, yaitu sisi kesuksesan karena mendorong perusahaanperusahaan untuk lebih dinamis dan bersaing dalam menghasilkan produk serta memberikan layanan terbaik bagi pasarnya, sehingga persaingan dianggapnya sebagai peluang yang memotivasi. Sedangkan sisi lainnya adalah kegagalan karena akan messmperlemah perusahaan perusahaan yang bersifat statis, takut akan persaingan dan tidak mampu menghasilkan produk-produk yang berkualitas sehingga persaingan merupakan ancaman  bagi perusahaannya. Menurut Muhardi (2007:39) Daya saing operasi merupakan fungsi operasi yang tidak saja berorientasi ke dalam (internal) tetapi juga keluar (eksternal), yaknimerespon pasar sasaran usahanya dengan proaktif.

Tokoh yang terkenal berperan penting dalam membidani lahirnya model daya saing ini adalah Michael E.Porter.Dalam Bukunya yang berjudul Competitive Strategy,Porter (1980:136-137) memandang adanya lima kekuatan penting merupakan pembentuk dari industry.lima kekuatan tersebut adalah:

1.        Kekuatan relatif pelanggan

2.        Kekuatan relatif pemasok

3.        Ancaman produk pengganti (substitute product)

4.        Ancaman pengikut baru,dan

5.        Jumlah kegiatan pesaing dalam industry                                                                                                        

Selain Lima kekuatan diatas, terdapat  satu kekuatan lain yang tidak kalah penting dalam membentuk suatu industry, kekuatan tersebut adalah” exit barrier”.yaitu hambatan yang akan menghalangi perusahaan untuk meninggalkan indsutri,dimana kekuatan ini mempengaruhi keberhasilan dibeberapa industry (Harrigan,1981:137).

 

Konsep Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

 


Bauran pemasaran (marketing mix) adalah variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan yang terdiri dari produk, harga, distribusi, dan promosi (Anoraga, 2004:220). Bauran pemasaran adalah sebuah peta ide dari strategi pemasaran yang perlu dipikirkan oleh perusahaan untuk mewujudkan strategi pembeda yang telah ditentukan, bauran pemasaran terdiri dari produk yang dijual, strategi promosi, penentu harga produk, dan tempat yang digunakan. Marketing Mix yaitu kegiatan mengkombinasikan berbagai kegiatan marketing agar dicapai kombinasi yang maksimal dan hasil yang memuaskan. Ada empat elemen yang tercakup dalam bauran pemasaran ini yang dikenal dengan elemen 4P yang terdiri dari product, price, place dan promotion (Hendro, 2011:89).

Menurut Willam J. Stanton, marketing mix a total system business designed to plan, price, promote, and distribute want satisfying product to target market of achieve organizational objective (bauran pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan (Sunyoto, ) .

Manajemen pemasaran dikelompokkan dalam empat aspek yang sering dikenal dengan marketing mix atau bauran pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong (2004:78) bauran pemasaran (marketing mix) adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkannya di pasar sasaran. Bauran pemasaran terdiri dari empat kelompok variabel yang disebut “empat P”,yaitu:

1. Product/Produk

Produk berarti kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pasar sasaran. Elemen-elemen yang termasuk dalam bauran produk antara lain ragam produk, kualitas, design, fitur, nama merek, kemasan, serta layanan. Produk merupakan kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada para sasaran. Dalam mengembangkan bauran pemasaran, suatu produk disini meliputi : ragam, kualitas, desain, fitur,kemasan dan nama merk. Produk adalah objek yang sangat vital yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mendatangkan tingkat keuntungan atau laba yang akan tetap menjaga aktivitas operasional dan kesehatan keuangan perusahaan.

Produk (product) adalah seperangkat atribut fisik, pelayanan dan atribut simbolis yang dirancang untuk memberikan kepuasan terhadap pelanggan. Dalam srtategi marketing mix, strategi produk merupakan unsur yang paling penting, karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran lainnya. Strategi produk dapat mencangkup keputusan tentang acuan/bauran produk, merk dagang (brand), cara pembukusan/kemasan produk, tingkat mutu/kualitas produk dan pelayanan (service) yang diberikan.

Tujuan utama startegi produk adalah untuk dapat mencapai sasaran pasar yang dituju dengan meningkatkan kemampuan bersaing atau mengatasi persaingan (Rianto, 2010:16). Produk secara garis besar dapat dibagi menjadi produk barang dan produk jasa. Produk barang yaitu produk yang nyata seperti produk kendaraan bermotor, komputer, alat elektronik dan produk lainnya yang bersifat konkret. Sementara produk jasa bersifat abstrak namun manfaatnya dapat dirasakan, seperti pelayanan kesehatan, bank, dan produk jasa lainnya

2. Price/Harga

Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk memperoleh produk. Harga adalah satu-satunya unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, sedangkan unsur-unsur lainnya menghasilkan biaya. Harga adalah unsur bauran pemasaran yang paling mudah disesuaikan dan membutuhkan waktu yang relatif singkat, sedangkan ciri-ciri produk, saluran distribusi, bahkan promosi membutuhkan lebih banyak waktu.

Harga merupakan jumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk memperoleh suatu produk. Dalam mengembangkan bauran pemasaran, suatu produk disini meliputi : harga relatif, daftar harga discount, potongan harga, periode pembayaran dan persyaratan kredit dan lain-lain. Harga dalam bauran pemasaran merupakan suatu nilai tukar sebuah barang atau jasa. Harga juga membantu mengarahkan berbagai aktivitas dalam keseluruhan sistem ekonomi, harga dan volume penjualan menentukan penghasilan, dan laba yang diterima oleh perusahaan.

Dalam penetapan harga perlu dipehatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah harga bahan baku, biaya produksi, biaya pemasaran, adanya peraturan pemerintah, dan faktor lainnya. Faktor yang tidak langsung namun erat hubungannya dalam penetapan harga adalah produk sejenis yang dijual oleh pesaing, pengaruh harga terhadap hubungan antara produk subsitusi dan produk komplamenter, serta potongan discount untuk para penyalur konsumen (Sunyoto, 2014,151).

3. Place/Tempat

Tempat atau saluran pemasaran meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran. Saluran distribusi adalah rangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Saluran distribusi dapat didefinisikan sebagai himpunan perusahaan dan perorangan yang mengambil alih hak atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa tertentu selama barang atau jasa tersebut berpindah dari produsen ke konsumen (Kotler dan Amstrong, 2005:63).

Menurut Suhardi Sigit saluran distribusi adalah perantara-perantara, para pembeli dan penjual yang dilalui oleh perpindahan barang baik fisik maupun perpindahan milik sejak dari produsen hingga ketangan konsumen (Sunyoto, 2014:172). Tempat atau saluran distribusi merupakan elemen bauran pemasaran yang ketiga, yaitu meliputi kegiatan prusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran yang meliputi antara lain: saluran distribusinya, pemilahan lokasi, persediaan, transportasi dan cakupan logistik (Kotler, 2005:63).

Penyaluran merupakan suatu kegiatan penyampaian produk sampai ke tangan si pemakai atau konsumen pada waktu yang tepat. Oleh karena itu, kebijakan penyaluran merupakan penentuan saluran pemasaran (marketing channels) dan distribusi fisik (physical distribution). Kedua faktor ini mempunyai hubungan yang sangat erat dalam keberhasilan penyaluran dan sekaligus keberhasilan pemasaran produk perusahaan (Assauri, 2011:233-234).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari keutusan mengenai tempat yaitu, sebagai berikut:

1) Sistem transportasi perusahaan

2) Sistem penyimpanan

3) Pemilihan saluran distribusi (Rianto, 2010:16).

Termasuk dalam sistem transportasi antara lain keputusan tentang pemilihan alat transportasi, penentuan jadwal pengiriman, rute yang harus ditempuh dan seterusnya. Dalam sistem penyimpanan harus menentukan letak gudang yang baik untuk menyimpan bahan baku maupun lokasi menyimpan barang jadi, peralatan dan lainnya. Sedangkan pemilihan saluran distribusi menyangkut keputusan tentang pengguna penyalur (pedagang besar, eceran, dll) dan bagaimana menjalin kerja yang baik dengan penyalur.

Menurut William J. Stanton saluran distribusi untuk barang konsumsi meliputi :

1) Produsen ke Konsumen

Produsen menggunakan saluran langsung dengan penjualnya atau langsung dengan menjumpai kosumennya bisa melalui kios terdekat, rumah kerumah atau melalui pos.

2) Produsen-Pengecer-Konsumen

Banyak pengecer besar bertindak sebagai perantara sekaligus sebagai pengecer dan juga sebagai penyalur barang langsung.

3) Produsen-Pedagang Besar-Pengecer-Konsumen

Didalam pasar konsumen, mereka merupakan pedagang grosir atau pedagang besar sekaligus pengecer.

4) Produsen-Agen-Pengecer-Konsumen

Produsen juga menggunakan perantara agen untuk mencapai para pengecer besar (supermarket) maupun pedagang kecil (toko kecil) di pasar.

5) Produsen-Agen-Pedagang Besar-Pengecer-Konsumen

Untuk mencapai pengecer kecil, produsen sering menggunakan perantara agen dengan menggunakan pedagang besar untuk menyalurkan ke para pengecer kecil (Sunyoto, 2014,151).

4. Promotion/Promosi

Menurut A. Hamdani promosi merupakam salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk. Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunkasi antar perusahaan dengan konsumen, melainkan juga sebagai alat untk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan produk sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya (Sunyoto, 2014,151).  Promosi merupakan aktivitas yang menyampaikan manfaat produk dan membujuk pelanggan untuk membelinya.

Promosi berarti aktivitas yang menyampaikan produk dan membujuk pelanggan untuk membelinya. Definisi promosi menurut Kotler (2005) adalah berbagai kegiatan yang dilakukan oleh  produsen untuk mengomunikasikan manfaat dari produknya, membujuk, dan mengingatkan para konsumen sasaran agar membeli produk tersebut. Secara rinci tujuan promosi menurut Tjiptono (2008: 221-222) adalah sebagai berikut:

a. Menginformasikan

b. Membujuk pelanggan sasaran

c. Mengingatkan

Promosi merupakan sarana yang paling ampuh untuk menarik dan mempertahankan konsumennya. Salah satu tujuan promosi perusahaan adalah menginformasikan segala jenis produk yang ditawarkan dan berusaha menarik calon konsumen yang baru. Paling tidaknya terdapat 4 macam saran promosi yang dapat digunakan oleh setiap perusahaan dalam mempromosikan produknya, baik barang maupun jasa. Keempat macam sarana yang digunakan adalah usaha perusahaan untuk mempengaruhi dengan merayu (persuasive communication) calon pembeli, melalui pemakaian segala unsur acuan pemasaran disebut promosi.

 

Keempat unsur tersebut yaitu:

1)        Periklanan (advertising),

Iklan adalah sarana promosi yang digunakan oleh perushaan guna menginformasikan, menarik, dan mempengaruhi calon pembelinya. Penggunaan promosi dengan klan dapat dilakukan dengan berbagai media seperti lewat:

a) Pemasangan bilboard dijalan-jalan strategis.

b) Pencetakan brosur baik disebarkan disetiap cabang atau pusat-pusat perbelanjaan.

c) Pemasangan spanduk di lokasi tertentu yang strategis.

d) Pemasangan melalui koran.

e) Pemasangan melalui majalah.

f) Pemasangan melalui televisi .

g) Pemasangan melalui radio.

h) dan menggunakan media lainnya.

2) Promosi Penjualan (Sales Promotion)

Tujuan promosi penjualan adalah meningkatkan penjualan atau untuk meningkatkan jumlah pembeli. Promosi penjualan dilakukan untuk menarik pembeli agar segera membeli setiap produk atau jasa yang ditawarkan. Oleh karena itu, agar pembeli tertarik untuk membeli maka perlu dibuatkan promosi penjualan yang semenarik mungkin.

3) Publisitas (Publicity)

Publisitas merupakan kegiatan promosi untuk memancing pembeli melalui kegiatan seperti pameran, bakti sosial, serta kegiatan lainnya melalui berbagai media. Kegiatan publisitas dapat meningkatkan pamor perusahaan dimata para konsumennya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, kegiatan publisitas perlu diperbanyak lagi.

4) Penjualan Pribadi (Personal Selling)

Personal selling, merupakan penyajian secara lisan dalam suatu pembicaraan dengan seseorang atau lebih calon pembeli dengan tujuan agar dapat terealisasinya penjualan. Di dalam perusahaan penjualan pribadi secara umum dilakukan oleh seluruh karyawan (Kasmir, 2010:222-224).

 

Menurut Philip Kotler bauran promosi terdiri dari lima unsur utama yaitu:

1)        Pengiklanan, adalah bentuk persentase dan promosi ide, barang atau jasa secara non personal oleh sponsor yang teridentifikasi. Bentuk periklanan misalnya adalah brosur, poster, billboard, bentuk audio visual melalui media televisi, logo atau simbol dan sebagainya.

2)        Hubungan masyarakat, adalah suatu program yang didesain untuk mempromosikan atau melindungi image perusahaan atau produk secara individual. Misalnya melalui seminar, sponsor keguatan, donatur dan lain sebagainya.

3)        Pemasaran langsung, adalah penggunaan saluran langsung konsumen untuk menjangkau dan mengirimkan barang dan jasa kepada pelanggan tanpa menggunakan perantara pemasaran. Pemasaran langsung dapat menggunakan sejumlah saluran untuk menjangkau calon pelanggan dan pelanggan perorangan, seperti pemasaran katalog surat langsung, kios, situs web dan lain sebagainya.

4)        Pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth), adalah komunikasi lisan dan elektronik antar masyarakat yang berhubungan dengan keunggulan atau pengalaman membeli atau menggunakan produk dan jasa. Pelanggan akan berbicara dengan pelanggan lain atau masyarakat lainnya tentang pengalamannya menggunakan produk yang dibelinya (Anoraga, 2004:222).

 

Perumusan Strategi Pemasaran

 


Merumuskan strategi pemasaran berarti melaksanakan prosedur tiga langkah secara sistematis, bermula dari strategi segmentasi pasar, strategi penentuan pasar sasaran, dan strategi penentuan posisi pasar. Ketiga strategi tersebut adalah kunci di dalam manajemen pemasaran:

1. Strategi Segmentasi Pasar                   

Segmentasi pasar adalah proses membagi pasar ke dalam kelompok pembeli yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan, karakteristik, ataupun, perilaku yang membutuhkan bauran produk dan bauran pemasaran tersendiri. Atau dengan kata lain segmentasi pasar merupakan dasar untuk mengetahui bahwa setiap pasar terdiri atas beberapa segmen yang berbeda-beda. Segmentasi pasar adalah proses menempatkan konsumen dalam sub kelompok di pasar produk, sehingga para pembeli memiliki tanggapan yang hampir sama dengan strategi pemasaran dalam penentuan posisi perusahaan. (Setiadi. 2003:55).

2. Strategi Penentuan Pasar Sasaran.

Pemilihan besar atau luasnya segmen sesuai dengan kemampuan suatu perusahaan untuk memasuki segmen tersebut. Sebagian besar perusahaan memasuki sebuah pasar baru dengan melayani satu segmen tunggal, dan jika terbukti berhasil, maka mereka menambah segmen dan kemudian memperluas secara vertikal atau secara horizontal. Dalam menelaah pasar sasaran harus mengevaluasi dengan menelaah tiga faktor (Umar, 2001:46):

 

a. Ukuran dan pertumbuhan segmen

b. Kemenarikan struktural segmen

c. Sasaran dan sumber daya                            

3. Strategi Penentuan Pasar Sasaran

Penentuan posisi pasar (positioning) adalah strategi untuk merebut posisi dibenak konsumen, sehingga strategi ini menyangkut bagaimana membangun kepercayaan, keyakinan, dan kompetensi bagi pelanggan.

Menurut Philip Kotler, positioning adalah aktifitas mendesain citra dan memposisikan diri di benak konsumen. Sedangkan bagi Yoram Wind, positioning adalah bagaimana mendefinisikan identitas dan kepribadian perusahaan di benak pelanggan.

About

About

loading...

Hakikat Kemampuan Anak Taman Kanak-Kanak dalam Berhitung

Salah satu unsur yang ada didalam matematika adalah kemampuan berhitung. Menurut Copley (2001:55) berhitung merupakan komponen penting dal...

Search This Blog

Translate